31 Jan 2012

Geng Perempuan Zimbabwe Kembali Beraksi

HARARE, KOMPAS.com — Geng perempuan yang memburu kaum lelaki untuk diperkosa kembali beraksi. Polisi Zimbabwe pun memasang kewaspadaan lebih. Menurut polisi, setidaknya dua lelaki dilaporkan menjadi korban serangan seksual pada pekan terakhir 2011, seperti dilansir Global Post, Kamis (5/1/2012).
Korban mengaku, para penyerang adalah perempuan yang menawarkan tumpangan pada mereka. Kini warga Zimbabwe, khususnya kaum lelaki, merasa khawatir bahwa geng-geng perempuan pemerkosa "kembali mencari mangsa", situs New Zimbabwe melaporkan.

Serangan-serangan seksual terhadap kaum adam itu diduga dilakukan oleh "sindikat pencari sperma" yang merajalela sejak dua tahun terakhir. Modus mereka adalah menawarkan tumpangan pada kaum lelaki di malam hari. Korban kemudian dibius dan kemudian dipaksa berhubungan seks dengan ancaman senjata tajam atau senjata api. Korban kemudian dibuang di pinggir jalan. Salah seorang korban bahkan mengaku diancam dengan seekor ular sebelum diperkosa.

Pada November lalu, tiga perempuan menjadi berita utama di media-media di seluruh Zimbabwe setelah polisi menemukan 31 kondom yang sudah terpakai, dan beberapa di antaranya berisi sperma, di mobil mereka. Media massa Zimbabwe melaporkan, ketiganya melakukan ritual "panen sperma".

Ketiga perempuan muda itu kini menjalani persidangan dengan 17 dakwaan. Dalam pemeriksaan polisi, mereka mengaku sebagai pelacur yang terlalu sibuk untuk membuang kondom-kondom bekas pakai itu. Persidangan mereka berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 26 Januari mendatang. Meskipun demikian, saat ini mereka tidak mendekam di penjara setelah dibebaskan dengan jaminan.

Meningkatnya kasus kriminalitas semacam itu diduga dipicu berbagai rumor tentang khasiat sperma, seperti bagus untuk kulit wajah, membuat rambut indah, serta obat awet muda.

Kepala kepolisian Zimbabwe, Augustine Chihuri, memperingatkan, geng-geng perempuan akan "ditindak secara profesional dan tanpa ampun."

"Saya peringatkan pada penjahat-penjahat sosial yang telah merusak tatanan, norma, dan nilai sosial dan budaya dengan aktivitas yang tak wajar terhadap kaum lelaki untuk menghentikan praktik-praktik itu," tegasnya.

http://internasional.kompas.com/read/2012/01/07/14020434/