Seperti keturunan Tjoa The Hok “蔡大福” (dari generasi ke empat) yang sengaja datang dari Singapure, Surabaya (Jatim), Jakarta, Palembang (Sumsel) dan Jambi melakukan ziarah ke makam nenek moyangnya di pemakaman masyarakat tionghoa, kilometer 7, Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru. Mereka datang ke Jambi bersama istri dan anak, kedatangan mereka ke Jambi adalah untuk melakukan ziarah makam (ceng meng/qingming) ke makam kakek dan nenek mereka bernama Tjua Ie Seng yang tidak lain adalah cucu Tjoa Tai Hok (The Hok) “蔡大福”.
Tampilkan postingan dengan label The Hok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Hok. Tampilkan semua postingan
2 Apr 2012
Keturunan The Hok Ziarah Ke Makam Leluhur
JAMBI - Anak yang soleh adalah anak yang dapat berbakti tedrhadap orangtua maupun leluhur (nenek moyang), baik dimasa mereka masih hidup diatas dunia maupun mereka telah wafat, karena tanpanya nenek moyang kita, mustahil kita akan ada terlahir di alam semesta ini.
Seperti keturunan Tjoa The Hok “蔡大福” (dari generasi ke empat) yang sengaja datang dari Singapure, Surabaya (Jatim), Jakarta, Palembang (Sumsel) dan Jambi melakukan ziarah ke makam nenek moyangnya di pemakaman masyarakat tionghoa, kilometer 7, Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru. Mereka datang ke Jambi bersama istri dan anak, kedatangan mereka ke Jambi adalah untuk melakukan ziarah makam (ceng meng/qingming) ke makam kakek dan nenek mereka bernama Tjua Ie Seng yang tidak lain adalah cucu Tjoa Tai Hok (The Hok) “蔡大福”.
Seperti keturunan Tjoa The Hok “蔡大福” (dari generasi ke empat) yang sengaja datang dari Singapure, Surabaya (Jatim), Jakarta, Palembang (Sumsel) dan Jambi melakukan ziarah ke makam nenek moyangnya di pemakaman masyarakat tionghoa, kilometer 7, Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru. Mereka datang ke Jambi bersama istri dan anak, kedatangan mereka ke Jambi adalah untuk melakukan ziarah makam (ceng meng/qingming) ke makam kakek dan nenek mereka bernama Tjua Ie Seng yang tidak lain adalah cucu Tjoa Tai Hok (The Hok) “蔡大福”.
31 Mar 2012
Tempat Peristirahatan Terakhir The Hok di Singapore
SINGAPORE - Untuk perkembangan kota di Singapura, pemeritah setempat meminta kepada semua ahli waris atau keturunan yang memiliki nisan di pemakaman Ngee Ann (UPPBR) Bukit Timah Road untuk dibongkar, jarak perjalanan dari pusat kota Singapura ke pemakaman Ngee Ann, jarak perjalanan dari pusat kota Singapora ke pemakaman Ngee Ann sekitar 24 Kilometer.
Sebagai keturunan Tjoa The Hok, tentu berkewajiban untuk mengurusi abu jenazah leluhur mereka, maka beberapa waktu lalu. cicit The Hok yang ada di Jambi melakukan ziarah ke altar abu leluhurnya mereka yang disemayamkan di Mandai Singapore.
Sebagai keturunan Tjoa The Hok, tentu berkewajiban untuk mengurusi abu jenazah leluhur mereka, maka beberapa waktu lalu. cicit The Hok yang ada di Jambi melakukan ziarah ke altar abu leluhurnya mereka yang disemayamkan di Mandai Singapore.
Berikut laporan perjalanan reporter China Town, saat mengikuti cicit “Tjoa The Hok” Supriyanto Kang. SH. MM, berziarah ke Singapore. Seusai sarapan pagi, reporter China Town berangkat dari People’s Park Center ke Crematorium dan Colombarium yang terletak di Mandai Road dengan mengunakan taxi, jarak dari kota Singapore ke Mandai Road memakan waktu setengah jam lebih. Crematorium dan Colombarium di Mandai merupakan tempat khusus penyimpanan abu jenazah yang telah dikremasikan secara umum, sebab sulitnya tempat pemakaman di Singapora, maka banyak warga Tionghoa yang meninggal di Singapore dikremasikan.
Crematorium dan Colombarium adalah tempat penyimpanan abu jenazah Tjoa Ho Siang (anak pertama The Hok) dari istri pertamanya, sedangkan abu jenazah Tjoa The Hok disemayamkan di Seng Siang Society of The Thong Kheng Charitable Institution di Geylang 29, No. 14 Singapure. sebelum Tjoa The Hok beserta keturunannya dimakamkan di Ngee Ann (UPPBR) Bukit Timah Road berdampingan.
Lokasi yang dikunjungi yaitu tempat Tjoa Hok Siang di Floor 409 No. E4-09, Setiap lantai terdapat 12 ruangan, masing-masing ruangan terdapat 40 tempat penyimpanan abu jenazah, terdiri dari kanan dan kiri. Columbarium terdiri dari blok A sampai K.
Untuk mencapai lokasi Mandai dari People’s Park dengan taxi diperkirakan memakan biaya 22 dolar Singapura, namun untuk pulang ke Kota Singapore dari Mandai sangat susah untuk mendapatkan taxi, karena mandai berada diluar kota Singapore. Hingga China Town mesti berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk mendapatkan bus kota, pada umumnya warga Singapura berziarah membawa kendaraan pribadi.
Sedangkan tempat semayam abu The Hok di Seng Siang Society Of The Thong Kheng Charitable Institution, Lorong Geylang 29 No. 14, Singapore. Yang masih dalam kota Singapore (Romy)
Crematorium dan Colombarium adalah tempat penyimpanan abu jenazah Tjoa Ho Siang (anak pertama The Hok) dari istri pertamanya, sedangkan abu jenazah Tjoa The Hok disemayamkan di Seng Siang Society of The Thong Kheng Charitable Institution di Geylang 29, No. 14 Singapure. sebelum Tjoa The Hok beserta keturunannya dimakamkan di Ngee Ann (UPPBR) Bukit Timah Road berdampingan.
Lokasi yang dikunjungi yaitu tempat Tjoa Hok Siang di Floor 409 No. E4-09, Setiap lantai terdapat 12 ruangan, masing-masing ruangan terdapat 40 tempat penyimpanan abu jenazah, terdiri dari kanan dan kiri. Columbarium terdiri dari blok A sampai K.
Untuk mencapai lokasi Mandai dari People’s Park dengan taxi diperkirakan memakan biaya 22 dolar Singapura, namun untuk pulang ke Kota Singapore dari Mandai sangat susah untuk mendapatkan taxi, karena mandai berada diluar kota Singapore. Hingga China Town mesti berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk mendapatkan bus kota, pada umumnya warga Singapura berziarah membawa kendaraan pribadi.
Sedangkan tempat semayam abu The Hok di Seng Siang Society Of The Thong Kheng Charitable Institution, Lorong Geylang 29 No. 14, Singapore. Yang masih dalam kota Singapore (Romy)
2 Jan 2012
Keluarga The Hok Mau Temui Walikota Jambi
TRIBUNJAMBI.COM - Keluarga besar, Tjoa The Hok, tokoh dari etnis Tionghoa yang pertama kali datang ke Jambi pada abad 19, berkeinginan membangun tugu The Hok di Kota Jambi. Namun, pihaknya masih kesulitan untuk mendapatkan lokasi. Supriyanto Kang, generasi kelima dari keturunan Tjoa The Hok yang dihubungi Tribun, Senin kemarin mengakui bahwa keluarga besar Tjoa The Hok atau yang lazim disebut dengan The Hok yang sekarang nama salah satu kelurahan di Kota Jambi, mau membangun sebuah tugu.http://www.blogger.com/img/blank.gif
"Ada memang rencana mau bertemu Pak Walikota Jambi Bambang Priyanto, untuk membicarakan rencana pembangunan tugu The Hok. Tapi kita sampai sekarang kita kesulitan mendapatkan lokasi yang berada di pusat kota," tutur Supriyanto.
Menurut dia, lokasi yang pas itu adalah masih beradhttp://www.blogger.com/img/blank.gifa di wilayah Kelurahan The Hok di mana dahulu The Hok pernah bertempat tinggal, yakni di Jalan Jend Sudirman depan Kantor DPD Golkar Kota Jambi.
"Kalau dari keluarga sudah ada kata sepakat untuk membangun tugu atau semacam monumenlah, tidak perlu besarlah yang ada. Ya mudah-mudahan sajalah, Pemerintah Kota Jambi memberi dukungan, dan sekaligus menunjuk lokasi yang tepat," ujarnya.
Keterangan yang dikumpulkan Tribun, nama The Hok memang sudah tidak asing lagi bagi warga kota Jambi. Nama ini sudah melekat, dan menjadi salah satu kelurahan di Kota Jambi yakni Kelurahan The Hok.
Tjoa The Hok adalah orang Tionghoa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jambi. Dia datang dari negara Tirai Bambu (RRC) pada 1890. Menurut riwayatnya, pertama kali datang ke Jambi The Hok bermukim di depan kantor Golkar Kota Jambi. Waktu itu di sana ada sebuah gudang asap (pengasapan karet, Red).
Ia dikenal sebagai pedagang karet, dan punya perkebunan karet. Masih dalam lingkungan rumahnya yang sekarang disebut daerah The Hok, dia membangun sebuah gudang pengasapan karet. Dia pedagang yang gigih, getah hasil sadapan warga Jambi di antaranya dijual kepada The Hok. Siapa saja warga Tionghoa yang datang ke Jambi, pasti menumpang nginap di rumahnya yang konon luas.
Tjoa The Hok, dikaruniai delapan orang anak. Tiga di antaranya laki-laki dan lima perempuan. Dari data yang didapat, The Hok punya dua istri. Keturunan The Hok bermukim di Singapura dan Cina. Sedangkan dari istri keduanya, lebih banyak tinggal di Indonesia seperti Jambi, Kuala Tungkal, Surabaya, Jakarta, Palembang, Bengkulu dan Medan. Sebagian lagi bermukim di Taiwan, Singapura, Australia dan Amerika Serikat. Tjoa The Hok wafat pada usia 90 tahun yang dimakamkan di Singapura sekitar tahun 1960 ( bulan 3, tanggal 2 imlek).
http://jambi.tribunnews.com/2012/01/02/keluarga-the-hok-mau-temui-walikota-jambi
"Ada memang rencana mau bertemu Pak Walikota Jambi Bambang Priyanto, untuk membicarakan rencana pembangunan tugu The Hok. Tapi kita sampai sekarang kita kesulitan mendapatkan lokasi yang berada di pusat kota," tutur Supriyanto.
Menurut dia, lokasi yang pas itu adalah masih beradhttp://www.blogger.com/img/blank.gifa di wilayah Kelurahan The Hok di mana dahulu The Hok pernah bertempat tinggal, yakni di Jalan Jend Sudirman depan Kantor DPD Golkar Kota Jambi.
"Kalau dari keluarga sudah ada kata sepakat untuk membangun tugu atau semacam monumenlah, tidak perlu besarlah yang ada. Ya mudah-mudahan sajalah, Pemerintah Kota Jambi memberi dukungan, dan sekaligus menunjuk lokasi yang tepat," ujarnya.
Keterangan yang dikumpulkan Tribun, nama The Hok memang sudah tidak asing lagi bagi warga kota Jambi. Nama ini sudah melekat, dan menjadi salah satu kelurahan di Kota Jambi yakni Kelurahan The Hok.
Tjoa The Hok adalah orang Tionghoa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jambi. Dia datang dari negara Tirai Bambu (RRC) pada 1890. Menurut riwayatnya, pertama kali datang ke Jambi The Hok bermukim di depan kantor Golkar Kota Jambi. Waktu itu di sana ada sebuah gudang asap (pengasapan karet, Red).
Ia dikenal sebagai pedagang karet, dan punya perkebunan karet. Masih dalam lingkungan rumahnya yang sekarang disebut daerah The Hok, dia membangun sebuah gudang pengasapan karet. Dia pedagang yang gigih, getah hasil sadapan warga Jambi di antaranya dijual kepada The Hok. Siapa saja warga Tionghoa yang datang ke Jambi, pasti menumpang nginap di rumahnya yang konon luas.
Tjoa The Hok, dikaruniai delapan orang anak. Tiga di antaranya laki-laki dan lima perempuan. Dari data yang didapat, The Hok punya dua istri. Keturunan The Hok bermukim di Singapura dan Cina. Sedangkan dari istri keduanya, lebih banyak tinggal di Indonesia seperti Jambi, Kuala Tungkal, Surabaya, Jakarta, Palembang, Bengkulu dan Medan. Sebagian lagi bermukim di Taiwan, Singapura, Australia dan Amerika Serikat. Tjoa The Hok wafat pada usia 90 tahun yang dimakamkan di Singapura sekitar tahun 1960 ( bulan 3, tanggal 2 imlek).
http://jambi.tribunnews.com/2012/01/02/keluarga-the-hok-mau-temui-walikota-jambi
Langganan:
Postingan (Atom)


