3 Apr 2010

Dimana Saja Bisa Main Xiangqi

JAMBI – Permainan Xiangqi (Catur Gajah) yang berasal dari daratan Tiongkok sejak ribuan tahun silam, kini menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan setiap tahun.

Pertandingan tersebut merupakan agenda tahunan dari Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) yang diselenggarakan secara bergilir dari satu pengprov ke pengprov lainnya, pertandingan tersebut dinamakan Kejuaraan Nasioanl Xiangqi (Kejurnas) dengan tujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan Pengprov PEXI dalam pembinaan, juga sebagai ajang mencari bibit pemain yang akan diorbitkan sebagai pemain nasional PB PEXI.

Sebagian orang masih beranggapan permainan Xiangqi (catur Gajah) hanya dimainkan oleh kalangan masyarakat Tionghoa yang dimainkan di warung-warung kopi, tempat ibadah umat Khonghucu seperti di klenteng-klenteng. Ternyata pemikiran tersebut tidak seratus persen benar, karena bagi seorang pengemar Xiangqi, bisa saja bermain dimana saja, tidak mesti diwarung kopi maupun klenteng.

Seperti tampak dalam gambar, ada beberapa pengemar Xiangqi yang berasal dari Jateng tengah bermain Xiangqi dipikir jalan, sangking asiknya mereka bermain, merekapun lupa dengan waktu. hingga bermain sampai dini hari ditemani segelas kopi dan makanan kecil yang dijual dipinggir jalan Jakarta. (rom)

Generasi Muda Harapan Bangsa

JAMBI - Anak adalah penerus bangsa dan merupakan harapan orangtua, sebagai orang tua kita harus memantau kegiatan anak kita se dini mungkin. Mereka sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya jika tidak diperhatikan bisa mengubah sikap mental dan psikologi anak tersebut.

Diera sekarang ini segala informasi dengan cepat didapat baik melalui jaringan internet atau media cetak maupun televisi. makanya setiap waktu kejahatan terlihat dimata maupun kejahatan itu tersembunyi. Namun moral anak sedang dijajah walaupun tidak terlihat.

Dapat kita lihat banyaknya anak yang putus sekolah, perkosaan dimana-mana, guru yang mencabuli anak didik, orangtua memperkosa anak kandung maupun anak tiri dan masih banyak lagi yang tidak dapat kita telesuri satu persatu.

Untuk mengantisipasi dengan hal-hal yang tidak kita inginkan, sebagai orangtua kita berkewajiban untuk melindungi, menjaga serta memberikan anak-anak kita ilmu pengetahuan yang positif (moral), saat anak dirumah anak diberikan pendidikan tentang keagamaan, disekolah para guru mengajar bidang study.

Memberi ektra kurikuler kepada anak juga perlu diberikan, kita tahu bahwa anak kita memiliki berbagai bakat, diantara bakat dibidang olahraga. Ada olahraga yang membahayakan diri, ada juga yang tidak membahayakan diri mereka, tinggak merekalah yang menentukan pilihannya.

Diantara olahraga adalah, basket, tenis meja, sepak bola dan lain sebagainya, bisa juga main catur, sehingga anak tersebut tidak ada pemikiran ke hal-hal yang negatif yang bakal merugikan dirinya, maupun orang lain.

Salah satu olahraga yang masih minim pengemarnya adalah Xiangqi (catur gajah), jika kita bandingkan antara catur Xiangqi dengan catur Internasional masih sangat jauh, pengemar catur Internasional lebih banyak daripada catur Xiangqi.

Maka tidak salahnya kita selaku orangtua memberikan permain catur kepada anak-anak kita, permainan ini selain bisa mengukir prestasi, juga dapat mendatangkan daya ingat yang kuat bagu putra-putri kita.

Kini telah berdiri beberapa Pengurus Provinsi Persatuan Xiangqi Indonesia yang memberikan pendidikan bermain Xiangqi atau catur Gajah, seperti Pengprov Pexi Babel, Pengprov PEXI Jambi, Pengprov PEXI Sumsel, Pengprov PEXI Jabar dan pengprov PEXI Jateng, beberapa Pengprov PEXI tersebut, kini telah melakukan pendidikan terhadap anak-anak mulai dari usia 7 sampai 20 tahun.

Selama sembilan tahun penulis mengikuti sepak terjang dalam kepengurusan PEXI, baru dalam tiga tahun terakhir ini melihat adanya keinginan Pengprov PEXI memberikan pendidikan kepada para pemain junior putra-putri, sebelumnya permainan Xiangqi hanya dimainkan orang-orang yang berusia diatas empat puluh tahun keatas.

Mudah-mudahan kedepan Induk Perkumpulan besar persatuan Xiangqi Indonesia (PB-PEXI) dapat bekerja sama dengan Pengprov PEXI dalam pembinaan generasi muda yang tangguh (rom)

23 Mar 2010

Pencari Ikan Tewas Diterkam Harimau

JAMBI - Konflik antara Harimau dan manusia kembali meminta korban, tadi malam seorang warga desa Sponjen Muaro Jambi yang sehari-hari bekerja pencari ikan tewas diserang oleh seekor Harimau Sumatera saat istirahat bersama ke enam rekannya di sebuah.

Darmilus atau Milus (25) warga Rt 01, Desa Sponjen, Kecamatan Kumpe Ilir, Kabupaten Muaro Jambi tewas setelah diterkam Harimau Sumatera di gubuk tempat ia beristirahat bersama 6 rekannya pada Senin dinihari tadi (22/3). Korban tewas dengan luka cukup serius dibagian kepala dan punggung akibat gigitan maut si raja hutan.

Ssaat kejadian, korban tidur di pinggir pintu sehingga dengan mudah Harimau menyerang dan menyeretnya korban hingga 15 meter dari gubuk tempatnya beristirahat.
6 rekan korban berusaha untuk menyelamatkan nyawa Darmilus, namun sayang nyawanya tak tertolong karena mengalami luka cukup parah dibagian kepala dan pundak sebelah kanan.

Akhirnya jasad Milus dibawa ke desa yang berjarak 17 kilometer dari tempat kejadian dengan menggunakan sampan, ibu korban (Zainabun) tak kuasa menahan kesedihan, ia pun menangis histeris di depan jasad putranya hingga pingsan, Zainabun seolah tak percaya bahwa si raja hutan telah memangsa putranya yang sehari-hari bekerja mencari ikan.

Sebelum kejadian menimpa Milus, ada beberapa hewan ternak warga sempat menjadi korban Harimau, warga desa pun dihantui rasa was-was bila ingin pergi ke ladang atau keluar rumah pada malam harinya. Atas kejadian tersebut kepala desa setempat melaporkan ke instansi terkait, namun usaha yang telah ditempuh seperti memasang perangkap Harimau, namun hingga kini belum membuahkan hasil.

Selama tahun 2010 ini konflik antara manusia dan harimau telah memakan korban dua orang, dimaan dua pekan sebelumnya, Ishak seorang pencari Gaharu terluka parah diterkam Harimau dan hingga kini masih dirawat di RSU Raden Mattaher Jambi.

Kini pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi (BKSDA) melalui pelaksana tugasnya Didy Wurjanto mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah taktis agar kasus ini tidak terulang kembali (nug)

Tidak Bisa Renang, Anak SD Tenggelam

JAMBI – Akibat tak bisa berenang. seorang anak belasan tahun yang nekat berenang di sungai Batanghari Jambi akhirnya tenggelam dan hingga kini belum berhasil ditemukan.

Sebelum tenggelam, korban sempat mendapat peringatan dari temannya agar tidak berenang, namun korban tak menghiraukannya.

Mengetahui kabar anaknya hilang di sungai, kedua orang tua korban mendatangi lokasi dengan wajah yang sedih dan shock, bahkan ibu korban sempat jatuh pingsan karena tak kuasa menahan kesedihan.

Meski beberapa paranormal didatangkan, polairud dan warga setempat telah berusaha mencari korban, namun korban tidak juga ditemukan hingga kini. Rencananya pencarian akan dilanjutkan hari ini.

Sabtu sore, seorang anak yang masih duduk dibangku kelas VI Sekolah Sasar bernama Haris Munandar (12)/ warga Rt 10, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi tenggelam di kawasan Ancol kota Jambi.

Beberapa saksi mata mengatakan, saat kejadian korban bersama dua temannya Habib dan Nanda terlihat bermain di bawah bangunan stasiun Duga Air Automatic (AWRL) Tanggo Rajo yang berada persis di pinggir sungai Batanghari.

Setelah beberapa lama bermain di pinggir sungai, Haris tiba-tiba menerjunkan diri ke sungai dan tidak muncul lagi, teman-teman korban sebetulnya sudah memperingatkan korban agar tidak bermain di sungai namun korban tak menghiraukannya. (nug-rom)

Lima Atlit Xiangqi Jambi Dapat Bonus Prestasi

JAMBI – Atas pretasi yang dicapai Atlit Xiangqi (Catur Gajah) di Kejuaraan Nasional Xiangqi (Kejurnas) Ke-X yang diselenggarakan dari 12-16 Maret 2010 di Hotel Omni Batavia Jakarta.

Kelima atlit tersebut masuk dalam 10 besar Kejurnas, hingga mereka mendapatkan bonis dari salah satu donatur pencinta Xiangqi di Jambi, adapun yang dapat bonus tersebut terdiri dari Ricky Chandra Yohanes (ranking 4), Eric Rudy (ranking 6) dalam kategori junior putra, selain itu dalam kategori putri yang juga turut dapat bonus terdiri Tri Nurdiyanti (ranking 4), Cynthia Navela Sari (ranking 7) dan Clarissa Kurniawan (ranking 9).

Besarnya bonus yang diberi donatur LBC berfariasi, seperti Ricky dan Tri Nurdiyanti masing-masing satu juta rupiah, disusul Eric lima ratus ribu rupiah, Cynthia empat ratus ribu rupiah dan Clarissa dua ratus ribu rupiah.

Bonus ini biberikan kepada atlit Jambi, sebagai motifasi agar kedepan lebih banyak pemain-pemain muda yang tampil dalam kancan Kejurnas Xiangqi (rom)
http://www.kompas-tv.com/content/view/26238/2/
http://www.kompas-tv.com/content/view/26255/108/

Peran dan Tantangan Pexi Dalam Pembinaan Generasi

JAMBI – Umumnya orang beranggapan permainan Xiangqi yang dikenal dengan sebutan Catur Gajah ini hanya dimainkan oleh kalangan masyarakat Tionghoa, pada hal sejak di sosialisasikan beberapa tahun ini, Xiangqi (Catur Gajah) telah berkembang pesat disekolah-sekolahan sebagai salah satu mata pelajaran extra kurikuler, tidak saja dari dikalangan anak-anak Tionghoa melainkan juga digemari warga non Tionghoa.

Xiangqi (Baca : Siang = Gajah dan Ci = Catur), merupakan suatu permainan rakyat yang berkembang menjadi sebuah cabang olahraga, khususnya dikalangan warga Tionghoa Indonesia, karena adanya pembatasan pada zaman era Orde Baru, permainan Xiangqi sempat terhenti.

Permainan ini merupakan hasil pengembangan dari sejenis permainan catur yang berasal dari Asia Tengah, yang telah berusia lebih dari dua ribu lima ratus tahun, dan dalam penyebarannya ke barat sampai ke daratan Eropa yang dibawa oleh musafir/saudagar-saudagar kaya ke utara sampai ke daratan Tiongkok, dikedua wilayah masing-masing mengalami perobahan fundamental dan modifikasi dalam bentuk, di Eropa merupa catur biasa sedangkan di Tiongkok berupa Xiangqi.

Ditanah air kita, jenis permainan Xiangqi tersebut usianya sama tuanya dengan usianya arus kedatangan (migrasi) keturunan Tionghoa pada Abad ke XIV, kini telah terbentuk PEXI di beberapa provinsi, diantaranya pertama berdiri di DKI, menyusul Jatim, Sumut, Kalbar, Jambi, Sumsel, Riau, Babel, Lampung, Jabar, Jateng, Banten dan Bali.

Sejak tahun 2000 hingga kini Xiangqi dipertandingkan setiap tahun dari satu provinsi ke provinsi lainnya secara bergilir “Ini sebagaimana agenda tahunan Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI).” Selain itu salah satu program kerja PEXI adalah pembinaan dan pengembangan dikalangan generasi muda.

Dari tahun 2000 sampai tahun 2006, Kejuaraan Nasional Xiangqi (Kejurnas Xiangqi) hanya dipertandingkan dalam ketegori untuk senior dan group, maka saat di Rakernas PEXI di Bangka Belitung tahun 2006, atas prakarsa beberapa Pengprov yang telah melaksanakan pembinaan generasi muda mengusulkan agar tahun-tahun berikutnya diadakan untuk kategori junior putra dan putri.

Untuk kategori junior putra dan putri pertama kali diselenggarakan di Riau pada tahun 2007, menyusul tahun 2008 di Sumatera Selatan dan di DKI baru-baru ini.

Jika kita mau jujur, seyogyanya beberapa pengprov seperti DKI, Jatim dan Sumut yang lebih awal membentuk PEXI mau membina generasi muda, kini kita telah memiliki segudang atlit/ pemain muda Xiangqi yang berkwalitas, tidak kalah dengan tetangga kita seperti Singapure, Malaysia dan Vietnam.

Namun para senior-senior lebih mengutamakan diri mereka daripada mengurusi pembibitan yang tidak bakal menguntungkan diri mereka secara pribadi, yang semata dikejar adalah hadiah-hadiah yang dipertandingkan dalam Kejurnas Xiangqi.

Pengprov PEXI yang memiliki atlit/ pemain Junior putra dan putri adalah, Jambi, Sumsel, Babel menyusul Jateng dan Jabar, sedangkan Pengprov lainnya setiap Kejurnas Xiangqi selalu memakai atlit dari pengprov lainya, dalam hal ini secara tidak langsung telah merugikan pengprov lain, indikasi main sabun sesama satu daerah bisa saja terjadi.

Seperti Kejurnas Xiangqi kali di Jakarta, Aceh dan Kalsel yang sama sekali belum memiliki Pengprov PEXI, namun bisa ada pemain dalam Kejurnas Xiangqi, padahal semua itu diisi dengan pemain dari Jakarta, demikian juga dengan pemain junior putra-putri yang isi di daerah Banten, Bali dan Lampung.

Maka tantangan kedepan Pengurus Besar Persatuan Xiangqi Indonesia (PB-PEXI) lebih berat dan mesti memiliki kepengurusan yang handal dan pengurus yang baru hendaknya merangkul pengurus lama yang royal terhadap Xiangqi, tidak semena-mena dibuang mereka yang telah banyak jasa didalam PEXI, apa artinya jika ada PB PEXI jika tidak didukung oleh Pengprov PEXI yang ada.

Harapan kedepan PEXI, agar Generasi Muda baik dari kalangan masyarakat Tionghoa maupun non Tionghoa yang mempunyai bakat dan minat belajar Xiangqi sebagai olahraga asah otak, karena Xiangqi juga menggajarkan kita berpola pikir dalam menentukan strategi waktu berhadapan dengan musuh (diibarat dalam sebuah pertempuran). Team
http://media-fotografers.blogspot.com/

18 Mar 2010

Kejurnas Xiangqi, Atlit Jambi Di Peringkat Empat

JAMBI – Kejuaraan Nasional Xiangqi Ke-X yang dilaksanakan di Hotel Omni batavia, Jakarta, telah berlalu, satu persatu Pengprov kembali ke daerah asalnya dengan berbagai kesan dan kenangan.

Kontingen Jambi yang dipimpin oleh ketua Pengprov PEXI Jambi, Darman Wijaya menempati peringkat ke 4 dalam kategori junior putra dan putri. Diantaranya pemain junior putra Ricky Chandra Yohanes (12) menempati peringkat ke 4, disusul oleh Eric Rudy (16) di peringkat 6 (sedangkan tahun lalu di Sumsel menempati peringkat 22) dan Yoranda Arga Pratama (14) di peringkat 11.

Sedangkan junior putri Tri Nurdiyanti (16) berada diposisi lama yaitu peringat 4, terus Cynthia Navela Sari (14) di peringkat 7 (tahun lalu di Sumsel menepati peringkat 11) dan Clarissa Kurniawan (9) berada diperingkat 9. untuk kategori senior pemain Jambi berada di posisi 32, 45 dan 46 dari 58 peserta.

Apabila pertandingan dengan mengunakan sistem swis 7 babak, tentu akan berbeda dalam sistem perhitungan angka, sebab pada awal menang belum tentu bisa jadi juara, karena dari bawah bisa menyusul.

Yang sangat mengherankan adalah pada sisi pertandingan kategori senior putra perorangan dimana papan atas Ie Chong Ming tidak pernah bertemu dengan Abuku, hal ini dikeruhkan oleh Iwan Setiawan asal Babel, “Masa bagian papan atas antara Ie Chong Ming tidak pernah ketemu dengan Abuku, pada hal dalam sistem swis menang ketemu menang dan setersunya.” Ujar Iwan Setiawan menanggapi sistem yang dipakai kali ini.

Bahwa Kejurnas Xiangqi kali ini, boleh dibilang asal-asalan, pasalnya sistem yang dilakukan belum pernah dilaksanakan pada Kejurnas Xiangqi terdahulu, selain itu banyak daerah yang tidak ada atlitnya di isi dengan pemain DKI, seperti Aceh dan Kalsel semua pemain adalah orang-orang DKI, juga ada yang isi di daerah Lampung, Bali. Demikian juga dengan kategori junior putra Bali, Banten diisi dengan pemain Sumsel, dan kategori wanita Banten, DKI diisi dengan pemain Sumsel. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan pengisian pemain ke daerah yang tidak mempunyai pengprov secara langsung telah merugikan daerah lain, terutama Jambi merasa dirugikan.

Maka Ketua Pengprov Pexi Jambi, Darman Wijaya, memutuskan bahwa tahun depan di Sumut, Pengprov Pexi Jambi tidak akan kirim pemain senior. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan pemain-pemain seperti Chen Mau Huang (Jatim) Ranking 1, Ivan Minarta/ Ie Chong Ming (Jatim) Ranking 2, Abuku (DKI) Ranking 3, Pui Jun Phin (Kalbar) Ranking 4, Setiawan (Sumut) Ranking 5, Edy Suwandi ( ? ) Ranking 6, Puji Edianto (Kalbar) Ranking 7.

Kejurnas Xiangqi merupakan agenda untuk mengevaluasi terhadap perkembangan olahraga Xiangqi di Daerah-daerah dan menyusun rangking (peta kekuatan) Pengprov (Beregu) dan Atlit (Perorangan) secara Nasional, untuk dijadikan pedoman menetapkan Regu/Atlit yang dapat mewakili Indonesia pada event-event Xiangqi, baik ditingkat Regional Asia maupun Internasional/ Dunia.

Namun sangat disayangi bahwa event tersebut masih terdapat beberapa pengprov mengadopsi pemain luar daerah demi mengejar hadiah-hadiah yang dijanjikan panitia, pada hal dalam AD/ ART salah satu program kerja PB PEXI adalah pembinaan generasi muda yang berkwalitas.

Selain itu Kejurnas Xiangqi yang telah menghabiskan anggaran dana sampai ratusan juta rupiah, namun pelaksanaannya tidak dilalukan secara profisional. (team)