玛哈德罗高僧赠阿迪峡尊者唐卡像,迪迪、蔡邦胜接收,巴鲁瓦、冯麒达 在旁。
占碑省旅游局局长长迪迪、千年佛塔基金会领导蔡邦胜居士等热烈迎接孟加拉高僧玛哈德罗。
【本 报讯】4月 17日 上午午,占碑的天气阴沉,下了场小雨,似乎上天洒下甘露水,作为迎接千年前到慕亚拉占碑的孟加拉僧人阿迪峡尊者舍利。占碑省旅游局局长长迪迪、千年佛塔基 金会领导蔡邦胜居士、佛教学校师生等热烈迎接孟加拉玛哈德罗高僧及其秘书巴鲁瓦。他两由孟加拉直飞雅加达然后转机到占碑。他们带来了阿迪峡尊者的舍利,似 乎他又回到了千年前的占碑港(MuaraJambi)佛教圣地。旅游局长迪迪表示,这次孟加拉高僧的造访,将更加强占碑与孟加拉关系发展。哈德罗高僧表 示,阿迪峡尊者在西藏圆寂(1054),火化后的舍利曾在中国的博物馆收藏许久,文革时期遭受破坏,后来经过高僧们的要求,经过中国周总理的同意,转送给 孟加拉保存至今,所以非常珍贵。千年前的占碑港(MuaraJambi)佛教圣地遗址,位在占碑巴当哈到7.5公里之处的占碑港,面积2062公顷。根据 我国考古学者记载,此处共有82座佛塔,已被发掘的有6座已被修,已所以我们可以说占碑千年佛塔古迹是我国最大的佛教圣地之一。这广阔的占碑港佛塔地带, 可理解当时是继印度纳兰陀(Nalanda)之后,在这曾是全球最大的佛教大学教义中心,是属于三佛齐(Srivijaya)王朝所管。中国僧人,如果要 到印度纳兰陀深造佛教大学,该到三佛齐实习1、2年,先行了解,并适应各种佛教大学教学规律公暦9世纪期间,孟加拉高僧阿迪峡(Atisha)尊者,他曾 是王子后来出家。据知,他也曾居住占碑港佛塔地带学习达 12年之久,。Atisha尊者此之后居住在西藏(1041年至1054),最后在西藏圆寂 .今他的舍利抵达占碑。纵然使我们觉得孟加拉高僧阿迪峡尊者(Atish)似乎与我们在一起,重温占碑昔日的辉煌。
本报记者明光占碑报道
http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20120419/117709.shtml
Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan
20 Apr 2012
18 Jun 2011
Terus Gali Potensi Candi Muaro Jambi
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Terus mencari dan menggali potensi pariwisata Jambi, itulah kegiatan utama Dinas Pariwisata Provinsi Jambi selama satu minggu ke depan. Menurut Kabid Sejarah dan Purbakala, Ujang Hariadi, jajarannya akan bekerja sama dengan beberapa peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam di situs percandian Muaro Jambi. Lanjut Ujang, para peneliti itu rencanaya akan datang ke Jambi pada Senin (20/6). "Saya sudah dapat sms kepastian tanggal, smoga tidak ada perubahan," ujar Ujang.
Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.
Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.
Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.
Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi
Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.
Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.
Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.
Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi
6 Mar 2011
Candi Muaro Jambi Diupayakan Jadi Warisan Dunia
JAMBI - Warga masyarakat Pecinta Candi Muaro Jambi kini tengah berupaya memperkenalkan kompleks percandian peninggalan Hindu-Budha, terluas di Indonesia, merupakan peninggalan, merupakan penggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu, dibangun pada abad 11masehi. Tujuannya, agar candi ini terbcatat sebagai warisan dunia. "Kita kini berupaya untuk memperkenalkan candi tertua dan terluas di dunia ini, sehingga akhirnya dapat tercatat sebagai warisan dunia", kata Marzuki Usman, Ketua The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT), kepada Tempo, Minggu (6/3).
Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.
"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.
The SOMT sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.
Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.
Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.
"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.
Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.
Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.
DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.
"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)
Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.
"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.
The SOMT sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.
Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.
Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.
"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.
Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.
Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.
DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.
"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)
http://tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/03/06/brk,20110306-317911,id.html
Kunjungan DR. Benoy K. Behl (dari Nalanda/ India)
JAMBI - Usaha Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan situs Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia (World Heritage) tampaknya kian terbuka peluangnya. Hal ini tampak dari kunjungan Staf Ahli Kementerian Pariwisata India, DR. Benoy K. Behl, yang datang berkunjung ke Kawasan Candi Muaro Jambi pada hari Jumat, tanggal 04 Maret 2011 lalu. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan dari delegasi Team Ekspedisi Jambi - Nalanda (India) pada taanggal 5 - 15 Februari lalu.
DR. Benoy yang tiba di lokasi kompleks Percandian Muaro Jambi sekitar pukul 16.30 sore, disambut langsung oleh Marzuki Usman dan Hidayat (pengurus The SOMT), serta Didy Wurjanto (Kadis Pariwisata Provinsi Jambi), serta Toni dan Agus W. (Dinas BP3) serta diiringi kibaran bendera The SOMT dari sekitar 200-an orang masyarakat peduli Candi Muaro Jambi (The SOMT).
Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar 2 jam di kompleks Candi Muaro Jambi tersebut, DR. Benoy yang merupakan salah satu inisiator yang mendorong Komplek Bodh Gaya di India diakui oleh dunia melalui UNESCO menjadi World Heritage, mengatakan bahwa kunjungan singkat ini merupakan kunjungan awal sebagai pembuka jalan untuk membangun suatu bentuk kerjasama dalam mewujudkan Twin Sites (Situs Kembar) antara Candi Muaro Jambi dan Kompleks Nalanda di India. DR. Benoy juga berjanji akan membantu Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Situs Candi Muaro Jambi menjadi World Heritage, dengan membagi pengalamannya dalam menyusun hingga menjadikan Kompleks Bodh Gaya di India menjadi Situs Warisan Dunia.Jamuan Makan Malam
Acara kunjungan ini dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh The SOMT bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi di Hotel Wiltop pada malam harinya. Acara yang dibuka dengan tarian daerah Jambi, dilanjutkan sambutan dan presentasi pengenalan Situs Candi Muaro Jambi oleh Didi Wurijanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan sambutan dan ucapan selamat datang di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari Fachrori Umar selaku Wakil Gubernur Provinsi Jambi yang mewakili masyarakat & pemerintah Provinsi Jambi.Selanjutnya Marzuki Usman selaku Ketua The SOMT, juga memberikan sambutan dan memaparkan berbagai program kerja yang telah dan akan dijalankan oleh The SOMT, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari DR. Benoy. Dalam Sambutannya, Dr. Benoy juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besar kepada Bapak Hidayat sebagai salah satu pengurus The SOMT, yang telah mengundang serta membiayai seluruh biaya perjalanan Dr. Benoy dari India ke Jambi (PP) secara pribadi.
Acara jamuan makan malam dilanjutkan dengan saling tukar cindera mata antara DR. Benoy dengan Fachrori Umar (Wakil Gubernur Provinsi Jambi) dan antara DR. Benoy dengan Marzuki Usman. dan dilanjutkan dengan sumbangan lagu daerah Jambi yang dibawakan khusus oleh wagub, Fachrori Umar yang dipersembahakan khusus untuk para tamu undangan. Jamuan makan malam ini selanjutnya ditutup dengan musik dan tarian khas Jambi. (taem The SOMT)
26 Feb 2011
Tim Temukan Motif Ikan di Bata
BEBERAPA laki-laki terlihat menggali tanah di halaman Candi Kedaton, di Situs Candi Muaro Jambi, Jumat (25/2) siang. Lubang galian berbentuk kotak dengan kedalaman yang berbeda-beda. Bukan sembarang menggali, karena para pekerja tersebut ternyata sedang melakukan penggalian arkeologi. Selama penggalian, tim menemukan sesuatu yang baru, yaitu motif ikan dan lingkaran pada bata dalam struktur bangunan. Keduanya masih berada dalam satu kotak galian dan hanya berselisih satu buah bata. Kotak tempat penemuan itu berada di sebelah utara Candi Kedaton.
Menurut ketua tim ekskavasi, Retno Purwanti, temuan motif ikan ini merupakan yang pertama di Jambi. Sebelumnya pernah ditemukan goresan pada batu bata, namun yang berbentuk motif ikan baru pertama kali.
Motif ikan ini, kata Retno, pernah juga ditemukan di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan. "Tapi yang di Bumiayu ditemukan pada reruntuhan, jadi penemuan yang masih pada tempatnya ya di Jambi ini," jelasnya.
Retno mengatakan, bahwa goresan pada bata berbentuk ikan dan lingkaran berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Kemungkinan tempat itu untuk meditasi atau tempat persiapan ritual.
Selain bata bermotif, tim juga menemukan fragmen jari arca. Fragmen ini ditemukan di kotak yang berada di sebelah barat candi Kedaton. Potongan jari arca tersebut berbentuk ibu jari, namun memiliki ukuran lebih besar dari ibu jari manusia dewasa. Panjangnya sekitar 10 centimeter.
Jika melihat ukuran potongan jari itu, dapat diperkirakan bahwa arcanya berukuran lebih besar dari ukuran manusia. Namun, sampai sekarang arca yang dimaksud belum berhasil ditemukan. "Bisa jadi stupa, namun untuk mengambil kesimpulan itu butuh penelitian lebih lanjut," kata Retno.
Tempat ditemukannya fragmen itu berada pada struktur bangunan yang diperkirakan adalah Candi Perwara yang mengapit candi utama. Dari penggalian yang dilakukan, Retno menduga bahwa struktur bangunan itu adalah candi apit seperti yang biasa terdapat di candi-candi di Jawa.
"Ada dua bangunan yang letaknya berada di samping candi utama, jadi kemungkinan ini adalah candi apit," katanya.
Penggalian atau dalam istilah arkeologi dikenal dengan ekskavasi merupakan bagian dari penelitian arkeologi. Kegiatan ini, kata Retno, akan berlangsung selama sepuluh hari dan telah dimulai sejak Sabtu (19/2). Sampai saat ini sudah 19 kotak yang dibuka dengan ukuran bervariasi antara 2x2 meter hinga 2x4 meter.
"Penggalian ini adalah program dari Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan BP3 Jambi," ucapnya pada Tribun. Ekskavasi dilakukan untuk meneliti fungsi halaman candi Kedaton. "Candi Kedaton memiliki 11 halaman yang mengelilingi candi utama," katanya.
Dari kesimpulan sementara, ucap Retno, halaman Candi Kedaton digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara. "Halaman candi digunakan untuk ritual keagamaan, baik meditasi maupun upacara," ucapnya. (kurnia prastowo adi)
http://jambi.tribunnews.com/2011/02/26/tim-temukan-motif-ikan-di-bata
Menurut ketua tim ekskavasi, Retno Purwanti, temuan motif ikan ini merupakan yang pertama di Jambi. Sebelumnya pernah ditemukan goresan pada batu bata, namun yang berbentuk motif ikan baru pertama kali.
Motif ikan ini, kata Retno, pernah juga ditemukan di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan. "Tapi yang di Bumiayu ditemukan pada reruntuhan, jadi penemuan yang masih pada tempatnya ya di Jambi ini," jelasnya.
Retno mengatakan, bahwa goresan pada bata berbentuk ikan dan lingkaran berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Kemungkinan tempat itu untuk meditasi atau tempat persiapan ritual.
Selain bata bermotif, tim juga menemukan fragmen jari arca. Fragmen ini ditemukan di kotak yang berada di sebelah barat candi Kedaton. Potongan jari arca tersebut berbentuk ibu jari, namun memiliki ukuran lebih besar dari ibu jari manusia dewasa. Panjangnya sekitar 10 centimeter.
Jika melihat ukuran potongan jari itu, dapat diperkirakan bahwa arcanya berukuran lebih besar dari ukuran manusia. Namun, sampai sekarang arca yang dimaksud belum berhasil ditemukan. "Bisa jadi stupa, namun untuk mengambil kesimpulan itu butuh penelitian lebih lanjut," kata Retno.
Tempat ditemukannya fragmen itu berada pada struktur bangunan yang diperkirakan adalah Candi Perwara yang mengapit candi utama. Dari penggalian yang dilakukan, Retno menduga bahwa struktur bangunan itu adalah candi apit seperti yang biasa terdapat di candi-candi di Jawa.
"Ada dua bangunan yang letaknya berada di samping candi utama, jadi kemungkinan ini adalah candi apit," katanya.
Penggalian atau dalam istilah arkeologi dikenal dengan ekskavasi merupakan bagian dari penelitian arkeologi. Kegiatan ini, kata Retno, akan berlangsung selama sepuluh hari dan telah dimulai sejak Sabtu (19/2). Sampai saat ini sudah 19 kotak yang dibuka dengan ukuran bervariasi antara 2x2 meter hinga 2x4 meter.
"Penggalian ini adalah program dari Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan BP3 Jambi," ucapnya pada Tribun. Ekskavasi dilakukan untuk meneliti fungsi halaman candi Kedaton. "Candi Kedaton memiliki 11 halaman yang mengelilingi candi utama," katanya.
Dari kesimpulan sementara, ucap Retno, halaman Candi Kedaton digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara. "Halaman candi digunakan untuk ritual keagamaan, baik meditasi maupun upacara," ucapnya. (kurnia prastowo adi)
http://jambi.tribunnews.com/2011/02/26/tim-temukan-motif-ikan-di-bata
Langganan:
Postingan (Atom)

