Tampilkan postingan dengan label Makam Leluhur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam Leluhur. Tampilkan semua postingan

18 Agu 2011

Perayaan Ulambana Di Vihara Sakyakirti Jambi

JAMBI - Vihara Sakyakirti Jambi merayakan Ulambana di Jalan Pangeran Diponegoro Jambi, Kamis pagi (18/8) puluhan umat Buddha Jambi mengikuti sembahyang Ulambana/ Chiau To/ Po Toh (Jit Gwe Pwa) yang dipimpin oleh bhiksu Badra Mitta dan dibantu enam Bhiksu lainnya. Sembahyang arwah dimulai sejak pukul 07.30 hingga 19.00 WIB itu dipusatkan di halaman rumah abu samudra bhakti di vihara Sakyakirti Jambi.
Meski digelar sejak pagi hari, namun hingga malam tiba kegiatan tersebut tetap mendapat perhatian cukup besar dari umat Buddha kota Jambi. Itu terlihat dari sejumlah jamaah yang tak pernah sepi mengikuti ritual sembahyang leluhur tersebut. Mereka datang silih berganti menjalankan sembahyang yang berdasarkan tradisi selalu dilaksanakan setiap bulan ke tujuh Imlek itu.

Ritual sembahyang dibagi dalam beberapa sesi. Menurut salah seorang bhikku yang memimpin sembahyang kemarin, sembahyang Ulambana merupakan sembahyang untuk melimpahkan jasa atau kebaikan pada para leluhur yang telah meninggal dunia.

Ritual sembahyang berawal dari sebuah kisah yang terjadi pada zaman Sang Buddha, pada saat itu Buddha memiliki seorang murid bernama Mogalana. Dengan kesucian, kesaktian, dan kekuatannya, ia mencoba menolong ibunya yang berada pada alam yang menderita atau alam Niraya. Melihat hal itu, ia kemudian ingin mempersembahkan makanan pada ibunya, akan tetapi tidak pernah berhasil, dan bahkan makanan tersebut berubah menjadi bara api.

Demi menolong sang ibu, dia menyampaikan keinginan itu pada sang Buddha. Setelah mendengarkan keinginan Mogalana, Buddha menyarankan kepada Mogalana untuk mengundang para bhikku dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Selanjutnya kebijakan itu dilimpahkannya kepada sang ibu. “Akhirnya berkat kebijakan yang dilakukan Mogalana, sang ibu bisa terbebas dalam alam penderitaannya,” sembahyang ulambana rutin dilaksanakan umat Buddha setiap bulan ketujuh Imlek.

Tak berbeda dengan sembahyang yang digelar umat Buddha umumnya, sembahyang ulambana juga dilengkapi berbagai persembahan, di antaranya buah-buahan, makanan, minuman, bunga, begitupun beberapa perlengkapan sembahyang lain seperti kertas sembahyang dan hio (garu). Semua barang-barang yang dipersembahkan dalam ritual sembahyang memiliki makna atau simbol tersendiri.

Menurut tradisi dalam memberi persembahan harus disediakan buah-buahan yang bagus. Yang berartinya, buah-buahan yang bagus pasti berasal dari pohon yang bagus pula atau terawat dengan baik. Ini memberikan simbol tentang kebijakan bahwa sesuatu yang baik juga akan menghasilkan yang baik pula. Begitu pun bunga yang dipersembahkan pada ritual itu. Yang harus diingat, lanjut dia, walaupun bunga telah layu, namun bunga tetap akan menyebarkan wangi yang semerbak. Sama halnya dengan air, juga memberikan arti tentang kebijakan. Yang harus diingat, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. “Ini mempunyai arti dalam hidup kita harus rendah diri,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan, sembahyang itu ditujukan untuk semua leluhur yang telah meninggal dunia.

Ketua Majelis Budayana Indonesia (MBI) Jambi Balla Mitta mengatakan, sembahyang leluhur di Vihara Sakyakirti dipusatkan di rumah abu samudra bhakti. Kegiatan ini mulai dilaksanakan pukul 07.30 pagi sampai 19.00 malam. “Sembahyang leluhur itu diikuti semua masyarakat yang ingin melakukan sembahyang dan doa untuk leluhurnya,” ujar Bala Mitta. (Romy)

5 Apr 2011

Ribuan Warga Ziarah Ke Makam Leluhur

JAMBI – Perayaan Ceng Beng atau berziarah jatuh pada hari Selasa, 5 April 2011 (Sa Gwee Cui Sa/ bulan tiga, tanggal 3 lunar kalender, namun sehubungan hari Selasa adalah hari kerja, maka hari Minggu kemarin (03/4-2011) ribuan warga Tionghoa lakukan ziarah kemakam orangtua, keluarga maupun leluhur yang dimakamkan di kuburan Tionghoa di kilometer 7.5 Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi dan TPU Bumi Langgeng di Pondok Meja.
Sejak dini hari TPU atau kuburan Tionghoa Jalan Kapten Pattimura, telah dipadati berbagai jenis kendaran roda empat maupun roda dua, sehingga untuk masuk kedalam TPU kendaraan harus antrian.

Mereka datang dari dalam dan luar kota. Ada yang dari Medan, Jakarta, bahkan ada yang datang dari Hongkong maupun Singapure.

Perayaan Ceng Beng adalah untuk membersihkan makam orangtua, sanak famili maupun leluhur, agar para arwah orangtua, keluarga, maupun leluhur yang telah tiada dapat merasa tentram dan beristirahat dengan tenang di tempat terakhir dan sambil berdoa dan sembahyang sesuai kepercayaan masing-masing. Diatas makam mereka meletakkan kertas kuning kecil memanjang, maupun perlengkapan sehari hari seperti pakaian, minuman, rokok (bagi keluarga laki-laki), uang yang semuanya terbuat dari kertas selain itu juga terdapat berbagai sesajian diantaranya kue merah, bakpao, buah-buahan.

Tampak perayaan Ceng Beng kali ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya juga terlihat beberapa pengusaha sukses yang berziarah ke makam orangtua/ leluhur. Tidak terkecuali bagi yang kaya maupun miskin.

Menurut penuturan Panitia Ceng Beng, catatan lama makam (kuburan) yang ada di kilometer 7.5 Jalan Kapten Pattimura lebih kurang 7.000 lebih dengan luas tanah 26 hektar, ada yang makamnya dipindahkan oleh pihak keluarga maupun dikremasikan selanjutnya abu leluhurnya disemayamkan di vihara-vihara, sedangkan yang melakukan ziarah pada hari minggu diperkirakan lebih dari seribu orang, karena hari itu adalah hari libur sehingga bagi orang yang bekerja maupun pedagang memiliki waktu. (rom)