Tampilkan postingan dengan label Makin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makin. Tampilkan semua postingan

29 Nov 2012

Sekolah Diminta Akomodasi Pendidikan Agama Khonghucu

SURABAYA, KABARWARTA - Lebih dari satu dasawarsa Agama Khonghucu diakui di Indonesia, sejak Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi orang nomor satu, dan ia mencabut PP Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Namun, hingga kini banyak hak-hak sipil warga Khonghucu yang terabaikan. Salah satunya adalah hak pendidikan Agama Khonghucu bagi siswa-siswi beragama Khonghucu.
Hak pendidikan Agama Khonghucu sebenarnya tertuang di dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Di situ disebutkan, peserta didik  wajib mendapatkan pelajaran agama dari guru yang seagama. Karena itulah, sekolah wajib menyedikan guru yang seagama.

Sekolah pun diharapkan bisa menerima dan mengakomodasi amanat undang-undang tersebut. “Baru sejak tahun 2011 ini hak pendidikan warga Khonghucu mulai kelihatan terakomodasi di beberapa sekolah. Tentunya belum maksimal di lapangan,” kata Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (matakin) bidang organisasi Pradayana Ongko Wijaya, di sela-sela pelatihan guru Agama Khonghucu yang diselenggarakan Kemenag RI di Surabaya, kemarin.

Saat ini, lanjut dia, sudah ada beberapa sekolah yang mulai memberikan pelajaran agama Khonghucu kepada anak didik beragama Khonghucu. Di Jawa Timur, baru Surabaya yang sebagian kecil sekolah mengakomodasi itu. Atas alasan itu, pelatihan guru agama Khonghucu kemarin diadakan. “Diklat ini tidak hanya dari guru Khonghucu di Jatim, tapi juga guru dari luar Jawa,” ucapnya.

Kepala Pusat Kerukunan Umat Bergama (PKUB) Kemenag RI, Ahmad Gunaryo, mengatakan, pelaksanaan pelatihan ini dilakukan secara meraton di seluruh Indonesia. Sebelum di Jawa Timur, sebelumnya pelatihan yang sama digelar di beberapa daerah, termsuk di Bangka Belitung.

Untuk kepentingan itu pula, dia mengaku telah mengusulkan pendirian sekolah tingggi agama Khonghucu. “Pelatihan ini dalam rangka memenuhi amanat undang-undang pendidikan  nasional, yang mengatakan bahwa setiap peserta didik itu harus mendapatkan pendidikan agama yang harus diberikan oleh guru yang seagama,” kata Gunaryo setelah memberikan sambutan dihadapan peserta pelatihan.(s)

http://www.portalhukum.com/berita-1493-sekolah-diminta-akomodasi-pendidikan-agama-khonghucu.html

30 Sep 2012

Ribuan Umat Khonghucu Jambi Sembahyang Tiong Ciu Cue

JAMBI – Sampai sekarang masih banyak tradisi yang dipertahankan masyarakat keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu diseluruh dunia. Salah satu diantaranya yaitu tradisi pesta kue bulan (Tiong Ciu Cue) di bulan purnama yang biasa digelar setiap tanggal 15 bulan delapan Imlek (Pe Gwee Cap Go) dengan mengelar sembahyang kue bulan dan juga tidak ketinggalan pesta kembang api dimalam harinya.
Perayaan Tiong Ciu Cue tahun ini yang jatuh pada tangga 30 September 2012 (Pe Gwee Cap Go Imlek), dirayakan di berbagai negara dan daerah di tanah air Indonesia, termasuk di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) kelenteng “Hok Kheng Tong”, yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Selain menyambut perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Phia), Makin Kelenteng Hok Kheng Tong juga melakukan kho khun (sembahyang persembahan) yang dilakukan setiap tahun, “Tiap tahun kita rayakan sembahyang Tiong Ciu Cue sekaligus melakukan kho khun“ ujar pengurus Makin Hok Kheng Tong.

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cue dilakukan, terlebih dahulu para pengurus Makin Kelenteng Hok Kheng Tong melakukan sembahyang didepan altar Tien (Tuhan), adapun maksud sebahyang tersebut adalah memberitahu sekaligus memohon ijin kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umatnya di bumi hendak merayakan Tiong Ciu Cue dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. Prosesi upacara dipimpin langsung Rohaniawan dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng.

Menurut Ramli (Lie Tiong Lam) salah satu sesepuh Makin Hok Kheng Tong, harapan kita kedepan semoga Tien (Tuhan) dapat memberikan perlindungan kepada bangsa dan negara, “Kita memohon kepada Tien (Tuhan) agar negara dapat terhindar dari segala bencana, masyarakat bisa melakukan aktifitas sehari dan warga aman sentosa, keluarga harmonis”.

Tampak hadir dalam acara akbar tersebut diantaranya, Ketua MAKIN Sai Che Tien, Darmadi Tekun (The Kien Peng), Ketua MAKIN Hok Sin Tong, Darman Wijaya (Huang Chun Hui), Ketua MAKIN Gi Hong Tong, Alex Suyanto (Oh Giok Cie), Ketua Kelenteng Sam Leng Keng, Rudy Lidra, Ketua Hok Liong Sai, Herman Suprato (Chen He Siang) serta beberapa pengusaha di Jambi.

Legenda Kue Bulan
Kue Bulan (Tiong Ciu Phia) adalah salah satu tradisi dikalangan masyarakat Tionghoa yang masih bertahan, perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Phia) yang dirayakan setiap tanggal lima belas bulan kedelapan Imlek. Tradisi tersebut juga dikenal sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur. Masyarakat Tionghoa merayakaan "zhong qiu jie" ketika bulan berada pada puncak kecerahannya disepanjang tahun.  Menurut legenda, Dewi Bulan yang tinggal di istana kaca, keluar untuk menari dibawah bayang-bayangan bulan. Kisahnya berawal ketika pada suatu masa ada sepuluh matahari bersinar bersamaan diatas langit.

Sejarah Kue Bulan atau Tiong Chiu Pia
Perkataan Tiong Chiu berasal dari kata Tiong yang arti tengah dan Chiu berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiah berarti pertengahan musim rontok.

Perayaan sembahyang kue bulan dirayakan setiap tahun tepatnya tanggal 15 bulan delapan kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2564, yang jatuh pada  tanggal 30 September 2012. Pada hari itulah bulan paling terang sepanjang tahun, karena hari itu jarak bulan dengan bumi dan bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi. (romy)

http://ayojambi.com/
http://makinjambi.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://multi-nusantara.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://makin-jambi.blogspot.com/

MAKIN Leng Chun Keng, Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Dilalui

JAMBI – Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN Leng Chun Keng) yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni II, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi mengadakan sembahyang Tiong Ciu Cui.
Selain menyambut perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu Phia), MAKIN Leng Cun Kheng Jambi sekaligus merayakan shejit (ultah) sin beng dan kho khun, untuk menghemat pengeluaran “Tiap tahun kita rayakan sembahyang Tiong Ciu Cui sekaligus merayakan shejit sin beng “ Sun Peng Sing He/ Che Liong Kong” dan kho khun” kata Lim Yong Siang.

Sehari sebelumnya prosesi akbar perayaan Tiong Ciu Cui dilakukan, terlebih dahulu para pengurus kelenteng melakukan sembahyang didepan altar Tien (Tuhan), adapun maksud sebahyang tersebut adalah memberitahu kepada sang pencipta alam semesta, bahwa umatnya hendak merayakan Tiong Ciu Cui dengan menyembahyangi Tai Im Niu Niu (Dewi Bulan) dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban. (romy)

http://ayojambi.com/
http://makinjambi.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://multi-nusantara.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://makin-jambi.blogspot.com/

4 Agu 2012

Pendidikan Agama Khonghucu Di Sekolah Dasar

Bangka, ayojambi.com - Pendidikan agama Khonghucu sudah diajarkan di SD Gajah Mada Naga Parit IV No, 58, Kecamatan  Kuday Sungailiat dan SD Swasta Sriwijaya, Jalan KH. Agus Salim No. 199 Pemali Bangka, Kabupaten Bangka sejak tahun 2007. Demikian disampaikan oleh kepala Sekolah SD Sriwijaya, Sunoto (Fu Sun) kepada China Town (1/8).
Menurut Sunoto, di SD Sriwijaya terdapat tiga ruangan untuk pendidikan keagamaan, diantaranya ruang pendidikan agama Islam, ruang pendidikan agama Khatolik dan ruang pendidikan agama Khonghucu.

Jumlah murid di SD Sriwijaya sebanyak 230 orang, yang beragama Khonghucu di sekolah tersebut sebanyak 130 orang, selebihnya beragama Kristen/ Khatolik, Islam, Buddha, namun murid yang beragama Buddha tidak banyak.

Apa jadinya nanti, jika generasi mendatang tidak dibekali dengan pendidikan yang cukup. Padahal zaman sudah begitu maju sekarang, mari kita secara bersama menumbuhkan kesadaran belajar keagamaan di tengah masyarakat, karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama.(Romy)

Matakin Bersama Sinta Nuriyah Buka Puasa Di Sungai Liat Bangka

BANGKA, ayojambi.com - Sambutan luar biasa kehadiran rombongan Matakin Pusat bersama ketua Yayasan Puan Amal Hayati di Pangkal Pinang, suasana hangat dan gembira nampak terpancar dari wajah masyarakat Naga Parit IV Kuday (Sungai Liat), Kabupaten Bangka, karena bisa bertemu muka serta dialog langsung dengan Sinta Nuryah saat Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Bhkti bagi sembako.
Warga di Kelenteng Bhakti Parit IV Kuday terlihat sabar menunggu kehadiran Ny Sinta Nuriyah Wahid. Mereka yang hadir dari bermacam suku dan agama baik Islam, Khonghucu, Budhha, Kristen, menunjukkan keluarga besar Gus Dur diterima disemua lapisan masyarakat.

Kegiatan ini atas kerja sama Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) yang dibawah naungan Matakin dengan yayasan Puan Amal Hayati yang di pimpin oleh ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid, selain bansos juga mengadakan buka puasa keliling dari kota ke kota di seluruh tanah air Indonesia.

Mantan ibu negara itu mengaku bahagia dapat bertemu dengan masyarakat baik warga keturunan Tionghoa maupun masyarakat lainnya. Ny Sinta Wahid merasa sangat senang dengan kerukunan umat beragama di Bangka yang tidak membeda-bedakan suku, agama dan ras.

Untuk tahun depan giliran Jambi sebagai tuan rumah buka bersama, rencananya ketua Matakin Provinsi Jambi, Darman Wijaya akan hadir sebagai peninjau, namun karena sesuatu hal, maka Darman Wijaya tidak dapat ikut bersama rombongan Matakin, Namun Matakin Jambi mengutuskan salah satu pengurus sebagai peninjau,

Pasalnya untuk tahun 2013 mendatang, giliran Matakin Provinsi Jambi sebagai tuan rumah dan kita mesti belajar dari daerah lain yang sudah berpengalaman, pungkas Darman Wijaya melalui Handphone (Romy)

19 Mei 2012

Umat Khonghucu Peringati Kelahiran Fu Xi

JAMBI, KOMPAS.com - Sekitar 500 umat Khonghucu di Jambi memperingati Sejit Shenming Hok Hie Tee Shien atau hari kelahiran Fu Xi, di Klenteng Sai Che Tien Kota Jambi, Rabu (16/5/2012). Fu Xi diyakini sebagai nabi pertama peletak dasar ajaran agama ini.

Umat berdatangan sejak pagi untuk bersembahyang. Menjelang siang, seluruh umat berkumpul di halaman samping klenteng untuk makan bersama. Peringatan itu diakhiri sejumlah acara hiburan.

Rohaniawan Tertinggi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Xs Tjandra Muljadi, menjelaskan, Fu Xi sebagai nabi pertama yang mengajarkan manusia untuk lembut hati dan tekun bekerja.

Ajaran ini dia berikan pada 5.000 tahun sebelum Masehi. Saat itu, kondisi masyarakat di daratan Tiongkok saling memperebutkan kepentingan masing-masing dan menjatuhkan satu sama lain.

"Ajaran yang dibawa Fu Xi menjadi cikal bakal tumbuhnya keyakinan Rujiao atau Jikaw, yang berlanjut pada ajaran Konfusius, dan kini menjadi agama Konghucu," ujar Muljadi.

Peringatan ini dihadiri Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Wawan Wiratma, Kepala Bidang Bimbing an Masyarakat Khonghucu Kementrian Agama Dra. Hj. Emma Nurmawati, MM anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Jambi, dan ratusan umat setempat.

http://regional.kompas.com/read/2012/05/16/18224883/

17 Jan 2012

Bersihkan Klenteng Menyambut Imlek 2563

JAMBI - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2563, umat Khonghucu diberbagai klenteng pada membersihkan tempat sembahyang (altar) roh suci (Sen Ming/dewa-dewi).

Tidak hanya tempat-tempat ibadah umat Khonghucu yang dibersihkan, melainkan di rumah-rumah warga Tionghoa yang beragama Khonghucu juga pada membersihkan altar leluhur mereka, ada yang memasang lampion untuk menambah kemeriahkan di hari raya imlek.
Dari pantauan ayojambi.com, Selasa siang (17/1-2012) di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi, tampak pengurus klenteng tengah membersihkan altar-altar roh suci (bahasa kok kien Kim Sin), satu persatu Kim Sin tersebut diturunkan lalu dibersihkan dengan cara dipel/ lap.

Menurut keterangan Rohaniwan Makin Sai Che Tien, The Lien Teng di klenteng Makin Sai Che Tien, bahwa kebiasaan membersihkan tempat ibadah Khonghcu atau rumah-rumah warga Tionghoa dilakukan pada tanggal 23 dan 24 Imlek, sebelum dilakukan pembersihan terlebih dahulu mereka mesti meminta izin kepada para roh suci atau shttp://www.blogger.com/img/blank.gifen ming yang duduk didalam altar klenteng dengan cara sembahyang disertai berbagai sesajen seperti 10 jenis ceng cai dan buah-buahan. “kita mesti minta ijin kepada para Sien Ming (roh suci) yang ada di dalam klenteng,” setelah memperoleh izin barulah mereka mulai membersihkan altar dewa-dewa dengan kain yang bersih yang baru.

Tradisi ini telah ada sejak zaman dahulu menjelang datangnya hari raya imlek, selain membersihkan klenteng, bagi masyarakat dari generasi tua melakukan bersih-bersih rumah diawali altar para leluhur maupun altar roh suci (sen ming) dilanjuti bersihkan dapur karena dapur merupakan bagian dari rumah yang berjasa dalam memberi kehidupan rumah tangga. Trasidi ini hanya dilakukan oleh warga Tionghoa yang menganut agama Khonghucu.

Selain itu, bersembayang kepada para leluhur serta meminta perlindungan untuk tahun depan, semoga tahun yang baru membawa harapan yang baru (Xin Nian Ru Yi).

Kebiasaan membersihkan rumah ini menurut catatan kitab kuno Lu Si Cun Qiu sudah ada sejak jaman pemerintahan Yao dan Sun.

Selanjutnya ada yang baru memasang Teng Long dan Aksesories yang bernuansa imlek, sedangkan ibu rumah tangga anak gadisnya mulai membuat kue lebaran. (Romy)

11 Jun 2011

Pembongkaran Klenteng Leng Chun Keng

JAMBI – Jajaran pengurus Makin Leng Chun Keng yang terletak di Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu pagi (11/6-2011) pukul 07.00 Wib mulai memindahkan para shen ming (roh suci) yang berada di altar klenteng Leng Chun Keng, sebelum lakukan pemindahan, terlebih dahulu para pengurus Makin Leng Chun Keng memohon ijin kepada Tien (Tuhan red) dan para shen ming yang berada di klenteng Leng Chun Keng.
Untuk pengantinya Makin Leng Chung Keng akan membangun klenteng Leng Chun Keng baru ditempat yang sama, karena klenteng lama yang dibangun semi permanen pada tahun 1986 itu sudah tidak layak dipakai sebagai tempat sembahyang umat Khonghucu, pasalnya atap sudah pada bocor.

Prosesi pemindahan shen ming dipimpin langsung oleh rohaniwan Makin Sai Che Tien, The Lien Teng, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan Sun Peng Sing He/ Cie Liong Kong (shen ming/ roh suci). Pengurus Makin Leng Chun Keng membangun sementara tempat ibadah buat umat yang akan lakukan sembahyang.

Diawali pemindahan shen ming “Sun Peng Sing He/ Cie Liong Kong” disusul oleh shen ming yang lainnya, lalu mereka kembali lakukan sembahyang kepada Sun Peng Sing He/ Cie Liong Kong (baca pemberitahuan) bahwa semua shen ming telah mereka pindahkan.

Selanjutnya, roh suci Sun Peng Sing He/ Cie Liong Kong merasuki salah satu kitong/ tatong langsung meminpin pembongkaran klentengnya secara simbolis, diawali altarnya, lalu setiap sudut klenteng dan lain sebagainya. Hari Senin baru resmi pembongkaran klenteng dilakukan dan menunggu intruksi Sun Peng Sing He kapan akan dilakukan kembali pencarian feng shui yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.

Ujar Lim Han Mong (Sukardi) Ketua Makin Leng Chun Keng, “Kita akan undang kembali Sun Peng Sing He untuk menentukan jadwal pencarian feng shui untuk posisi pembangunan klentengnya, klenteng lama sudah tidak layak dipakai, karena atap pada bocor.” Katanya Lim Han Mong. (rom)

13 Apr 2011

Mencari Bibit Rohaniwan

JAMBI - Dalam rangka mencari bibit rohaniawan Khonghucu di Provinsi Jambi, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) pusat bekerjasama dengan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Jambi menggelar pelatihan calon Rohaniwan yang dibuka siang tadi (13/4) di Klenteng Hok Sin Tong di RT. 23 Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung. Acara yang digelar selama tiga untuk mencari bibit Rohaniwan Khonghucu yang jumlahnya sangat terbatas di Provinsi Jambi.
Menurut Xs. Djaengrana Ongawijaya, Dewan Rohaniwan Matakin yang juga sebagai pembicara bahwa pelatihan ini lebih memfokuskan mencari Rohaniwan yang mampu memimpin doa (upacara) dan memimpin pernikahan. Ini juga salah satu kegiatan Matakin untuk mengembangkan ajaran dan keahlian umat Khonghucu diberbagai daerah di Indonesia dalam memperdalam ajaran Khonghucu. “Kita berharap selama tiga hari ini bisa memberikan pendidikan yang cukup sehingga para peserta bisa langsung kita resmikan sebagai Rohaniwan yang langsung terjun kemasyarakat. Memimpin doa dan upacara,”bebernya saat ditemui setelah acara pembukaan.

Saat pembukaan, turut hadir Drs. Sayuti, Pembinas Agama Khonghucu Kementrian Agama Provinsi Jambi bahwa saat ini, pihaknya sangat mendukung kegiatan yang bernilai positif tersebut. Ini mengingat keterbatasan jumlah ahli atau rohaniwan di Provinsi Jambi. “Tentunya kita sangat mendukung kegiatan ini. Apalagi, selama ini kegiatan yang sama sangat jarang sekali diadakan dan kita berharap dengan adanya kegiatan ini, semakin banyak kegiatan yang dilakukan oleh umat Khonghucu sehingga semakin berkembang dengan baik,”bebernya.

Pada hari pertama, peserta diberikan berbagai materi seperti legalisasi Agama Khonghucu, pengenalan Matakin, Keimanan serta kelengkapan dan tata cara sembahyang yang upacara. Semua pemateri diberikan langsung oleh pihak Matakin Pusat. “Kita juga lengkapi dengan berbagai referensi seperti buku dan majalah yang memang jumlahnya terbatas di Provinsi Jambi ini,”ujarnya.

Dari pantauan dilapangan, peserta terlihat cukup bersemangat mengikuti pelatihan. Sebagian besar peserta adalah pengurus Klenteng di Jambi yang memang selalu terjun langsung dalam setiap upacara dan ritual di beberapa Klenteng di Kota Jambi. “Dengan kehadiran para pengurus Klenteng, mereka bisa langsung mempraktekkan keahlian mereka yang sudah didapat di pelatihan ini,”bebernya.

Pembukaan Pelatihan Rohaniwan Khonghucu Dihadiri 19 Klenteng

JAMBI - Pelatihan Calon Rohaniwan yang digelar oleh Matakin Pusat ini diikuti oleh 19 utusan klenteng dari 27 Klenteng yang ada di Provinsi Jambi. Ini dikoordinir oleh empat Makin Jambi yaitu Makin Sai Che Tien, Leng Chun Keng, Gie Hong Tong dan Hok Sin Tong. “Kita berharap dengan kegiatan ini, semua Klenteng bisa bekerjasama dengan baik,”ujar The Kien Peng (Darmadi Tekun), Ketua Makin Sai Che Tien Jambi.
Pria berkacamata ini juga mengharap agar setiap Klenteng di Provinsi Jambi memiliki Makin masing masing sehingga setiap upacara dan ritual yang digelar sudah sesuai dengan ajaran Konghucu yang baik dan benar. Dia juga menambahkan bahwa selama ini, ajaran asli tentang Khonghucu sedikit kabur sehingga ada beberapa umat yang melakukan sembahyang belum sesuai dengan standar Khonghucu yang sebenarnya. “Inilah kendala yang sering dihadapi, peraturan dan tata cara sembahyang yang kadang masih abu abu serta para Rohaniwannya yang sangat terbatas. Sebagian Klenteng harus mengundang Rohaniawan dari Provinsi Jambi untuk memimpin sebuah upacara,”ujarnya.
Maka, dengan kegiatan ini, diharapkan semakin banyak umat yang mengerti tentang ajaran dan tata cara sembahyang yang baik dan benar. “Diawali dengan pemahaman para pengurus Klenteng sehingga bisa diikuti oleh setiap umat yang ada,”bebernya.

Selain itu, Sayuti, pembinas Agama Konghucu Kementrian Agama Provinsi Jambi menyebutkan adanya beberapa kendala yang dihadapi dalam mendataan jumlah pemeluk agama Khonghucu dan jumlah Klenteng yang ada di Provinsi Jambi. Hingga saat ini, katanya, data yang tercatat lebih kurang 2000 umat Khonghucu di Provinsi Jambi.

Sedangkan pada saat pelatihan, sudah hadir 19 Klenteng yang ada di Provinsi Jambi. “data inilah yang belum valid. Maka, kita berharap agar Makin Jambi bisa memberikan data yang lebih akurat kepada kita agar kita bisa melaporkannya ke pihak Pusat. Kita berharap akan semakin banyak informasi dan data akurat yang bisa kita dapatkan sehingga kitapun bisa memberikan support untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh setiap Klenteng,”bebernya.