9 Nov 2008

Tradisi Pindapatta

Amrta Bagi-Bagi Sembako


KOTA JAMBI - Sebagai wujud rasa keperduli sesama umat manusia, Minggu kemarin (9/11) Vihara Amrta Jambi yang beralamat di Jalan Untung Surupati, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mengelar bakti sosial dengan membagi-bagikan 600 paket sembako kepada masyarakat/ Kepala Keluarga (KK) di sebelas Rukun Tetangga (RT), sembako yang dibagikan kepada masyarakat tersebut terdiri dari beras 2.5 kilogram dan mie instran sebanyak 8 bungkus.

Pembagian sembako tersebut langsung dipimpin oleh Sramanera Sakya Sugata di halaman Vihara Amrta Jambi. Adapun bakti sosial tersebut selain membantu masyarakat yang kurang beruntung (mampu) juga sekaligus memperingati Hari Kathina 2552 BE/2008.

Ujar Sramanera Sakya Sugata, bahwa sembako yang dibagi janganlah dilihat darijumlah banyak dikitnya yang dibagi, melainkan kita bagi-bagikan secara merata, hingga semua warga yang kurang beruntung bisa kebagian, sembako tersebut merupakan sumbangan dari umat Buddha yang dihimpun oleh Yayasan Amrta Jambi beberapa waktu yang lalu
(Romy - Perwakilan Majalah DI Wilayah Jambi)

Bagi Sembako Kepada Warga Kurang Mampu



Siswa-siswi Sariputera Rayakan Hari Kathina 2552BE

KOTA JAMBI – Walaupun hujan turun rintik-rintik membasahi bumi Kota Jambi yang dijuluki sebagai ” Tanah Pilih Pesako Betuah ”, namun tidak menyulutkan niat ratusan Pelajar Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Sariputera Jambi untuk merayakan Hari Besar Agama Buddha, yaitu memperingati Hari Kathina 2552 BE/2008, sejak pukul 07.00 pagi dengan antusias anak-anak Sekolah Sariputera Jambi terdiri dari anak laki-laki dan perempuan telah membanjiri Aula SD Sariputera Jambi dibilangan Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi untuk mengikuti upacara Perayaan Hari Kathina yang dipimpin oleh Bhikkhu Nyanajaya Bhumi.

Prosesi Perayaan Hari Kathina diawali dengan barisan Amisha Puja yang dibawakan oleh pelajar sekolah dasar sariputera, adapun Amisha Puja terdiri dari Lilin, Air, Buah-Buahan, Dupa/Gaharu dan Bunga. Menurut Balla Mitta, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi, bahwa makna dari LILIN symbol Penerangan, AIR symbol Kesucian/ Kerendahan hati, BUAH-BUAHAN symbol Karma/ Hasil perbuatan, DUPA/ GAHARU symbol Keharuman dan BUNGA symbol Ketidak Kekalan.

Setelah itu Bhikkhu Nyana Bhumi Pembabarkan Dhammadesana (ceramah red), seusai itu paduan suara dari siswa –siswi Sekolah Sariputera Jambi, terus penyerahan dana Kathina kepada Bhikkhu Sangha dan yang terakhir pemercikan air suci kepada anak-anak.

Suasana kegembiraan mewarnai siswa – siswi Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Sariputera Jambi, hal tersebut dapat dilihat dimana himbauan Pengurus Generasi muda Buddhis Sakyakirti Jambi (GBSJ) anak-anak tersebut antri, namun tampaknya himbauan tersebut tidak dihiraukan, karena mereka tidak sabar ingin cepat-cepat mempersembahkan dana kepada Bhikkhu Sangha, ujar salah seorang anak SD Sariputera yang ditangannya memegang amplop berisi uang untuk dipersembahkan kepada Bhante, “ini uang jajan saya yang dikumpulkan selama satu minggu”.

Rasa haru dan bangga melihat ratusan siswa-siswi memberikan dana berupa uang yang telah diamplopkan, ada juga yang dipersembahkan berupa bingkisan, bahkan ada beberapa pelajar yang tidak lagi sempat lagi masukan uang kedalam amplop/angpau dan mereka berikan dengan hormat, tulus dan bahagia (Romy - Perwakilan Majalah DI Wilayah Jambi).

Selayang Pandang Prosesi Perayaan Kathina


5 Nov 2008

Ratusan Umat Buddha Jambi Melepaskan Satwa Ke Alam Bebas

MUARO JAMBI – Rabu (05/11) bertepatan dengan Perayaan Hari Kathina 2552BE/2008, ratusan umat Buddha Kota Jambi dan sekitarnya, Vihara Sakyakirti Jambi yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, kembali mengadakan acara Fang Shen atau pelepasan ribuan satwa ke habitat aslinya (alam bebas), diantara satwa (binatang) yang dilepaskan adalah ratusan ekor kura-kura, ratusan ikan lele dan belut serta ratusan ekor burung.

Sebelum menuju kelokasi Fang Shen pelepasan satwa (binatang) ke alam bebas di Sungai Batanghari Jambi, terlebih dahulu dilakukan upacara kebaktian bersama dihalaman Vihara Sakyakirti Jambi, prosesi kebaktian dipimpin langsung oleh Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi beserta ratusan umat Buddha, setelah makan siang rombongan baru menuju kelokasi Fang Shen yaitu galangan kapal PT. Naga Cipta Central, Jalan Pelabuhan Talang Duku, di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Setiba disisi sungai Batanghari, Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi kembali melakukan pembacaan doa-doa agar satwa (binatang) yang dilepaskan kealam aslinya,
selanjutnya kura-kura yang telah dibacakan doa dilepaskan oleh Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi dan juga penaburan bunga-bunga ke sungai Batanghari, setelah itu disusul umat yang hadir melepaskan satwa sambil tak henti-hentinya membacakan doa.

Setelah selesai pelepasan satwa, Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi, kepada sejumlah wartawan, mengatakan “ bahwa setiap mahluk hidup berkeinginan hidup yang bahagia, seperti keinginan kita (baca insan red) yang ingin hidup dalam kebahagian, sedangkan dengan melepaskan satwa ke habitan aslinya secara tidak langsung kita telah menyelamatkan satwa dari kepunahan “.

Tujuan Fang Shen, sesungguhnya adalah agar sebagai insan manusia tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup (sila pertama), dan tidak melakukan perbuatan jahat dengan merenggut kehidupan makhluk lain. Bahkan, setelah melepaskan diri dari melakukan kejahatan pembunuhan makhluk hidup, lebih jauh lagi adalah dengan memperbanyak berbuat kebajikan, yakni membebaskan makhluk-makhluk hidup yang menderita, kapan saja dan di mana saja hal tersebut dapat dilakukan.

Fang Shen adalah pembuatan yang sangat dimuliakan oleh Sang Pencipta Alam Semesta, yakni berharap agar semua makhluk hidup diatas bumi dapat berbahagia dan terlepas dari penderitaan, ini menunjukkan bahwa kita telah mulai memasuki tahap penyucian hati dan pikiran, sehingga niat-niat jahatpun tidak akan mendapat tempat dalam batin kita.

Pembunuhan, apapun bentuknya, adalah perbuatan yang tidak baik untuk dilakukan karena pembunuhan berarti mengakhiri kehidupan makhluk lain. Jika kita sebagai manusia memiliki hasrat untuk hidup, serta tidak ingin kehidupan kita diambil, demikian juga yang dirasakan dan diinginkan oleh makhluk lain. Hal ini tidak dapat dipungkiri, tapi mungkin kita berusaha mengingkarinya dengan mengutamakan kepentingan diri kita di atas kepentingan makhluk lain.

Selain itu, Buddha juga mengajarkan lima aturan moral (sila) yang dikenal dengan Panca Sila Buddhis. Kelima sila tersebut adalah bahwa seorang umat Buddha bertekad melatih diri menghindarkan diri dari (1) Membunuh makhluk hidup, (2) Perbuatan pencurian, (3) Perbuatan asusila, (4) Ucapan yang tidak benar, (5) Minuman yang menyebabkan kesadaran berkurang (mabuk).

Fang Sheng adalah perluasan dari sila untuk tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup serta menjadi sebuah solusi untuk mengembalikan ekosistem sehingga kepunahan spesies-spesies karena ulah manusia dapat dihindarkan (Romy - Perwakilan Majalah DI Wilayah Jambi).

Fang Shen Menyelamatkan Makhluk Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

GAMBAR ATAS : Prosesis kebaktian sebelum Fang Shen
GAMBAR BAWAH : Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi melepaskan
burung ke alam bebas.
GAMBAR ATAS : Ratusan umat mengikuti prosesi Fang Shen
disungai Batanghari Jambi dan kura-kura yang menanti kebebasan
GAMBAR BAWAH : Prosesi Fang Shen di Pimpin oleh Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi
Fang Shen diawali oleh Bhikkhu Nyana Jaya Bhumi
dan diikuti umat Buddha lainnya
Satwa yang dilepaskan kembali ke habitan aslinya
( alam bebas )