23 Jan 2012

Keluarga Besar Robin Bagi Ribuan Angpao Ke Anak Panti Asuhan

JAMBI – Tahun Baru Imlek 2563 di Jambi, sangatlah meriah, dimana terdapat seorang pengusaha dok kapal PT. Naga Cipta Central Senin (23/1-2012 ) pagi membagi ribuan angpau untuk anak yatim piatu dan penyandang cacat, di Talang Duku, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Beginilah suasana Imlek di keluarga besar Robin, pengusaha dok kapal di Jambi. Ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, ikut serta menikmati kebahagiaan, sebagaimana orang tionghoa merayakan Imlek 2563.
Panti asuhan yang tampak hadir, diantaranya dari, Panti Asuhan Penyandang Cacat “Teratai Jaya”, Jalan Sersan Muslim RT. 24, Kelurahan The Hok, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Sosial Asuhan Anak Alyatama Jambi (PSAA), Jalan Sultan Hasannudin RT. 25, No. 03, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Asuhan Yayasan Kesejahteraan Anak (YKA), Jalan Sersan Syahwal, RT. 03, No. 103 Paal Merah Jambi dan Panti Asuhan Ainul Yakin, Jalan Batam, RT. 25, Kelurahan Lobak Bandung, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.

Selain berbagi dengan orang tidak mampu, ini juga bertujuan untuk berbagi rezeki dengan sesama insan yang kurang mampu dan agar mereka bisa menikmatinya.

Meski harus berdesak-desakan, menikmati hidangan makan beraneka ragam dan rasa,dari sate, tekwan, martabak India dan buah-buahan. Anak-anak yatim piatu dan penyandang cacat mereka tetap tertib.

Usai makan bersama, satu persatu mereka menerima angpau atau amplop merah ysng berisi uang kertas yang sudah disiapkan keluarga besar Robin, dihari yang berbahagia ini.

Eko, salah seorang penyandang cacat, mengaku gembira dapat menerima angpau yang baru sekali ini pernah diterimanya.

Sebelum membubarkan diri, ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, disuguhi tarian barongsai yang atraktif dan menghibur organ tunggal.

Menurut Charles tahun Naga Air “Pada tahun ini mendapatkan keberkahan, kehidupan antar umat beragama dan bisa saling bahu membahu serta tidak melukai umat lain demi mewujudkan kedamaian di Jambi. Ujar Cherles. Sampai berita ini diturunkan, open house masih tetap berlangsung (Rom-Yul)

Warga Sambut Kehadiran Barongsai Dirumah

JAMBI – Rasanya kurang lengkap, apabila perayaan Tahun Baru Imlek 2563 ini tidak dilengkapi atraksi Liong dan Barongsai (reflika Naga dan Singa).

Untuk menyemarakkan tahun baru Imlek ke 2563 yang jatuh pada hari Senin (23/1-2012) ini, atraksi Liong dan Barongsai dari perkumpulan Hok Liong Sai di Koni IV, Kota Jambi tidak hanya dapat dinikmati di klenteng-klenteng atau pusat perbelanjaan saja, namun memeka setiap tahun mengunjungi rumah-rumah. Selain menjemput angpau, atraksi barongsai juga menyimpan makna religius, yaitu dipercayai masyarakat Tionghoa dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan (rejeki).
Selain dapat dijumpai berbagai pernak pernik imlek di rumah-rumah warga, atraksi Barongsai dan Liong dijalanan juga menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi warga masyarakat. Bahkan ada warga yang mengilingi kemana perginya rombongan Liong dan Barongsai.

Sejak pukul 07.00 pagi (23/1) tadi, perkumpulan Hok Liong Sai, telah mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan ucapan “Selamat Tahun Baru Imlek 2563.

Atraksi tersebut sangat ditunggu oleh warga Tionghoa yang merayakan imlek, juga merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat yang kebetulan melintasi jalan itu, hingga menghentikan kendaraannya untuk menyaksikannya atraksi Liong dan Barongsai. Liuk-liuk dan tarian yang digerakan pemain Liong dan Barongsai membuat siapa saja yang menyaksikan akan terasa kagum.

Seperti kata Chandra, warga Kamboja, setiap tahun rumahnya selalu dikunjungi rombongan Barongsai dan Liong, karena Chandra dan keluarga mempercayai bahwa Barongsai sarat dengan pesan-pesan religius yang diyakni dapat mengusir segala bentuk roh jahat serta mendatangkan keberuntungan sipemilik rumah, “setiap tahun baru Imlek, rombongan Barongsai selalu datang kerumah-rumah warga untk menyampaikan ucapan “Selamat Tahun Baru Imlek dan sekaligus untuk mengusir segala roh jahat yang terdapat dirumah-rumah dan juga diyakini dapat mendatangkan keberuntungan bagi warga.” (Rom-Yul)

Sambut Imlek Dengan Sembahyang Di Klenteng

JAMBI – Warga Tionghoa di seluruh Nusantara merayakan pergantian tahun China atau Imlek dengan sembahyang dan berdoa. Di Jambi, sejak dini hari umat Khonghucu menyambut perayaan Imlek 2563, Senin (23/1-2012), diisi dengan sembahyang di klenteng-klenteng. Sejak dini hari ribuan umat Khonghucu Jambi sudah memenuhi klenteng Siu San Teng, salah satu klenteng terbesar di Provinsi Jambi. Berbagai ukuran lilin merah menerangi ruangan altar Hok Tek Chen Sen serta diiringi harumnya aroma Hio (gaharu) yang sangat menyengat hidung.
Ribuan umat Khonghucu silih berganti mendatangi klenteng terbesar di Kota Jambi, mereka datang bersama keluarga untuk sembahyang perayaan Imlek 2563.

Ada yang datang dengan kendaraan roda empat, ada juga yang mengunakan sepeda motor dengan membawa sajian sembahyang seperti buah-buahan segar.

Hasil pantauan dilapangan, terlihat kegembiraan diwajah umat Khonghcu, saling sapa satu sama yang lain, diiringi ucapan “Gong Xi-Gong Xi” sambil bersalaman penuh dengan keakraban.

Hari Raya Imlek, sesungguhnya bukan merupakan momentum untuk bersenang-senang yang berlebihan. Namun momen ini harus digunakan untuk merefleksi diri, saling beranjang sana, silahturahmi, saling memohon maaf kepada kawan, keluarga tanpa memandang bulu dan juga digunakan untuk memohon doa restu dan maaf dari orangtua atau yang dituakan.

Sehari sebelum Imlek, umat Khonghucu telah melakukan sembahyang terhadap orangtua atau leluhur mereka yang altarnya dirumah, ada juga yang ke vihara-vihara dimana abu jenazah keluarganya disemayamkan disana.

Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta Alam Semesta, serta mendoakan para leluhur yang telah mendahului mereka. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang," Ujar Chandra warga Mayang.(Rom-Yul)

22 Jan 2012

Imlek, Angpao, dan Tradisi Lainnya

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam hitungan jam, seluruh rakyat Republik Rakyat China dan keturunan di seluruh dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Di Indonesia, dan juga di negara lainnya, Tahun Baru Imlek, yang menandai awal musim semi, erat kaitannya dengan angpao.
Secara harafiah, angpao berarti amplop yang berwarna merah. Angpao telah menjadi salah satu simbol Tahun Baru Imlek. Pada hari raya ini, ada tradisi bahwa seseorang yang telah menikah memberikan ang pao yang berisi uang kepada orang yang lebih muda dan belum menikah. Soal jumlah, hal ini tergantung pada kemampuan dan kerelaan dari sang pemberi.

Lantas, apa makna angpao? Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa mengatakan, ang pao memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. "Transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua," ujar Budi.

Menurutnya, tradisi memberi angpao telah berlangsung sejak lama. Tradisi ini diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa putus. Tradisi Tionghoa juga mengenal pemberian angpao yang diberikan tujuh hari menjelang Imlek. Budi menyebut hal ini sebagai Hari Persaudaraan.

"Ini mewajibkan orang yang merayakan Tahun Baru Imlek untuk membantu sesama yang tak mampu merayakannya," kata Budi.

Tradisi Imlek Pemberian angpao bukan satu-satunya tradisi yang dilakukan ketika Imlek. Tradisi lainnya yang menonjol adalah sembahyang leluhur. Sebelum Imlek, para warga Tionghoa umumnya turut bahu-membahu membersihkan makam para leluhurnya. Tak hanya itu, pada hari pertama Imlek, para warga Tionghoa melakukan sembahyang untuk para leluhur.

Pada ritual sembahyang, mereka menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar almarhum dan almarhumah. Budi mengatakan, sembahyang leluhur bukanlah tradisi tanpa makna. "Ini menunjukkan bakti kepada orangtua, yang tidak hanya merawat dan menjaganya hingga meninggal, tetapi juga setelah meninggal. Ini mengingatkan bahwa kita berada di dunia ini tidak semata-mata karena Tuhan, tetapi juga orangtua," ujarnya.

Terkait tradisi santap kue lapis, jeruk, kue keranjang, ikan bandeng, tokoh Konghucu ini menilai hal ini tak lain hasil interaksi budaya China dengan masyarakat lokal. Kue keranjang atau nian gao disebut-sebut berkaitan dengan harapan agar rezeki selama satu tahun mendatang manis.

Nian sendiri berarti tahun dan gao berarti kue yang juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh karena itu, kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas, makin mengecil kue itu, memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu, banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

"Kue keranjang itu artinya agar tiap tahun mencapai prestasi yang bertambah tinggi, setiap tahun ada peningkatan. Ini biasanya bagi mereka yang memiliki bisnis," kata Yu Ie, seorang pengurus Klenteng Petak Sembilan di Glodok, Jakarta.

Adapun ikan bandeng dihubungkan sebagai perlambang rezeki karena dalam logat Mandarin, kata 'ikan' sama bunyinya dengan kata 'yu' yang berarti rezeki. "Bandeng itu ikan. Artinya, tiap tahun ada lebihnya uang atau rezeki," ujar Yu Ie.

Buah-buahan yang wajib yang sudah pasti ada adalah pisang raja atau pisang emas yang melambangkan emas atau kemakmuran atau keuntungan yang besar. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya. Ini juga melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. "Ini supaya ada keuntungan yang besar dan terus-menerus," jelas Yu Ie.

Selain itu, atraksi barongsai juga turut menyemarakkan Imlek. Budi mengatakan, atraksi barongsai terinspirasi dari Kilin, makhluk suci bagi umat Konghucu. Rupanya menyerupai naga, memiliki kulit bersisik, dan bertanduk satu. Kilin muncul ketika Nabi Konghucu lahir dan wafat.

Menurut cerita-cerita rakyat yang populer di China, atraksi barongsai ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang datang di awal tahun. Imlek juga tak lengkap tanpa kehadiran bunga sedap malam di altar leluhur. Hal ini, kata Budi, bertujuan untuk mengingatkan kita agar terus tertekad berlaku baik dan harum bak bunga sedap malam.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/01/22/05060130/

Tahun Naga Air Sugesti Hidup Paling Kuat

Pesanan kamar hotel melonjak untuk libur Imlek Masyarakat Tionghoa di kawasan perkampungan China, Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat, tak melewatkan pemasangan lampion-lampion merah yang bertuliskan huruf China, guna menyambut Tahun Baru Imlek 2563 yang jatuh 23 Januari 2012.
Tak hanya lampion berbentuk bulat, lampion naga aneka ukuran juga dipajang pada sejumlah rumah masyarakat Tionghoa yang bertuliskan huruf China itu yang memiliki beragam makna. Intinya, doa mohon keberkahan di tahun yang baru.

Kendati belum banyak persiapan, namun panitia perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Pondok Padang (Perkampungan China, red) sudah menyiapkan sejumlah tiang untuk persiapan bazar, dan aneka pertunjukan lomba, di gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Padang.

Sekretaris (urusan keluar) HBT Padang Chandra Penata Long, mengatakan warga Tionghoa kini bertekad akan merayakan peringatan Tahun Baru Imlek penuh dengan kesederhanaan.

"Tak ada yang istimewa, perayaan Tahun Baru Imlek 2012 tetap dirayakan bersama isteri dan anak-anak di rumah," ujarnya sesuai tanggalan internasional, Imlek 2563 jatuh pada shio Naga Air.

Shio ini melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian teguh.
Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China, dan makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta.

Menurut Chandra, sejak dahulunya beribu-ribu tahun silam, dimitoskan bahwa Naga merupakan mahluk sakral dalam agama Konghucu, atau sebagai simbol binatang yang paling kuat.

"Karena itu naga selalu dipasang pada setiap tiang vihara, terutama pada tiang tempat sembahyang Dewa Langit," ujarnya dan diharapkan Shio Naga Air tahun ini tidak hanya kesuksesan pebisnis yang hanya berhubungan dengan unsur air saja, seperti transpotasi air, restoran sampai pedagang air minum isi ulang.

Tapi Naga Air ini --sebagai fengsui, keberuntungan dalam agama Khonghucu-- bagi umatnya diharapkan dapat menjernihkan, mendinginkan berbagai permasalahan yang terjadi.

Dijelaskannya, fengsui `keberuntungan` itu bisa diterapkan mulai dari pembangunan rumah dengan pintu rumah yang harus dibuat sesuai sio Naga Air , dan tentunya akan berbeda lagi dengan sio tahun depan.

Naga Air, katanya lagi, sesuai karakternya adalah hewan yang berwibawa, angkuh dan banyak raja-raja di Tiongkok dahulunya memberi lambang kerajaan dengan naga, baju kebesaran yang juga bergambar naga.

"Konon, jika ada bayi yang lahir pada tahun naga ini, itu artinya sebuah lambang yang bagus bagi sang bayi dengan fengsui atau rezki yang bagus," ujarnya, sio-sio ini selalu menjadi sugesti atau semangat hidup paling kuat bagi warga Tionghoa.

Sedangkan tiap pergantian shio itu disebut Tahun Imlek (Cia Gwee Che It) yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama. atau tahun lunar, tahun yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, dan dikombinasikan dengan peredaran matahari dan pergantian dari musim dingin ke musim semi.

Selain itu, penanggalan China/Tionghoa terbagi menjadi 12 shio, yakni Tikus-Harimau-Naga-Kuda-Monyet-Anjing-Kerbau-Ular-Kambing-Ayam-Kelinci dan Babi.
Hewan yang terdapat pada shio ini dilambangkan sifatnya. Kemudian terbagi lagi menjadi lima unsur, logam, kayu,air, api dan tanah. Pertemuan pada shio dan unsur yang sama bisa terjadi 60 tahun kemudian.

Peringatan Tahun Baru Imlek di Padang diikuti oleh tiga organisasi warga China, seperti Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Santo Yusuf. Selain itu juga organisasi warga dari delapan marga antara lain marga Tanju Hok, marga Tan, liem, dan lainnya.

"Selain persiapan pemasangan lampion-lampion dominan warna merah itu, warga Tionghoa Padang juga menyiapkan amplop angpau bergambar naga dengan isian bervariasi yang terkecil Rp 50.000 sampai Rp. 1 juta per angpau pohon," ujarnya.

Ia menambahkan, pada 15 hari berikutnya (setelah 23 Januari 2012) perayaan Tahun Baru Imlek masuk pada masa Cap Goh Me (lima belas atau malam kelima belas imlek yang terakhir). Pada masa cap goh me merupakan ini perayaaan yang cukup ramai.

http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15131867/

2.563 Lampion Dipasang di Kawasan Pecinan Pontianak

PONTIANAK, KOMPAS.com — Sebanyak 2.563 lampion (lampu) dipasang pihak panitia Imlek atau Tahun Baru China bersama Kota Pontianak di kawasan pecinan setempat, yakni Jalan Gajah Mada dan Diponegoro.

"Dipasangnya lampion sebanyak 2.563 sesuai dengan Tahun Baru China 2563 dan tidak punya makna lain, yang mulai hari ini dipasang di Jalan Gajah Mada dan Diponegoro," kata Sekretaris Ketua Imlek Bersama Tahun 2012, Eddy, di Pontianak, Jumat (20/1/2012).
Ia menjelaskan, lampion dipasang di jalan raya guna memeriahkan perayaan Tahun Baru China dan Cap Go Meh (hari 15 Imlek) di Kota Pontianak.

"Kami sengaja mendatangkan ribuan lampion itu asli dari Tiongkok agar lebih cantik serta mempunyai makna dalam memeriahkan Tahun Baru China," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Ketua Imlek Bersama Tahun 2012 mengimbau agar warga Tionghoa di kota itu merayakan Tahun Baru China dengan kesederhanaan.

"Sederhana bukan berarti mengurangi makna dalam merayakan pergantian musim dingin ke musim semi seperti yang dilakukan oleh leluhur kami sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok," katanya.

Ia mengajak warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Kota Pontianak untuk memulai hidup baru dengan penuh kebahagiaan atau disebut Gong Chi Fat Chai.

http://oase.kompas.com/read/2012/01/21/15180443/

21 Jan 2012

Sejarah Gong Xi Fa Cai

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting masyarakat Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxi yang berarti “malam pergantian tahun”.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Kalender lunisolar Tionghoa menentukan tanggal Tahun Baru Cina. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur (seperti Iran, dan pada zaman dahulu kala, daratan Bulgar).

Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Cina jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Cina biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Cina, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

Banyak orang mengacaukan tahun kelahiran Tionghoa dengan dengan tahun kelahiran Gregorian mereka. Karena Tahun Baru Cina dapat dimulai pada akhir Januari sampai pertengahan Februari, tahun Tionghoa dari 1 Januari sampai hari imlek di tahun baru Gregorian tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sebagai contoh, tahun ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Tahun 1990 dianggap oleh beberapa orang sebagai tahun kuda. Namun, tahun ular 1989 secara resmi berakhir pada 26 Januari 1990. Ini berarti bahwa barang siapa yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sebenarnya lahir pada tahun ular alih-alih tahun kuda.

Sejarah
Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Mitos
Menurut legenda, dahulu kala, Nián adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián (Hanzi tradisional: bahasa Tionghoa), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”.

Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.

Salam Ucapan
Biasanya saat tahun baru imlek, orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat:dan aksara Tionghoa Sederhana: “selamat dan semoga banyak rejeki”, dibaca:
“Gōngxǐ fācái” (bahasa Mandarin)
“Kung hei fat choi” (bahasa Kantonis)
“Kiong hi huat cai” (bahasa Hokkien)
“Kiong hi fat choi” {bahasa Hakka)
“Xīnnián kuàilè” = “Selamat Tahun Baru”

Tahun Baru Imlek di Indonesia
Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur yang fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002 (17 Februari 2002), Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri.

http://isidunia.blogspot.com/2011/09/sejarah-gongxi-facai.html?