Tampilkan postingan dengan label Matakin Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matakin Indonesia. Tampilkan semua postingan

5 Okt 2012

Banyak Warga Tionghoa Yang Agama Ganda

Banyak warga tionghoa di tanah air yang tidak tahu agama apa yang mereka peluk, mereka dapat kita temui di setiap kelenteng maupun vihara yang sedang mengadakan kegiatan, penulis pernah menemui beberapa warga yang ditanya tentang agamanya, mereka pada mengatakan beragama Buddha, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka sedangkan mengikuti sembahyang ulang tahun para suci (shenming) di kelenteng-kelenteng, yang tak kalah hebat adalah para pemberi ceramah, menyatakan bahwa umat Buddha boleh sembahyang di kelenteng, demikian juga sebaliknya umat Khonghucu juga boleh sembahyang ke Vihara (istilah agama tridarma).
Secara jujur kedua agama berbeda sangat jauh, Khonghucu berasal dari Tiongkok, sedangkan Buddha berasal dari India, bagaimana mau dikatakan sama.! Penulis mengutip beberapa pernyataan dari ANGGIE  Tjetje tentang kerancuan nama Tridharma di Indonesia. Menurutnya, tidak pernah ada sebenarnya penyebutan dan pengakuan untuk agama Tridharma. Pemahaman masyarakat Indonesia perihal agama Tridharma ini, menurut Aggie Tjeje adalah sebuah kecelakaan”.

Menurut Aggie, akibat kecelakaan ini hingga sekarang masih banyak orang beranggapan bahwa tiga agama tadi adalah sama. Padahal, lanjutnya, ketiganya tidak pernah bersatu kecuali menyoal falsafahnya.

“Umat ketiga agama ini sebenarnya beragama China. Tapi karena kesalahpahaman akhirnya muncul trend orang-orang ke Buddha ayo, ke Khonghucu ayo, dan ke yang lainnya juga ayo. Padahal tidak pernah ada gabungan tiga agama itu. Semuanya muncul 2500 tahun lalu, sementara orang China sudah beragama sejak 7000 tahun lalu,“ paparnya.

Untuk di Indonesia sendiri, kata Aggie, karena waktu itu hanya Buddha yang diakui, maka orang Tionghoa kebanyakan akhirnya memakai topeng Buddha di KTP, meskipun agama yang dianutnya adalah Khonghucu.

Oleh karena itu, para petinggi dari agama Buddha maupun Khonghucu meminta pemerintah memperjelaskan status agama Tridarma, sehingga masyarakat keturunan tionghoa bisa memilih agama yang diyakininya, diantaranya agama Buddah maupun agama Khonghucu sebagai pegangan keyakinannya.

Selain itu, berdampak terhadap rekan-rekan wartawan yang membuat berita, salah satunya dalam penulisan kelenteng alias vihara, bahkan sering juga kita temukan tempat ibadah kelenteng terdapat tiga para suci digabungkan dalam satu altar.

Semua agama baik untuk pegangan hidup, namun agama dilarang untuk digabungan-gabungkan, (Romy)

4 Okt 2012

Shejit Kun Ce Tua Lang Kong Di Hadiri Staf Bimas Agama Khonghucu Kemenag RI

JAMBI – Kamis pagi, 4 Oktober 2012 (imlek pwe gwe cap kao) ratusan umat Khonghucu hari ini menghadiri Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Lam Po Tong yang beralamat di Jalan Perdana Raya (belakang kantor DPRD Kota Jambi) Rt. 33, No. 19, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi. Ratusan umat Khonghucu mengikuti prosesi perayaan Shejit “Kun Che Tua Lang Kong.” mereka datang untuk memberikan hormat atas sejitnya sin beng.
Umat Khonghucu Jambi, memperingati shejit (ulang tahun) sebagai penghormatan kepada leluhur mereka, ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap umat Khonghucu. Berbagai cara dan jenis ritual yang digelar, tetapi tetap memiliki satu tujuan yaitu untuk menghormati para suci shinming dan leluhur.

Seperti ritual Shejit “Kun Che Tua Lang Kong” dan Kho Kun yang digelar oleh kelenteng MAKIN Lam Po Tong kali ini dihadiri utusan Bimas Agama Khonghucu Kementerian Agama RI, Surahman dan Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Darman Wijaya, Wakil ketua Matakin, Alex Sujanto, Wakil ketua Matakin Kota Jambi, Huwanda Desswandhy, selain itu tampak hadir para pengurus Makin Kota Jambi dan Makin Kabupaten Tanjab Barat beserta ketua Perempuan Khonghucu (perkhin).

Menurut ketua Makin Lam Po Tong, Chu Harto, bahwa pihaknya memang sengaja menggelar dua acara sekaligus, agar momen tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk umat untuk berdoa dan memohon keselamatan dan perlindungan dari sin beng maupun para leluhur. “Kepada shinming, kita memohon keselamatan dari berbagai bencana sedangkan kepada leluhur merupakan tanda penghormatan kita,” ujarnya.

Kelenteng Makin Nam Po Tong, yang dibangun pada tahun 2005 ini, belum 100% selesai, “Masih ada yang mesti kita selesainya, diantaranya bagian bubungan dan kim tan (tempat bakar kertas sembahyang).” Kata Chu Harto. (Romy)