11 Mei 2012

Kerabat Korban Cecar Basarnas di Halim

JAKARTA, KOMPAS.com - Keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet100 langsung mencecar anggota Basarnas berbaju dinas oranye usai jumpa pers soal penemuan 12 korban tewas pesawat Sukhoi digelar, Jumat (11/5/2012) siang di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Dua pemuda yang anggota keluarganya turut menjadi korban kecelakaan nahas itu tak kuasa terus menyerbu dengan sejumlah pertanyaan. Anggota Basarnas berbaju oranye yang mereka cecar adalah Humas Basarnas, Gagah Prakoso.

Peristiwa itu bermula saat sejumlah wartawan hendak mewawancarai Gagah setelah jumpa pers selesai. Gagah yang sedang menjawab pertanyaan wartawan sambil berjalan menuju area VIP ini tiba-tiba didatangi dua pemuda itu. Salah seorang pemuda yang diketahui bernama Adityawarman itu langsung bertanya dengan nada tinggi.

"Saya mau tanya, Pak. Kenapa nggak dari awal Basarnas gerak kirim bantuan?" ucap Adit penuh emosi.

Menjawab itu, Gagah berkilah bahwa petugas terkendala cuaca dan kabut tebal. Tak puas dengan penjelasan tersebut, Adit langsung menimpali dengan menyatakan bahwa seharusnya Basarnas bisa memberikan harapan hidup para korban.

"Saya pernah baca Pak, di China ada peristiwa seperti ini dengan medan yang juga sulit. Tapi mereka peduli sama korban dan langsung gerak mengirimkan bantuan seperti selimut, air, dan biskuit," kata Adit.

Seorang pemuda lagi yang berperawakan sedikit tambun kemudian menimpali, "Bapak ini gimana kerja Basarnas? Kok bisa lama sekali," teriaknya.

Dua pria itu tak kuasa menahan emosi, hingga pernyataan Gagah tak lagi digubrisnya. Gagah pun kemudian lebih memilih diam dan langsung masuk ke area VIP yang hanya khusus bagi pejabat-pejabat tertentu.

Kepada wartawan, Adit mengaku kecewa dengan kinerja Basarnas yang bereaksi lambat. "Setelah lost contact harusnya bisa langsung bergerak, mereka lempar ransum. Ini bagaimana mau hidup dua hari mereka tidak diberi bantuan. Ini kebodohan," katanya.

Adit menuturkan pihak keluarga awalnya percaya Rully Dermawan, kakak sepupunya yang bekerja di Indoasia masih bertahan hidup pasca kejadian. "Setidkanya kami percaya itu. Tapi kalau sampai dua hari tidak diapa-apain, jelas tipis harapan itu meski semua yang atur Yang di Atas," katanya.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/11/15363564/