Tampilkan postingan dengan label Cetiya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cetiya. Tampilkan semua postingan

28 Agu 2011

Jelang Lebaran, Cetiya Oenang Hermawan Bagi Sembako

JAMBI – Warga kurang mampu dilingkungan Kelurahan Cempaka Putih dan Sungai Asam Jambi mendatangi Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam, Rt. 17, kelurahan Cempaka Putih, kecamatan Jelutung, kota Jambi, untuk menerima bingkisan sembako gratis dari pihak cetiya.
Sejak pukul 08.30 WIB, warga telah berkumpul dengan membentuk antrean di halaman cetiya yang tidak terlalu luas. Sebelum pembagian sembako, Bhikku Sangha Agung menyampaikan maksud dan tujuan dari pembagian sembako tersebut, setelah itu dengan cekatan para pengurus cetiya membagikan sembako gratis ini, agar warga tidak terlalu lama menunggu.

Pihak Cetiya Oenang Hermawan Jambi, melakukan aksi sosial ini, sebagai wujud kebersamaan dan keperdulian antara cetiya dengan warga masyarakat sekitar cetiya,

Seperti tahun-tahun sesudahnya, setiap hari besar, diantaranya perayaan hari besar Buddha dan Idul Fitri, pihak Cetiya Oenang Hermawan senantiasa melakukan bakti sosial dengan cara membagi-bagikan bahan kebutuhan pokok, diantaranya, Beras, Minyak Goreng, Minyak Pisang, Gula Pasir, Mie Instan dan Garam


Tahun ini menggelar baksos pembagian sembako sebanyak 200 paket yang disalurkan kepada warga masyarakat di empat rukun tetangga yang terletak di kelurahan Cempaka Putih dan kelurahan Sungai Asam Jambi.

"Ini merupakan satu bentuk kepedulian kami kepada lingkungan sekitar. Kami sadar, bahwa keberadaan kami di sini tidak bisa terlepas dari lingkungan ini." ucap Darma Metta Oenang (Ahok), diselah pembagian sembako.

Acara tersebut sebagai wujud keperdulian sesama insan dan kebersamaan untuk menuju kemenangan ini, menurut Ahok, pengurus Cetiya Oenang Hermawan kepada wartawan, “Sebagai wujud kebersamaan sesama insan Tuhan dan rasa keperdulian untuk bagi warga masyarakat yang kurang mampu untuk merayakan Idul Fitri.” Semoga bakti sosial ini dapat kita teruskan setiap tahunnya, ungkap Ahok.

Saya sangat senang bisa mendapat sembako gratis ini. Saya diberi kupon oleh ketua Rt 18, katanya kupon tersebut bisa ditukar dengan paket sembako gratis di cetiya. Tentu saya senang, dan langsung datang ke cetiya pagi ini, ujar Rumiah (65), warga Rt 18, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. (Romy)

26 Agu 2011

Puncak Perayaan Ulambana, Tjie Gwe Pua

JAMBI – Anak yang soleh, adalah anak yang berbakti kepada kedua orangtua maupun para leluhur baik dimasa mereka masih hidup di atas dunia maupun mereka telah wafat. Dimasa hidup orangtua, anak memiliki kewajiban untuk memberikan mereka makan dan mengurus keperluan kedua orangtuanya, apa lagi setelah mereka wafat, sebagai seorang anak harus selalu berdoa kepada sang Pencipta Alam Semesta agar kedua orangtuanya diberikan tempat yang layak disisinya.
Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orangtua maupun leluhurnya yang telah tiada adalah disaat puncak perayaan Ulambana yang biasa jatuh pada bulan ke-7 imlek (Tjit Gwee Pua). Menurut kepercayaan masyarakat sejak jaman dahulu, bahwa pada bulan ketujuh imlek ini pintu neraka telah terbuka, maka pada bulan itu arwah (roh) yang berada di alam baka diperkenankan kembali kerumah masing-masing, sedangkan arwah (roh) yang tidak diurus oleh anak atau keluarganya, tentu akan menjadi arwah (roh) gentayangan.


Kini banyak tempat tempat ibadah yang melakukan perbuatan kebajikan dengan cara pelimpahan jasa, seperti di Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi jumat malam 26 Agustus melakukan ulambana atau pelimpahan jasa kepada para orangtua maupun leluhur mereka yang telah mendahului mereka.

Sebelum prosesi ulambana atau pelimpahan jasa dimulai, terlebih dahulu mereka lakukan pembacaan Paritta yang di pimpim oleh para bhiksu dari Thailand, diantaranya Bhante Khamsai Sumano, Bhante Khampun Suvannatharo, Bhante Bandit Bandito, Bhante Sujit Jittakaro dan Bhante Panya Kosanlatejo. Selanjutnya ceramah dan pesembahan jubah kepada Bhikku Sangha Agung.

Seusai prosesi pembacaan Paritta, dilanjutkan penyalahan lilin dan dupa serta pemercikan air suci diatas sesajian yang akan dipersembahkan buat para orangtua atau leluhur mereka, diiringi doa dari keluarga yang hadir.

Darma Pawarta Oenang (Hasan), selaku pengurus Cetiya Oenang Hermawan Jambi mengatakan, acara ini sama seperti di vihara yang lain, pada intinya perayan ulambana adalah untuk mendoakan agar arwah telantar yang ada di jagad raya ini. Dengan harapan roh-roh yang mengembara di dunia ini kembali ke alamnya. " Di sini kami sembahyang arwah yang dipimpin oleh para Bhante dari Thailand.” katanya. (Romy)