2 Mar 2011

Musik Klasik Yang Masih Bertahan

JAMBI - Salah satu tradisi yang menarik dan masih dilakukan oleh warga Tionghoa adalah musik tradisional, musik klasik ini dimainkan untuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka dirumah duka. Penampilan musik klasik tersebut biasanya hanya diundang jika yang meninggal berusia 50 tahun keatas.
Sedangkan jika yang meninggal dunia masih muda atau di bawah 50 tahun, dianggap sebagai pantangan. “Hanya saja, pantangan hanya bagi sebagian orang saja. Ada beberapa keluarga yang pernah mengundang kita untuk tampil saat pihak keluarga yang meninggal masih muda. Sebenarnya sangat jarang dilakukan, tetapi jika kita diundang, kita tetap hadir,” ujar Abu, pengurus grup musik dari Perkumpulan Teo Chew Jambi yang sering tampil di suasana duka ini.

Menurut pria yang gemar bermusik sejak berusia muda ini bahwa pihak keluarga biasanya memang merasa lebih terhibur jika ada grup musik yang tampil saat mereka berada dalam suasana duka, bukan sebaliknya. Tentu saja, ini memberikan efek psikologis yang berbeda bagi keluarga yang baru ditinggalkan. Ini karena biasanya grup musik ini tampil selama tiga hari atau selama jenazah belum dikebumikan atau dikremasi.

Tampil di saat suasana duka tentunya harus sedikit berbeda. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu sendu dan lebih klasik. Musik seperti ini dipercaya bisa memberikan pengaruh yang berbeda bagi jiwa yang sedang bersedih. “Ada lagu khusus yang kita bawakan. Berbeda saat kita tampil di beberapa tempat dan suasana yang berbeda. Kadang kita juga menampilkan lagu dan musik atas permintaan keluarga dan tamu yang hadir.”

Grup musik yang berada di bawah naungan Perkumpulan Teo Chew Jambi ini sudah terbentuk sejak 1970-an. Tidak ada nama khusus yang diberikan dalam grup ini. “Ini karena grup musik ini bagian dari bidang seni dan budaya yang ada di Perkumpulan Teo Chew Jambi. “Karena kita merupakan anggota dalam bidang seni dan budaya, maka kita tetap menggunakan nama yayasan,” ujar Abu, yang juga menjadi penanggung jawab dalam grup musik ini.

Menurutnya, walaupun ada remaja yang tertarik, jumlahnya sangat sedikit. “Paling hanya satu atau dua orang saja dan kita pun harus mencari waktu yang pas untuk melatih mereka. Kalau jumlahnya sekalian banyak kan lebih enak. Jadi, hingga sekarang, kita sangat kesulitan untuk mencari regenerasi,” jelasnya.