10 Apr 2012
Hotel Tiga Dewa di China
Jika selama ini kita mengenal bangunan hotel secara konvensional tapi lain halnya dengan bangunan hotel yang satu ini. Sebuah hotel di China, provinsi Hebei tepatnya di kota Yanjiao, terdapat bangunan hotel yang sangat unik dan kreatif.
Gambar bangunan diatas adalah Tianzhi Hotel. Hotel ini mempunyai bentuk bangunan yang berbeda dengan yang lain. Bangunan hotel berbentuk para tokoh ajaran agama Tao. Mereka bertiga dikenal dengan nama Fu, Lu dan Shou. Arti nama dari ketiga tokoh tersebut yaitu Keberuntungan, Kemakmuran dan Panjang Umur.
8 Apr 2012
Vihara Amrta Menyambut Trisuci Waisak Dengan Kegiatan Catur Gajah
JAMBI – Tidak terasa bulan Suci Waisak telah diambang pintu, berbagai persiapan telah dipersiapkan oleh vihara-vihara di berbagai daerah.
Untuk memeriahkankan Trisuci Waisak 2556/ BE yang jatuh pada 6 Mei 2012 ini, vihara Amrta di Jalan Untung Sorupati, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mulai menata ruang tempat ibadah hingga melakukan berbagai kegiatan, diantaranya pertandingan olah raga Xiangqi (Catur Gajah) dari negara Cina.
Pertandingan dibagi dalam dua kategori dan terbuka untuk umum, yakni putra dan putri, pertandingan di halaman vihara Amrta seusai kebaktian vihara, mulai pukul 09.30 hingga selesai.
"Pertandingan Xiangqi (catur Gajah terbuka untuk umum, sehingga setiap pencinta Xiangqi dapat ikut berbaur tanpa membedakan suku agama dan ras," kata Ketua Panitia kegiatan Waisak di Vihara Amrta, Hendra.
Dia mengatakan, dalam rangka menyambut puncak perayaan Tri Suci Waisak 2556 tahun ini, vihara sengaja mengadakan pertandingan Xiangqi (catur Gajah dengan kerja sama dengan Pengurus provinci Persauan Xiangqi Indonesia (Pengprov Pexi Jambi).
Tampaknya banyak peminat dari generasi muda vihara Amrta yang ikut ambil bagian dalam pertandingan Xiangqi menyambut Trisuci Waisak 2556/ BE (Romy)
6 Apr 2012
Candi Muara Takus, Candi Paling Misterius di Indonesia
Dari kejauhan, kompleks Candi Muara Takus sudah terlihat unik. Berbeda dengan candi di Pulau Jawa yang berdiri terbuka, candi di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, ini dikungkung tembok. Bagian paling luar kompleks dikelilingi tembok tanah atau tanggul kuno setinggi 2 meter memanjang sekitar 4 kilometer hingga mencapai pinggiran Sungai Kampar Kanan.
Gugusan candi dikelilingi tembok setinggi satu meter seluas berukuran 74 x 74 meter. Setelah masuk ke kompleks candi, segera nampak keunikan lainnya. Candi-candi di sana, seperti juga candi di Muaro Jambi dan di kawasan Padanglawas Utara, Sumatera Utara, dibangun dengan batu bata merah, bukan batu andesit seperti kebanyakan candi di Jawa.
Gugusan candi dikelilingi tembok setinggi satu meter seluas berukuran 74 x 74 meter. Setelah masuk ke kompleks candi, segera nampak keunikan lainnya. Candi-candi di sana, seperti juga candi di Muaro Jambi dan di kawasan Padanglawas Utara, Sumatera Utara, dibangun dengan batu bata merah, bukan batu andesit seperti kebanyakan candi di Jawa.
Maklumlah, kawasan itu dataran rendah, sehingga batu alam sulit dijumpai. Entah bagaimana teknologinya, bangunan batu bata merah itu ternyata sanggup bertahan dan tak termakan usia. Sebagai objek wisata sejarah dan budaya, kompleks candi peninggalan agama Budha yang berjarak 135 kilometer dari Kota Pekanbaru ini cukup menarik perhatian masyarakat.
Umat Budha setempat bersembahyang rutin di candi itu. Sejak beberapa tahun belakang ini, candi tersebut dijadikan sebagai lokasi upacara peringatan hari suci Waisak. Masyarakat non-Budha, termasuk dari luar Provinsi Riau, banyak yang berwisata ke candi ini.
Sayangnya, misteri masih menyelimuti riwayat kompleks candi ini. Sejumlah ahli kepurbakalaan mengaitkan keberadaan wilayah dan gugusan candi itu dengan Kerajaan Sriwijaya. Ada juga yang mengaitkannya dengan keberadaan Kerajaan Melayu. Seorang sarjana Belanda, J.L. Moens, menyebutkan bahwa Muara Takus pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.
Umat Budha setempat bersembahyang rutin di candi itu. Sejak beberapa tahun belakang ini, candi tersebut dijadikan sebagai lokasi upacara peringatan hari suci Waisak. Masyarakat non-Budha, termasuk dari luar Provinsi Riau, banyak yang berwisata ke candi ini.
Sayangnya, misteri masih menyelimuti riwayat kompleks candi ini. Sejumlah ahli kepurbakalaan mengaitkan keberadaan wilayah dan gugusan candi itu dengan Kerajaan Sriwijaya. Ada juga yang mengaitkannya dengan keberadaan Kerajaan Melayu. Seorang sarjana Belanda, J.L. Moens, menyebutkan bahwa Muara Takus pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.
Pandangan ini didasarkan pada tafsirannya atas catatan pendeta Budha asal Cina, I-tsing, yang pernah tinggal di kerajaan itu untuk mempelajari tata bahasa Sanskerta pada 672. Persinggahan I-tsing dilakukan dalam perjalanan dari Kanton menuju Nalanda, pusat pendidikan agama Budha di India.
Dari Sriwijaya, pendeta itu sempat menetap di Kerajaan Melayu selama dua bulan, lalu berlayar dan tinggal sebentar di Kedah. Sekembali dari Nalanda pada 685, ia mendapati bahwa Kerajaan Sriwijaya telah meluaskan kekuasaannya dan menjadikan Kerajaan Melayu sebagai daerah taklukannya.
Menurut Moens, catatan I-tsing yang menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya pada tengah hari orang berdiri tanpa bayangan merujuk pada lokasi di garis khatulistiwa. Lalu lokasi Muara Takus berada dekat dengan pertemuan dua sungai, Kampar Kanan dan Batang Mahat, yang menjadi jalur perdagangan yang ramai.
Tambahan lagi, terdapat bukti bahwa pusat kerajaan itu sering berpindah mengikuti jalur perdagangan yang ramai. Ia pun menyimpulkan, setelah menguasai Kerajaan Melayu, pusat Kerajaan Sriwijaya pindah ke Muara Takus. Tapi menurut Prof. Dr. Herwandi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, banyak sarjana yang memperkirakan bahwa Kerajaan Melayu yang dikuasai Sriwijaya ketika itu berlokasi di Jambi sekarang.
Perkiraan ini terutama berdasarkan pada hasil penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera pada 1950-an. Hasil penelitian itu menyimpulkan, pada abad ketujuh, Jambi dan Palembang masih berada dekat dengan laut. "Makin ke sini, menurut para ahli pantai, daratan pantai timur ini bertambah 75 meter setiap tahun," ujarnya.
Selain itu, dilihat dari letaknya, Jambi memiliki kedudukan lebih strategis dalam lalu lintas pelayaran dan jalur perdagangan dari India ke Cina, juga Jawa. Lebih-lebih, di Jambi ada peninggalan kompleks candi Budha yang sangat luas. Pakar sejarah dan filologi Indonesia pun, seperti Slamet Muljana, lebih cenderung menyatakan bahwa Kerajaan Melayu ketika itu terletak di muara Sungai Batanghari atau Jambi sekarang.
Lepas dari pro-kontra soal riwayat Muara Takus itu, satu hal dapat dipastikan: gugusan candi di Muara Takus ditemukan geolog berkebangsaan Belanda, Cornet de Groot, pada 1860. Memang, temuan ini tidak menjawab pertanyaan kapan pastinya kompleks candi itu dibangun. J.L. Moens, sesuai dengan kesimpulannya ihwal pusat Kerajaan Sriwijaya, memperkirakan bahwa kompleks candi itu dibangun pada abad ketujuh.
Pakar arkeologi Jerman, F.M. Schnitger, berpandangan lain lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada 1935, 1936, dan 1938, ia menyatakan kompleks candi itu dibangun pada abad ke-11 dan ke-12. Namun ada pakar lainnya menyatakan bahwa candi-candi itu dibangun pada masa sebelum itu, yakni sekitar abad ke-10.
Sayangnya, belum ditemukan prasasti atau catatan sejarah yang menentukan kapan pastinya kompleks candi Budha Tantrayana itu dibangun. Tabir sejarah Candi Muara Takus boleh jadi sedikit terbuka dari prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit tahun 604 Saka, yang bertepatan dengan tahun 683 Masehi.
Dalam prasasti itu tertulis bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, penguasa Sriwijaya pada masa itu, melakukan perjalanan naik perahu membawa puluhan ribu tentara. Perjalanan dari Minanga Tamwan ini dilakukan pada hari ketujuh bulan Jesta ke arah selatan. Ada sejarawan yang menafsirkan, kawasan Minanga Tamwan adalah kawasan Muara Takus sekarang.
http://menujuhijau.blogspot.com/2012/02/candi-muara-takus-candi-paling.html#ixzz1lZisnacp
Dari Sriwijaya, pendeta itu sempat menetap di Kerajaan Melayu selama dua bulan, lalu berlayar dan tinggal sebentar di Kedah. Sekembali dari Nalanda pada 685, ia mendapati bahwa Kerajaan Sriwijaya telah meluaskan kekuasaannya dan menjadikan Kerajaan Melayu sebagai daerah taklukannya.
Menurut Moens, catatan I-tsing yang menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya pada tengah hari orang berdiri tanpa bayangan merujuk pada lokasi di garis khatulistiwa. Lalu lokasi Muara Takus berada dekat dengan pertemuan dua sungai, Kampar Kanan dan Batang Mahat, yang menjadi jalur perdagangan yang ramai.
Tambahan lagi, terdapat bukti bahwa pusat kerajaan itu sering berpindah mengikuti jalur perdagangan yang ramai. Ia pun menyimpulkan, setelah menguasai Kerajaan Melayu, pusat Kerajaan Sriwijaya pindah ke Muara Takus. Tapi menurut Prof. Dr. Herwandi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, banyak sarjana yang memperkirakan bahwa Kerajaan Melayu yang dikuasai Sriwijaya ketika itu berlokasi di Jambi sekarang.
Perkiraan ini terutama berdasarkan pada hasil penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera pada 1950-an. Hasil penelitian itu menyimpulkan, pada abad ketujuh, Jambi dan Palembang masih berada dekat dengan laut. "Makin ke sini, menurut para ahli pantai, daratan pantai timur ini bertambah 75 meter setiap tahun," ujarnya.
Selain itu, dilihat dari letaknya, Jambi memiliki kedudukan lebih strategis dalam lalu lintas pelayaran dan jalur perdagangan dari India ke Cina, juga Jawa. Lebih-lebih, di Jambi ada peninggalan kompleks candi Budha yang sangat luas. Pakar sejarah dan filologi Indonesia pun, seperti Slamet Muljana, lebih cenderung menyatakan bahwa Kerajaan Melayu ketika itu terletak di muara Sungai Batanghari atau Jambi sekarang.
Lepas dari pro-kontra soal riwayat Muara Takus itu, satu hal dapat dipastikan: gugusan candi di Muara Takus ditemukan geolog berkebangsaan Belanda, Cornet de Groot, pada 1860. Memang, temuan ini tidak menjawab pertanyaan kapan pastinya kompleks candi itu dibangun. J.L. Moens, sesuai dengan kesimpulannya ihwal pusat Kerajaan Sriwijaya, memperkirakan bahwa kompleks candi itu dibangun pada abad ketujuh.
Pakar arkeologi Jerman, F.M. Schnitger, berpandangan lain lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada 1935, 1936, dan 1938, ia menyatakan kompleks candi itu dibangun pada abad ke-11 dan ke-12. Namun ada pakar lainnya menyatakan bahwa candi-candi itu dibangun pada masa sebelum itu, yakni sekitar abad ke-10.
Sayangnya, belum ditemukan prasasti atau catatan sejarah yang menentukan kapan pastinya kompleks candi Budha Tantrayana itu dibangun. Tabir sejarah Candi Muara Takus boleh jadi sedikit terbuka dari prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit tahun 604 Saka, yang bertepatan dengan tahun 683 Masehi.
Dalam prasasti itu tertulis bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, penguasa Sriwijaya pada masa itu, melakukan perjalanan naik perahu membawa puluhan ribu tentara. Perjalanan dari Minanga Tamwan ini dilakukan pada hari ketujuh bulan Jesta ke arah selatan. Ada sejarawan yang menafsirkan, kawasan Minanga Tamwan adalah kawasan Muara Takus sekarang.
http://menujuhijau.blogspot.com/2012/02/candi-muara-takus-candi-paling.html#ixzz1lZisnacp
Akses Internet WiFi Akan Tersedia di Pesawat Garuda
KOMPAS.com - Tak lama lagi, penumpang pesawat maskapai Garuda Indonesia bisa ber-internet ria di atas kabin pesawat. Sebab, maskapai pelat merah ini akan menyediakan fasilitas akses Wireless Fidelity atau WiFi bagi penumpang yang ikut terbang.
Pujobroto, Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk mengatakan, pemasangan instalasi akan dilakukan bertahap mulai tahun ini. Targetnya, Oktober 2012 sudah ada pesawat milik Garuda Indonesia yang bisa menjalankan in flight connectivity ini.
“Akses internet nantinya bisa dinikmati semua penumpang, baik penumpang kelas bisnis maupun kelas ekonomi. Oktober kami pasang untuk rute domestik maupun luar negeri,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (5/4).
Dia pun memastikan, akses internet itu tidak akan mengganggu sistem navigasi pesawat, karena menggunakan teknologi terkini. Untuk menyediakan akses internet itu, Garuda Indonesia akan menggandeng PT Telkom.
Walaupun nanti ada koneksi WiFi, Pujobroto meyakinkan tidak ada kenaikan harga tiket penerbangan. Pasalnya, pemberian fasilitas WiFi menjadi salah satu bentuk komitmen Garuda Indonesia untuk meningkatkan pelayanan.
http://tekno.kompas.com/read/2012/04/06/16061388/
5 Apr 2012
Konser Musik di London untuk Tukang Sampah Jakarta
LONDON, KOMPAS.com — Seorang warga Inggris yang merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta menjadi sorotan ketika kegiatannya dilaporkan stasiun televisi BBC London dalam acara "Toughest Place to be a Binman".
Wilbur Ramirez, demikian nama sosok asal Inggris ini, kemudian mengelar malam dana di The 100 Club, salah satu klub musik ternama di London, guna membantu para tukang sampah di Jakarta, akhir pekan lalu. Demikian laporan ANTARA London, Senin (2/4/2012).
Dalam acara "Toughest Place to be a Binman" itu, pembawa acara membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta.
Melanjutkan sukses penayangan itu, Wilbur Ramirez, "tukang sampah" (dadakan) yang juga seniman ini tampil di The 100 Club, klub jazz ternama di Oxford Street, London.
Wilbur Ramirez, yang punya kelompok musik, dalam acara malam dana itu tampil dengan lagu berirama blues dan jazz, disaksikan sekitar 150 orang.
Hadirin ikut bergoyang selama satu setengah jam, termasuk Endang dan suaminya, Argo Onny Widjono, yang bekerja di Kedutaan Brunei, London.
"Saya sangat terharu dengan niat baik Wilbur Ramirez yang menggelar acara malam dana untuk tukang sampah di Jakarta," ujar Argo Onny Widjono.
Kepada ANTARA London, Minggu, ia menyebutkan bahwa hanya mereka berdua orang Indonesia yang hadir.
Dia mengatakan, konser musik Ramirez yang di antaranya melantunkan lagu "Mr and Mrs Jones" itu begitu memukau dan dilantunkan dengan penuh penghayatan.
"Saya kira kelompok musik Wilbur Ramirez itu kelompok musik asal-asalan. Rupanya di luar dugaan mereka sangat profesional," ujar Argo yang sudah menetap lama di London.
Ia mengaku sangat terharu karena masih ada orang asing yang memiliki perhatian terhadap nasib tukang sampah di Jakarta.
"Sayangnya dari 150 penonton, hanya kami berdua orang Indonesia," ujar ayah dua putra ini.
Ia berharap, Kedutaan Besar Republik Indonesia London (KBRI London) bisa merangkul Wilbur Ramirez dan mengundangnya untuk mengisi acara di KBRI sehingga membuka mata masyarakat Indonesia di London, lalu ikut berpartisipasi dan mengumpulkan dana.
Untuk pendidikan
Pengalaman di Jakarta menjadi tukang sampah membuat Wilbur membentuk badan dana untuk mengumpulkan bantuan bagi para tukang sampah yang ia temui, khususnya Imam Syafi dan keluarga (tukang sampah di kawasan Guntur, Jakarta).
Ramirez Charity Group berhasil menggalang dana sebesar 1.500 poundsterling atau sekitar Rp 21 juta dari penjualan tiket, belum termasuk raffle tickets malam itu.
"Saya lihat Wilbur Ramirez tampil habis-habisan dan sampai keringatan, dan ia senang sekali karena yang mau ikut membantu para tukang sampah di Jakarta banyak," tutur Endang.
Wilbur Ramirez sendiri berterima kasih kepada pengunjung dan juga anggota band, bahkan istrinya sendiri yang juga mau membeli tiket seharga 11 pound agar bisa masuk ke klub.
Seusai konser, Wilbur mengatakan bahwa tujuannya tidak hanya ingin membelikan gerobak baru bagi para tukang sampah, tetapi juga pendidikan anak-anak para tukang sampah di Jakarta.
"Saya ingin membantu Imam dan teman-temannya mendapat gerobak baru, dan mudah-mudahan bisa kami kirim ke Jakarta dalam dua atau tiga bulan ini," kata Wilbur Ramirez selepas bernyanyi di The 100 Club.
Wilbur merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta selama 10 hari dengan menemani Imam Syafi di kawasan Guntur, Jakarta Selatan, berkeliling mengumpulkan sampah di kawasan perumahan.
Pengalamannya ini mengudara dalam acara televisi BBC "Toughest Place to be... a Binman" (Tempat Tersulit untuk menjadi... Tukang Sampah) pada Februari lalu.
Wilbur mengatakan, bantuan gerobak merupakan tahap pertama, dan ia ingin menggalang dana lebih lanjut untuk membantu pendidikan anak-anak Imam serta tukang sampah lain yang ia temui di kawasan Guntur.
http://oase.kompas.com/read/2012/04/03/04151882/
292.611 Mahasiswa Asing "Menyerbu" China
JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah mahasiswa asing dari mancanegara yang menuntut ilmu di China kembali menembus rekor tertinggi. Mereka bukan saja berasal dari negara dunia ketiga, tetapi justru didominasi oleh negara-negara maju.
Korea Selatan menjadi negara "pengekspor" mahasiswanya menimba ilmu di Negeri Panda itu, disusul Amerika Serikat dan Jepang. Berdasarkan data Kementrian Pendidikan China tahun 2011 lalu, sebanyak 292.611 mahasiswa asing dari 194 negara, termasuk mahasiswa Indonesia, belajar di China. Jumlah itu naik 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka belajar di 660 institusi pendidikan di seluruh wilayah China.
"Ini memberikan gambaran, bahwa China juga menjadi salah satu tujuan pendidikan mahasiswa mancanegara dewasa ini, termasuk mahasiswa Indonesia," kata Ir Samuel Wiyono dari Beijing Language & Culture Institute (BLCI), Kamis (5/4/2012), di sela persiapan penyelenggaraan "Pameran Pendidikan China ke-14, di kantornya di Mangga Dua Square, Jakarta.
Tahun ini, Pameran Pendidikan China ke-14 akan diselenggarakan di tiga wilayah. Di Jakarta, pameran berlangsung pada 21-22 April di Mangga Dua Square. Sementara itu, pada 25-26 April pameran akan dilaksanakan di Hotel Fave, Denpasar, Bali, dan pada 28-29 April di Hotel Tunjungan, Surabaya. Pameran rencananya diikuti 24 perguruan tinggi dan sekolah dari 16 kota besar di China, baik dari kota di bagian paling Utara hingga Selatan, hingga sepanjang Pantai timur China, termasuk juga kota Beijing, Shanghai dan Guangzhou, serta kota besar lainnya.
"Karena memang mahasiswa asing tidak hanya ada di Beijing, Shanghai, atau Guangzhou saja, tapi juga kota-kota lainnya," ujar Samuel.
Beasiswa
Samuel menuturkan, beberapa universitas Pemerintah China menawarkan uang kuliah yang cukup terjangkau, mulai berkisar Rp 18 jutaan setahun (Kurs 1 RMB/Yuan = Rp 1.450).
"Itu dengan hitungan biaya hidup hampir sama di Jakarta. Belum lagi beberapa kampus lainnya menawarkan beasiswa, baik beasiswa asrama, beasiswa langsung, ataupun beasiswa provinsi jika mendaftar pada saat pameran berlangsung nanti," ujarnya.
Ia mengatakan, selain program belajar bahasa Mandarin dan sekolah menengah (SMU), tahun ini semakin banyak perguruan tinggi di China menawarkan program foundation, Program Studi (Prodi) Gelar Sarjana S-1, maupun pascasarjana (S-2) dengan pengantar bahasa Inggris, baik oleh perguruan tinggi pemerintah maupun perguruan tinggi penyelenggara gelar atau pathway dari universitas di AS, Inggris, ataupun Kanada yang berada di China.
"Untuk itu, kami ingatkan lagi, bahwa mahasiwa Indonesia program gelar yang belum menguasai bahasa Mandarin namun menguasai bahasa Inggris, bisa langsung kuliah ke jenjang gelar dengan menggunakan pengantar Inggris. Mereka tak harus belajar bahasa Mandarin terlebih dahulu, sehingga akan lebih singkat waktu studinya," katanya.
Ia mengatakan, walaupun uang kuliah dengan program pathway dari universitas AS, Inggris, atau Australia di China lebih tinggi daripada gelar universitas Pemerintah China, jika dihitung total biayanya jauh lebih rendah dibandingkan jika langsung kuliah di negaranya langsung.
"Apalagi, beberapa perguruan tinggi itu memberikan kesempatan beasiswa atau belajar bahasa Mandarin sehingga lulusannya diharapkan bisa berbahasa Mandarin walaupun mendapatkan gelar dari AS, Inggris atau Australia nantinya," kata Samuel.
Adapun di antara perguruan tinggi maupun program pathway tersebut dapat menerima siswa kelas 2 SMU atau O level. Hampir seluruh prodi itu menggunakan pengantar bahasa Inggris untuk gelar sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2). Beberapa bidang studi yang ditawarkan meliputi Bisnis Administration, International Trade (Perdagangan Internasional), Akutansi, Keuangan, Arsitektur, Pariwisata, Perhotelan, Kedokteran, Biologi, Teknik Sipil, Komputer, Mesin, Listrik, Kimia, Industri, Perminyakan, Pertambangan, Aeronautika, dan lainnya.
http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/05/18434714/
Kisah Nyata : Seorang Pramugari dan Seorang Kakek
Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.
Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.
Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
http://chillinaris.wordpress.com/2008/11/01/kisah-nyata-pengalaman-pramugari-china-airline/
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.
Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.
Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
http://chillinaris.wordpress.com/2008/11/01/kisah-nyata-pengalaman-pramugari-china-airline/
Langganan:
Postingan (Atom)





