11 Mar 2011

Ong Seng Kong Berasal Jambi (#1)

JAMBI – Ratusan kaum hawa menghadiri ritual Perayaan Hari Ulang Tahun Sin Beng (dewa) “Ong Seng Kong” di Klenteng Kuang Leng Miau dibilangan Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur dan sekaligus melakukan Kho Kun (sedekah) untuk dipersembahkan kepada mahluk atau roh yang gentayangan berupa sesajian.
Klenteng Kuang Leng Miau adalah warisan dari Almarhum Apek Macan yang awalnya hanya sebuah rumah ibadah pribadi milik Almarhum Apek macan yang didirikan pada tahun 1952 dan kemudian dibangun menjadi permanen oleh umat Khonghucu di Jambi pada 2004 yang lalu.

Hasil pantauan Makinjambi.com, Jum’at pagi (11/03-2011) sejak pukul 10.00 berbagai kaum hawa mulai berdatangan untuk mengikuti prosesi ritual memperingati hari ulang tahun maupun upacara prosesi kho kun, umumnya kaum hawa pada membawa berbagai sesajian.

Prosesi seperti biasanya, diawali dengan memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk mendapatkan ijin melaksanakan ritual pada perayaan hari ulang tahun Ong Seng Kong dan kho kun untuk mempersembahkan sesajen kepada mahluk/ roh yang tidak diurusi oleh pihak keluarga, upacara dipimpin oleh Rohaniwan dari Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) “Sai Che Tien” The Lien Teng dengan membaca So Bun (sejenis mantera pemberitahuan/undangan red).

Setelah itu baru memasuki tahap kedua yaitu prosesi sembahyang memperingati HUT dewa Ong Seng Kong dengan membacakan Ci Bun (sejenis laporan untuk dewa yang bersangkutan), selanjutnya baru memasuki upacara Kho Kun atau yang dikenal dengan sebutan kho kun dalam dan kho kun luar, yang dimaksud dengan kho kun dalam yaitu mempersembahan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan Kim Cua (kertas sembahyang red) kepada para pengawal Sang Dewa yang ada didalam klenteng tersebut, seusai prosesi didalam baru melakukan khu kun diluar untuk para mahluk atau roh yang meninggal tidak tidak diurusi oleh pihak keluarganya, maupun meninggal tidak wajar seperti meninggal dunia gantung diri, kecelakaan, dibunuh orang dan lain sebagainya, maka perlu diadakan kho kun atau sedekahkan makanan dan lain-lain sebagainya kepada mahluk dan roh.

http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/

10 Mar 2011

Membudidayakan Jamur Tilam Didalam Lapas

JAMBI – Untuk membudidayakan jamur Tilam tidak sesulit seperti apa yang dibayangkan banyak orang dan juga tidak memerlukan lokasi yang luas (halaman), asal punya kemauan, semua bisa pasti bisa menanamnya.
Seperti yang dilakukan dua penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Jambi.
Guna menyambung hidup, mereka kini membudidayakan jamur Tiram. Di dalam Lapas dan kini sudah bisa menikmati hasilnya dengan cukup memuaskan.

Karena membudidayakan jamur dibutuhkan ruangan yang cukup lembab dan tidak terkena matahari secara langsung. Untuk membudidayakan jamur Tiram, kita hanya membutuhkan bahan-bahan seperti serbuk gergaji, dedak, jagung halus, kapur, dan bibit jamur. Semua bahan yang telah dipersiapkan tadi kemudian dicampur menjadi satu berikut air secukupnya.

Setelah bahan atau media siap, bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam plastik, lalu dipadatkan dan kemudian dikukus selama 3 jam. Setelah dikukus, media tanam jamur kemudian diangin-anginkan, lalu ditutup rapat.

Media tanam jamur kemudian ditaruh dirak-rak bertingkat, hingga muncul bintik keputihan menandakan adanya jamur yang hidup.

Jika jamur yang sudah ada muncul bintik-bintik putih kemudian dibuka tutupnya lalu disiram air agar menjadi lebih lembab. Setelah menunggu setidaknya empat minggu,jamur akan muncul dan sudah siap untuk dipanen dan dipasarkan.

Budidaya jamur Tiram di Lapas kelas IIA Jambi ini sudah mulai dilakukan sejak 6 bulan lalu, oleh dua warga binaan dalam kasus perampokan, yakni Sarbaini dan Salamudin.

Mereka sudah lima tahun menjalani masa hukuman dari 14 tahun yang harus mereka jalani. Membudidayakan jamur ini dibagi dua, yakni untuk napi dan sebagian lagi untuk disetorkan ke penerimaan negara bukan pajak melalui Lapas.

Dengan pendapatan dari jamur Tiram, cukup membantu mereka mencukupi kebutuhan hidup selama di dalam lapas. Melihat prospek jamur tiram di Jambi, sungguh sangat menggiurkan, harga sekilonya bisa menembus angka 20 hingga 25 ribu rupiah.

Jika kita bisa memanen dua kilogram saja perhari,bisa dibayangkan berapa pendapatan yang akan kita peroleh selama sebulan, bahkan setahun.

Nah, mudah bukan cara membudidayakan jamur, jika didalam lembaga pemasyarakatan Jambi saja bisa membudidayakan jamur, mungkin anda tak ada salahnya untuk mencoba

Bahan media tanam untuk jamur tiram putih adalah gergajian kayu (serbuk) dicampur dengan bahan-bahan dibawah ini sebagai berikut :
1. Serbuk Gergaji, 2. Bekatul atau dedak halus, 3. Kalsium carbonat/ kapur, 4. Pupuk TSP, 5. Bibit, 6. Kantong plastik dan Air secukupnya (taem)

6 Mar 2011

Candi Muaro Jambi Diupayakan Jadi Warisan Dunia

JAMBI - Warga masyarakat Pecinta Candi Muaro Jambi kini tengah berupaya memperkenalkan kompleks percandian peninggalan Hindu-Budha, terluas di Indonesia, merupakan peninggalan, merupakan penggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu, dibangun pada abad 11masehi. Tujuannya, agar candi ini terbcatat sebagai warisan dunia.
"Kita kini berupaya untuk memperkenalkan candi tertua dan terluas di dunia ini, sehingga akhirnya dapat tercatat sebagai warisan dunia", kata Marzuki Usman, Ketua The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT), kepada Tempo, Minggu (6/3).

Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.

"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.

The SOMT
sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.

Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.

"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.

Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.

Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.

DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.

"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)

http://tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/03/06/brk,20110306-317911,id.html

Kunjungan DR. Benoy K. Behl (dari Nalanda/ India)

JAMBI - Usaha Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan situs Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia (World Heritage) tampaknya kian terbuka peluangnya. Hal ini tampak dari kunjungan Staf Ahli Kementerian Pariwisata India, DR. Benoy K. Behl, yang datang berkunjung ke Kawasan Candi Muaro Jambi pada hari Jumat, tanggal 04 Maret 2011 lalu. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan dari delegasi Team Ekspedisi Jambi - Nalanda (India) pada taanggal 5 - 15 Februari lalu.
DR. Benoy yang tiba di lokasi kompleks Percandian Muaro Jambi sekitar pukul 16.30 sore, disambut langsung oleh Marzuki Usman dan Hidayat (pengurus The SOMT), serta Didy Wurjanto (Kadis Pariwisata Provinsi Jambi), serta Toni dan Agus W. (Dinas BP3) serta diiringi kibaran bendera The SOMT dari sekitar 200-an orang masyarakat peduli Candi Muaro Jambi (The SOMT).

Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar 2 jam di kompleks Candi Muaro Jambi tersebut, DR. Benoy yang merupakan salah satu inisiator yang mendorong Komplek Bodh Gaya di India diakui oleh dunia melalui UNESCO menjadi World Heritage, mengatakan bahwa kunjungan singkat ini merupakan kunjungan awal sebagai pembuka jalan untuk membangun suatu bentuk kerjasama dalam mewujudkan Twin Sites (Situs Kembar) antara Candi Muaro Jambi dan Kompleks Nalanda di India. DR. Benoy juga berjanji akan membantu Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Situs Candi Muaro Jambi menjadi World Heritage, dengan membagi pengalamannya dalam menyusun hingga menjadikan Kompleks Bodh Gaya di India menjadi Situs Warisan Dunia.

Jamuan Makan Malam
Acara kunjungan ini dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh The SOMT bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi di Hotel Wiltop pada malam harinya. Acara yang dibuka dengan tarian daerah Jambi, dilanjutkan sambutan dan presentasi pengenalan Situs Candi Muaro Jambi oleh Didi Wurijanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.

Kemudian Acara dilanjutkan dengan sambutan dan ucapan selamat datang di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari Fachrori Umar selaku Wakil Gubernur Provinsi Jambi yang mewakili masyarakat & pemerintah Provinsi Jambi.

Selanjutnya Marzuki Usman selaku Ketua The SOMT, juga memberikan sambutan dan memaparkan berbagai program kerja yang telah dan akan dijalankan oleh The SOMT, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari DR. Benoy. Dalam Sambutannya, Dr. Benoy juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besar kepada Bapak Hidayat sebagai salah satu pengurus The SOMT, yang telah mengundang serta membiayai seluruh biaya perjalanan Dr. Benoy dari India ke Jambi (PP) secara pribadi.

Acara jamuan makan malam dilanjutkan dengan saling tukar cindera mata antara DR. Benoy dengan Fachrori Umar (Wakil Gubernur Provinsi Jambi) dan antara DR. Benoy dengan Marzuki Usman. dan dilanjutkan dengan sumbangan lagu daerah Jambi yang dibawakan khusus oleh wagub, Fachrori Umar yang dipersembahakan khusus untuk para tamu undangan. Jamuan makan malam ini selanjutnya ditutup dengan musik dan tarian khas Jambi. (taem The SOMT)

3 Mar 2011

Ratusan Warga Menentang Eksekusi Tanah

JAMBI - Dengan membentangkan kayu, batu dan ban bekas di tengah jalan, ratusan warga Kampung Manggis Kota Jambi, Kamis pagi menentang eksekusi tanah yang hendak dilakukan pihak Pengadilan Negeri Jambi.
Proses eksekusi sepuluh rumah di Rt 10, Kelurahan Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi berlangsungsung a lot. Sejak pagi ratusan warga sudah berkumpul untuk menghalangi proses eksekusi.

Perlawanan yang dilakukan warga tersebut dilakukan untuk mempertahankan hak sepuluh rumah warga setempat yang hendak digusur karena kalah dalam dipersidangan hingga tingkat Mahkamah Agung.

Protes tidak hanya dilakukan oleh warga yang rumahnya bermasalah, tetapi juga puluhan anak Sekolah Dasar Negeri 18 yang sebagian ruang kelasnya akan ikut digusur.

Karena mendapat tentangan dari warga, pihak Pengadilan Negeri Jambi akhirnya hanya bisa mengeksekusi empat rumah dari sepuluh rumah yang rencananya akan dieksekusi.
Proses eksekusi ini dijaga ketat ratusan petugas kepolisian dari Polresta Jambi.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihak panitera, polisi dan warga akhirnya melakukan dialog dan disepakati hanya akan mengeksekusi empat rumah saja karena pihak yang bersangkutan sudah bersedia dipindahkan.

Sengketa tanah antar anggota keluarga ini sebenarnya sudah terjadi puluhan tahun silam,
tanah seluas 3.100 meter persegi ini awalnya dihibahkan oleh kakek ahli waris yakni Hasan Bontet kepada salah seorang anggota keluarga mereka, oleh cucu sang pemilik tanah yang dihibahkan ini kemudian dibuatkan akta tanahnya dan berencana akan dijualnya.

Merasa tanah ini sudah dihibahkan oleh almarhum kepada 10 kepala keluarga yang menempati tanah ini pun kemudian menggugat Yusuf dipengadilan hingga ke tingkat MA, namun keputusan Mahkamah Agung memenangkan pihat tergugat karena memegang sertifikat tanah. (nug-rom)

2 Mar 2011

Sun Go Kong Perlu Dilatih, Sebelum Dilepasliarkan

JAMBI - Delapan ekor orang utan berasal dari Sumatera Utara dan Aceh yang dikirim ke Jambi untuk dilepasliarkan.

Sebelum dilepasliarkan ke habitatnya di hutan, hewan yang dilindungi tersebut harus menempuh beberapa latihan agar nantinya mampu bertahan hidup di alam bebas.
Kedelapan orang utan yang akan dilepasliarkan ke alam tersebut merupakan sebuah bukti, makin terdesaknya habitat orang utan karena alih fungsi hutan dan perambahan, sehingga mereka dengan mudah ditangkap bahkan dibunuh oleh manusia.

Delapan ekor orang utan yang berasal dari Sumatera Utara dan aceh/ dikirimkan ke Jambi untuk dilepasliarkan//

Kedelapan hewan yang dilindungi ini sudah sampai di Kota Jambi, setelah melakukan perjalanan dari Stasiun Karantina Orang Utan di Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Orang Utan ini masing-masing dinamai Masita (18), Meutia (18), Morgan (1,5), Sun Go Kong (6), Mambo (4), Jarot Pakpahan (4), Meriam (4) dan Penny (4).

Delapan ekor orang utan ini dibawa melalui jalur darat menggunakan sebuah truk/ dan dikawal oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut dan lima diantaranya kini berada di kandang sementara di kantor Frakfrut Zoological Society (FZS) Jambi.

Sementara tiga orang utan lainnya langsung dibawa ke Stasiun Reintroduksi Orang Utan yang terletak di Stasiun Sungai Pengiang, di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. (nug)

http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/

Musik Klasik Yang Masih Bertahan

JAMBI - Salah satu tradisi yang menarik dan masih dilakukan oleh warga Tionghoa adalah musik tradisional, musik klasik ini dimainkan untuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka dirumah duka. Penampilan musik klasik tersebut biasanya hanya diundang jika yang meninggal berusia 50 tahun keatas.
Sedangkan jika yang meninggal dunia masih muda atau di bawah 50 tahun, dianggap sebagai pantangan. “Hanya saja, pantangan hanya bagi sebagian orang saja. Ada beberapa keluarga yang pernah mengundang kita untuk tampil saat pihak keluarga yang meninggal masih muda. Sebenarnya sangat jarang dilakukan, tetapi jika kita diundang, kita tetap hadir,” ujar Abu, pengurus grup musik dari Perkumpulan Teo Chew Jambi yang sering tampil di suasana duka ini.

Menurut pria yang gemar bermusik sejak berusia muda ini bahwa pihak keluarga biasanya memang merasa lebih terhibur jika ada grup musik yang tampil saat mereka berada dalam suasana duka, bukan sebaliknya. Tentu saja, ini memberikan efek psikologis yang berbeda bagi keluarga yang baru ditinggalkan. Ini karena biasanya grup musik ini tampil selama tiga hari atau selama jenazah belum dikebumikan atau dikremasi.

Tampil di saat suasana duka tentunya harus sedikit berbeda. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu sendu dan lebih klasik. Musik seperti ini dipercaya bisa memberikan pengaruh yang berbeda bagi jiwa yang sedang bersedih. “Ada lagu khusus yang kita bawakan. Berbeda saat kita tampil di beberapa tempat dan suasana yang berbeda. Kadang kita juga menampilkan lagu dan musik atas permintaan keluarga dan tamu yang hadir.”

Grup musik yang berada di bawah naungan Perkumpulan Teo Chew Jambi ini sudah terbentuk sejak 1970-an. Tidak ada nama khusus yang diberikan dalam grup ini. “Ini karena grup musik ini bagian dari bidang seni dan budaya yang ada di Perkumpulan Teo Chew Jambi. “Karena kita merupakan anggota dalam bidang seni dan budaya, maka kita tetap menggunakan nama yayasan,” ujar Abu, yang juga menjadi penanggung jawab dalam grup musik ini.

Menurutnya, walaupun ada remaja yang tertarik, jumlahnya sangat sedikit. “Paling hanya satu atau dua orang saja dan kita pun harus mencari waktu yang pas untuk melatih mereka. Kalau jumlahnya sekalian banyak kan lebih enak. Jadi, hingga sekarang, kita sangat kesulitan untuk mencari regenerasi,” jelasnya.