Tampilkan postingan dengan label waisak 2556. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waisak 2556. Tampilkan semua postingan

10 Jun 2012

Bhiksu Thailand Jalan Kaki Keliling Kota Jambi

JAMBI – Sebanyak 14 Bhiksu asal negara Gajah Putih (Thailand), Minggu lalu (3/6) iring-iringan jalan kaki tanpa menggenakan alas kaki, keempat belas bhikku yang memakai jubah berwarna cokelat tua tersebut diikuti puluhan muda mudi buddhis berjalan menyusuri jalan-jalan di Kota Jambi.
Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah teriknya sinar matahari dengan kaki telanjang, namun terlihat wajah sabar terpancar dari para bhikku berjalan menyusur jalan sambil menenteng patta (sejenis mangkok), sedangkan anak muda yang berada di sisi kanannya menenteng kotak kardus.

Dalam pindapatta di Kota Jambi ini, para bhikku hanya membawa patta yang dalam bahasa Pali (India,red) berarti mangkok, mereka menyusuri jalan-jalan untuk mendapat dharma berupa makanan dari umat. Sepanjang jalan, umat memberikan beraneka ragam keperluan kepada bhikku yang telah melepas 'hidup' nya karena melayani umat.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini sedang melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

"Tradisi ini merupakan sebuah kewajiban karena berbuat kebaikan," ucap Bhiksu Phra Kamsai Pomsiri yang berasal dari Thailand.

Sejak pagi hari, puluhan umat yang berbaris di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung.

Di sepanjang jalan yang dilalui para bhikku tersebut, umat Buddha yang mengetahui segera menyiapkan makanan dan uang untuk berdharma. Seperti di Pasar Hongkong, pagi itu umat yang tahu segera berbaris di pinggir untuk menunggu lewatnya rombongan.

Dalam penjelasannya, Bhiksu Kamsai mengatakan bahwa untuk berdharma sebaiknya memberikan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Hidup bhiksu disokong dari umat, di sana terdapat catu pacaya atau empat kebutuhan yang harus disokong yaitu, jubah, makanan, obat, serta tempat tinggal." jelasnya.

Di negara Thailand terdapat ribuan umat Buddha yang melakukan tradisi itu sejak lama. Di sana bhikku hidup tergantung dari dharmanya umat. Pindapatta yang dilakukan pagi tadi menempuh rute dari Maha Cetiya Oenang Hermawan di Kampung Manggis mengitari Jelutung, Pasar Hong Kong, Jalan Gatsu (Gatot Subroto, Jalan Veteran, Jalan Dr. Wahidin, Jalan Mr. M. Roem, Jalan Sam Ratulangi ke arah pasar buah, kemudian masuk kawasan Mandala dan akhirnya kembali ke Cetiya Oenang Hermawan. (yuli-eric)

13 Mei 2012

JAMBI – Walaupun suasana perayaan Tri Suci Waisak 2556/ BE 2012 telah berlalu, namun Minggu pagi (13/5) para penganut Buddhis kota Jambi memadati lantai 5 gedung Yayasan Buddha Amitabha yang berada di Jalan Halim Perdana Kusuma, Kelurahan Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi, sehingga kendaraan pengunjung hampir tak tertampung di lahan parkir, dan beberapa kendaraan menjejali badan jalan.

Sebelum prosesi pemandian dilaksana, para umat terlebih dahulu membaca sakra pendek (doa) yang dipimpin bhikkhu Wu Wen shefu, setelah itu baru dilangsungkan pemandikan rupang yang diawali oleh bhikkhu, ketua Yayasan Amitabha, Wang Lie Kui dan umat. “Semua kegiatan ini dilakukan secara bergantian,”. Sebelum prosesi pemandian ruang Bhudda dimulai, terlebih dahulu rupang (patung) Buddha diletakkan diatas rangkaian bunga telatai dan diletakkan di atas sebuah altar disis kiri dan kanan. Sedangkan di hadapan rupang terdapat air untuk memandikan rupang yang dicampur dengan bunga-bunga.

Mandi rupang adalah memperingati hari kelahiran Pengeran Sidharta di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM, maka para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi dan selanjutnya Bodhisatva berjalan tujuh langkah kedepan terus Bunga-bunga Teratai bermunculan dari tanah di bawah setiap jejaknya yang artinya terpenuhi harapannya. (Romy)

6 Mei 2012

Vihara Amrta Sambut Waisak 2556 Dengan Adakan Mandi Rupang

JAMBI - Umat Buddha di Jambi melakukan berbagai kegiatan merayakan Tri Suci Waisak 2556/BE 2012 yang puncaknya jatuh pada hari Minggu (6/5-2012) pukul 12.10. Seperti di Vihara Amrta di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menjelang detik-detik Waisak yang jatuh pada hari Minggu (6/5-2012) pukul 10:34:49 WIB, diawali dengan pembacaan parita (sembahyang) dan pemandian rupang Buddha.
Lewat perayaan Tri Suci Waisak, umat Buddha memohon agar dapat diberikan berkah agar Bangsa Indonesia keluar dari berbagai kesulitan, meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan serta menghindari perbuatan yang tidak pantas, maupun melanggar hukum.

Selain itu mampu memberikan kebahagiaan dan kedamaian kepada seluruh umat manusia di dunia, khususnya masyarakat Jambi. Selain itu lewat perayaan Waisak umat Buddha menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas kehidupan yang telah dinikmati.

Perayaan Waisak mengandung tiga makna penting meliputi memperingati kelahiran, kejayaan dan meninggalnya sang Budha Siddartha Gautama. Hari raya Waisak merupakan hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta. Di beberapa tempat disebut juga sebagai "hari Buddha".

Waisak dirayakan pada bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu 1. lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini di tahun 623 S.M., 2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M., dan 3. Buddha Gautama mangkat di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 S.M.

Sebelum perayaan Waisak 2556, sebulan sebelumnya di Vihara Amrta dimulai diadakan berbagai perlombaan, seperti kegiatan perlombaan mewarna tingkat sekolah dasar, pertandingan Xiangqi (catur gajah) dan lain sebagainya. (Romy)

Pradaksina Keliling Vihara Sakyakirti Jambi

JAMBI - Sekitar ratusan umat Buddhis Jambi melakukan "Pradaksina" yang di pimpin oleh Y.M. Bhiksu Bhadra Mitra dan Y.M. Bhiksu Jayagiri merayakan hari suci Waisak 2556/BE. "Pradaksina" yang memiliki arti merenungi napak tilas Sang Buddha Gautama dalam mencapai Nirwana di Vihara Sakyakirti, Jalan Pengeran Diponegoro No. 60, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan  Jambi Timur Kota Jambi, Sabtu (5/5). Detik-detik perayaan Waisak jatuh pada hari Minggu (6/5-2012) pukul 10:34:49 WIB. di rayakan oleh umat buddhis di seluruh dunia dan Indonesia dengan hikmat dan memiliki pesan keharmonisan dan perdamaian bagi seluruh bangsa.

Bertempat di halamat olahraga SD Sariputra Jambi ratusan umat buddhis terdiri dari oma-oma hingga anak-anak merayakan Tri Suci Waisak 2556/BE (Buddhis Era/ tahun Buddhis) yaitu, Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya dan Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.

Dengan penuh khidmat dan konsentrasi ratusan umat buddhis berbaris sambil memegang gaharu (hio) dan lilin mengikuti Y.M. Bhiksu Bhadra Mitra dan Y.M. Bhiksu Jayagiri dari belakang mengelilingi vihara Sakyakirti. (Romy)

29 Apr 2012

Umat Biddhis Menyambut Waisak 2556 Mengelilingi Candi Muarojambi

JAMBI – Tri Suci Waisak merupakan sebuah momen tersendiri bagi umat Buddhis di seluruh dunia, Waisak menjadi salah satu hari yang sangat penting untuk diperingati oleh umat Buddhis, karena pada hari itu, umat Buddhis memperingati tiga peristiwa yang dialami oleh Buddha Gotama pada bulan purnama yaitu:

1. Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.
2. Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya.
3. Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.

Puncak pelaksanaan Waisak 2556/BE, yang jatuh pada 6 Mei 2012 mendatang, seperti tahun-tahun yang lalu, Vihara Sakyakirti Jambi di Jalan Pengeran Diponegoro No. 60, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan  Jambi Timur Kota Jambi. Minggu (29/4) tadi.
Ribuan umat Buddhis menyambut Perayaan Waisak dengan mengeliling video candi Muarojambi, acara ini sudah menjadi agenda tahunan Vihara Sakyakirti sejak tahun 1992, selain itu sebagai upaya ikut melestarikan peninggalan sejarah Agama Buddha di Jambi melalui pelaksanaan ritual puja keagamaan seperti Prosesi mengelilingi Candi dan Puja Bhakti.

Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan kembali getaran-getaran suci di lokasi Candi Muarojambi sebagai tempat melaksanakan ritual-ritual keagamaan dan pemujaan terhadap keagungan Sang Buddha di masa lampau.

“Diperkirakan umat Buddhis yang mengikuti perayaan hari besar video Waisak di candi Muarojambi, mencapai ribuan orang. Makanya, panitia jauh-jauh hari telah mempersiapkan 27 unit mini bus untuk mengangkut rombongan umat, belum termasuk kendaraan milik sendiri umat.

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memilih kawasan candi Muarojambi, provinsi Jambi sebagai tempat penyelenggaraan Hari Raya Waisak 2556/BE tahun 2012. Ini merupakan peringatan Waisak dan mengingat masa kejayaan Sriwijaya dimasa lampau.
MBI memandang perayaan Wisak di candi Muarojambi bukan sebagai tandingan perayaan waisak di tempat lain tapi merupakan suatu kebhinnekaan, dan keberagaman. Karena, candi Muarojambi adalah warisan budaya yang luar biasa masa peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tak kalah agungnya dengan candi lain yang ada di nusantara.

Candi Muarojambi terletak di bantaran Sungai Batanghari atau sekitar 30 km arah timur Kota Jambi juga merupkan situs purbakala terluas di Indonesia yaitu lebih kurang 12 Kilometer atau sepuluh kali luas candi Borobudur. Candi Muaro Jambi peninggalan sejarah masa Sriwijaya yang menjadi saksi bisu yang pernah ada kerajaan besar.

Menurut legenda asal muasal perayaan Waisak, dimulai dari lahirnya seorang bayi suci pada bulan Waisaka di tahun 623 SM, di taman Lumbini, bumi bergetar, bunga-bunga bermekaran dan dari langit tumpah air suci yang langsung membasuh tubuh Sang bayi diiringi nyanyian dari surgawi, sungguh sebuah kelahiran maha agung. Kelahiran seorang calon guru Agung. Inilah kisah pertama dari Trisuci Waisak. (Romy)