Tampilkan postingan dengan label Ulambana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulambana. Tampilkan semua postingan

26 Agu 2011

Puncak Perayaan Ulambana, Tjie Gwe Pua

JAMBI – Anak yang soleh, adalah anak yang berbakti kepada kedua orangtua maupun para leluhur baik dimasa mereka masih hidup di atas dunia maupun mereka telah wafat. Dimasa hidup orangtua, anak memiliki kewajiban untuk memberikan mereka makan dan mengurus keperluan kedua orangtuanya, apa lagi setelah mereka wafat, sebagai seorang anak harus selalu berdoa kepada sang Pencipta Alam Semesta agar kedua orangtuanya diberikan tempat yang layak disisinya.
Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orangtua maupun leluhurnya yang telah tiada adalah disaat puncak perayaan Ulambana yang biasa jatuh pada bulan ke-7 imlek (Tjit Gwee Pua). Menurut kepercayaan masyarakat sejak jaman dahulu, bahwa pada bulan ketujuh imlek ini pintu neraka telah terbuka, maka pada bulan itu arwah (roh) yang berada di alam baka diperkenankan kembali kerumah masing-masing, sedangkan arwah (roh) yang tidak diurus oleh anak atau keluarganya, tentu akan menjadi arwah (roh) gentayangan.


Kini banyak tempat tempat ibadah yang melakukan perbuatan kebajikan dengan cara pelimpahan jasa, seperti di Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi jumat malam 26 Agustus melakukan ulambana atau pelimpahan jasa kepada para orangtua maupun leluhur mereka yang telah mendahului mereka.

Sebelum prosesi ulambana atau pelimpahan jasa dimulai, terlebih dahulu mereka lakukan pembacaan Paritta yang di pimpim oleh para bhiksu dari Thailand, diantaranya Bhante Khamsai Sumano, Bhante Khampun Suvannatharo, Bhante Bandit Bandito, Bhante Sujit Jittakaro dan Bhante Panya Kosanlatejo. Selanjutnya ceramah dan pesembahan jubah kepada Bhikku Sangha Agung.

Seusai prosesi pembacaan Paritta, dilanjutkan penyalahan lilin dan dupa serta pemercikan air suci diatas sesajian yang akan dipersembahkan buat para orangtua atau leluhur mereka, diiringi doa dari keluarga yang hadir.

Darma Pawarta Oenang (Hasan), selaku pengurus Cetiya Oenang Hermawan Jambi mengatakan, acara ini sama seperti di vihara yang lain, pada intinya perayan ulambana adalah untuk mendoakan agar arwah telantar yang ada di jagad raya ini. Dengan harapan roh-roh yang mengembara di dunia ini kembali ke alamnya. " Di sini kami sembahyang arwah yang dipimpin oleh para Bhante dari Thailand.” katanya. (Romy)

18 Agu 2011

Perayaan Ulambana Di Vihara Sakyakirti Jambi

JAMBI - Vihara Sakyakirti Jambi merayakan Ulambana di Jalan Pangeran Diponegoro Jambi, Kamis pagi (18/8) puluhan umat Buddha Jambi mengikuti sembahyang Ulambana/ Chiau To/ Po Toh (Jit Gwe Pwa) yang dipimpin oleh bhiksu Badra Mitta dan dibantu enam Bhiksu lainnya. Sembahyang arwah dimulai sejak pukul 07.30 hingga 19.00 WIB itu dipusatkan di halaman rumah abu samudra bhakti di vihara Sakyakirti Jambi.
Meski digelar sejak pagi hari, namun hingga malam tiba kegiatan tersebut tetap mendapat perhatian cukup besar dari umat Buddha kota Jambi. Itu terlihat dari sejumlah jamaah yang tak pernah sepi mengikuti ritual sembahyang leluhur tersebut. Mereka datang silih berganti menjalankan sembahyang yang berdasarkan tradisi selalu dilaksanakan setiap bulan ke tujuh Imlek itu.

Ritual sembahyang dibagi dalam beberapa sesi. Menurut salah seorang bhikku yang memimpin sembahyang kemarin, sembahyang Ulambana merupakan sembahyang untuk melimpahkan jasa atau kebaikan pada para leluhur yang telah meninggal dunia.

Ritual sembahyang berawal dari sebuah kisah yang terjadi pada zaman Sang Buddha, pada saat itu Buddha memiliki seorang murid bernama Mogalana. Dengan kesucian, kesaktian, dan kekuatannya, ia mencoba menolong ibunya yang berada pada alam yang menderita atau alam Niraya. Melihat hal itu, ia kemudian ingin mempersembahkan makanan pada ibunya, akan tetapi tidak pernah berhasil, dan bahkan makanan tersebut berubah menjadi bara api.

Demi menolong sang ibu, dia menyampaikan keinginan itu pada sang Buddha. Setelah mendengarkan keinginan Mogalana, Buddha menyarankan kepada Mogalana untuk mengundang para bhikku dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Selanjutnya kebijakan itu dilimpahkannya kepada sang ibu. “Akhirnya berkat kebijakan yang dilakukan Mogalana, sang ibu bisa terbebas dalam alam penderitaannya,” sembahyang ulambana rutin dilaksanakan umat Buddha setiap bulan ketujuh Imlek.

Tak berbeda dengan sembahyang yang digelar umat Buddha umumnya, sembahyang ulambana juga dilengkapi berbagai persembahan, di antaranya buah-buahan, makanan, minuman, bunga, begitupun beberapa perlengkapan sembahyang lain seperti kertas sembahyang dan hio (garu). Semua barang-barang yang dipersembahkan dalam ritual sembahyang memiliki makna atau simbol tersendiri.

Menurut tradisi dalam memberi persembahan harus disediakan buah-buahan yang bagus. Yang berartinya, buah-buahan yang bagus pasti berasal dari pohon yang bagus pula atau terawat dengan baik. Ini memberikan simbol tentang kebijakan bahwa sesuatu yang baik juga akan menghasilkan yang baik pula. Begitu pun bunga yang dipersembahkan pada ritual itu. Yang harus diingat, lanjut dia, walaupun bunga telah layu, namun bunga tetap akan menyebarkan wangi yang semerbak. Sama halnya dengan air, juga memberikan arti tentang kebijakan. Yang harus diingat, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. “Ini mempunyai arti dalam hidup kita harus rendah diri,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan, sembahyang itu ditujukan untuk semua leluhur yang telah meninggal dunia.

Ketua Majelis Budayana Indonesia (MBI) Jambi Balla Mitta mengatakan, sembahyang leluhur di Vihara Sakyakirti dipusatkan di rumah abu samudra bhakti. Kegiatan ini mulai dilaksanakan pukul 07.30 pagi sampai 19.00 malam. “Sembahyang leluhur itu diikuti semua masyarakat yang ingin melakukan sembahyang dan doa untuk leluhurnya,” ujar Bala Mitta. (Romy)