Tampilkan postingan dengan label Candi Muaro Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi Muaro Jambi. Tampilkan semua postingan

25 Sep 2011

Indonesia Sambut Baik Partisipasi Tiongkok dalam Penelitian Arkeologi

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono kemarin (22/09) menyatakan menyambut partisipasi Tiongkok dalam penelitian arkeologi di Candi Muaro Jambi.
Presiden SBY mengatakan hal ini dalam peresmian Kompleks Percandian Muaro Jambi sebagai kawasan wisata sejarah terpadu. SBY mengatakan, penemuan Candi Muaro Jambi memperlihatkan gemilangnya sejarah Indonesia. Sementara itu, SBY juga berharap bekerja sama di bidang pariwisata. Dia mengatakan pemandangan Indonesia sangat indah, kebudayaan beragam, dan masyarakat Indonesia sangat ramah, makanan Indonesia pun lezat, sehingga mempunyai potensi besar di bidang pariwisata. Pemerintah Indonesia sedang memperluas bandara Jambi dan memperbaiki infrakstruktur agar lebih banyak wisatawan dapat berkunjung ke Jambi.

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Zhang Qiyue mengatakan, benda-benda peninggalan Tiongkok yang ditemukan di Candi Muaro telah mencerminkan sejarah panjang persahabatan Tiongkok-Indonesia. Tahun-tahun terakhir ini, hubungan kedua negara berkembang pesat. Oleh karena itu kedua negara hendaknya mengembangkan hubungan di berbagai bidang.

Luas situs Candi Muaro sekitar 2612 hektar, merupakan kawasan peribadatan agama Budha pada zaman kerajaan Sriwijaya. Pusat Penelitian Arkeologi Indonesia pernah mengadakan penelitian di lokasi percandian ini. Di sini ditemukan sejumlah benda peninggalan Tiongkok, antara lain kepingan uang Dinasti Tang.

http://indonesian.cri.cn/201/2011/09/23/1s121574.htm

25 Agu 2011

Wisata Sepeda di Candi Muaro Jambi

MUARO JAMBI – Disaat mengunjungi Situs Muaro Jambi, jangan hanya sekedar untuk menikmati keindahan alam disekitar candi. Untuk menikmati keindahan Candi Muaro Jambi serta benda bersejarah dari masa lalu denga mengelilingi komplek percandian seluas 12 kilometer dengan sepeda.
Apabila anda berniat untuk mengeliling kompleks percandian seluas 12 kilometer bujur sangkar ini berdiri sejumlah candi. Anda tidak usah membawa sepeda dari rumah, lantaran semua telah tersedia di komplek percandian, biaya sewa menyewa relatif murah, satu jam Rp. 5.000. anda juga bisa keliling candi dengan jasa tukang ojek setempat.

Waktu anda memasuki pintu gerbang candi, sekitar 200 meter saat masuk akan langsung terlihat sebuah pos satpam candi. Persis di depan pos terjejer puluhan sepeda, tingal anda memilih sepeda untuk dinaiki dua orang atau untuk tiga orang. Setelah anda menyewa sepeda, selanjutnya anda bisa keliling candi megah, yaitu candi Gumpung. Di sekitar candi juga akan terlihat beberapa candi-candi kecil lainnya.

Sekitar candi Gumpung, ada sebuah candi yang lebih tinggi, yaitu Candi Tinggi. Percandiain ini juga di kelilingi oleh pagar tembok dari bahan batu bata berukuran besar. ini yang membuat percandian ini menjadi unik.

Selain itu, masih banyak lagi candi-candi lainnya, yang jaraknya lumayan jauh dari percandian utama itu. Seperti candi Kembar Batu, Candi Astano, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai dan candi-candi lainya.

Kawasan Candi Muaro Jambi cukup eksotik. Hamparan rumput, pepohonan besar dan bangunan candi dari bata, baik yag utuh ataupun reruntuhan. Tak heran, lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga.

Namun jangan lupa membawa kamera foto untuk mengabadikan keindahan candi maupun alam disekitar percandian sebagai kenangan indah anda bersama keluarga maupun sang kekasih tercinta (Romy)

18 Jun 2011

Terus Gali Potensi Candi Muaro Jambi

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Terus mencari dan menggali potensi pariwisata Jambi, itulah kegiatan utama Dinas Pariwisata Provinsi Jambi selama satu minggu ke depan. Menurut Kabid Sejarah dan Purbakala, Ujang Hariadi, jajarannya akan bekerja sama dengan beberapa peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam di situs percandian Muaro Jambi.
Lanjut Ujang, para peneliti itu rencanaya akan datang ke Jambi pada Senin (20/6). "Saya sudah dapat sms kepastian tanggal, smoga tidak ada perubahan," ujar Ujang.

Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.

Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.

Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.

Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)

http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi

6 Mar 2011

Candi Muaro Jambi Diupayakan Jadi Warisan Dunia

JAMBI - Warga masyarakat Pecinta Candi Muaro Jambi kini tengah berupaya memperkenalkan kompleks percandian peninggalan Hindu-Budha, terluas di Indonesia, merupakan peninggalan, merupakan penggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu, dibangun pada abad 11masehi. Tujuannya, agar candi ini terbcatat sebagai warisan dunia.
"Kita kini berupaya untuk memperkenalkan candi tertua dan terluas di dunia ini, sehingga akhirnya dapat tercatat sebagai warisan dunia", kata Marzuki Usman, Ketua The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT), kepada Tempo, Minggu (6/3).

Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.

"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.

The SOMT
sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.

Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.

"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.

Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.

Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.

DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.

"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)

http://tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/03/06/brk,20110306-317911,id.html

Kunjungan DR. Benoy K. Behl (dari Nalanda/ India)

JAMBI - Usaha Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan situs Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia (World Heritage) tampaknya kian terbuka peluangnya. Hal ini tampak dari kunjungan Staf Ahli Kementerian Pariwisata India, DR. Benoy K. Behl, yang datang berkunjung ke Kawasan Candi Muaro Jambi pada hari Jumat, tanggal 04 Maret 2011 lalu. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan dari delegasi Team Ekspedisi Jambi - Nalanda (India) pada taanggal 5 - 15 Februari lalu.
DR. Benoy yang tiba di lokasi kompleks Percandian Muaro Jambi sekitar pukul 16.30 sore, disambut langsung oleh Marzuki Usman dan Hidayat (pengurus The SOMT), serta Didy Wurjanto (Kadis Pariwisata Provinsi Jambi), serta Toni dan Agus W. (Dinas BP3) serta diiringi kibaran bendera The SOMT dari sekitar 200-an orang masyarakat peduli Candi Muaro Jambi (The SOMT).

Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar 2 jam di kompleks Candi Muaro Jambi tersebut, DR. Benoy yang merupakan salah satu inisiator yang mendorong Komplek Bodh Gaya di India diakui oleh dunia melalui UNESCO menjadi World Heritage, mengatakan bahwa kunjungan singkat ini merupakan kunjungan awal sebagai pembuka jalan untuk membangun suatu bentuk kerjasama dalam mewujudkan Twin Sites (Situs Kembar) antara Candi Muaro Jambi dan Kompleks Nalanda di India. DR. Benoy juga berjanji akan membantu Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Situs Candi Muaro Jambi menjadi World Heritage, dengan membagi pengalamannya dalam menyusun hingga menjadikan Kompleks Bodh Gaya di India menjadi Situs Warisan Dunia.

Jamuan Makan Malam
Acara kunjungan ini dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh The SOMT bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi di Hotel Wiltop pada malam harinya. Acara yang dibuka dengan tarian daerah Jambi, dilanjutkan sambutan dan presentasi pengenalan Situs Candi Muaro Jambi oleh Didi Wurijanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.

Kemudian Acara dilanjutkan dengan sambutan dan ucapan selamat datang di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari Fachrori Umar selaku Wakil Gubernur Provinsi Jambi yang mewakili masyarakat & pemerintah Provinsi Jambi.

Selanjutnya Marzuki Usman selaku Ketua The SOMT, juga memberikan sambutan dan memaparkan berbagai program kerja yang telah dan akan dijalankan oleh The SOMT, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari DR. Benoy. Dalam Sambutannya, Dr. Benoy juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besar kepada Bapak Hidayat sebagai salah satu pengurus The SOMT, yang telah mengundang serta membiayai seluruh biaya perjalanan Dr. Benoy dari India ke Jambi (PP) secara pribadi.

Acara jamuan makan malam dilanjutkan dengan saling tukar cindera mata antara DR. Benoy dengan Fachrori Umar (Wakil Gubernur Provinsi Jambi) dan antara DR. Benoy dengan Marzuki Usman. dan dilanjutkan dengan sumbangan lagu daerah Jambi yang dibawakan khusus oleh wagub, Fachrori Umar yang dipersembahakan khusus untuk para tamu undangan. Jamuan makan malam ini selanjutnya ditutup dengan musik dan tarian khas Jambi. (taem The SOMT)

2 Mar 2011

Musik Klasik Yang Masih Bertahan

JAMBI - Salah satu tradisi yang menarik dan masih dilakukan oleh warga Tionghoa adalah musik tradisional, musik klasik ini dimainkan untuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka dirumah duka. Penampilan musik klasik tersebut biasanya hanya diundang jika yang meninggal berusia 50 tahun keatas.
Sedangkan jika yang meninggal dunia masih muda atau di bawah 50 tahun, dianggap sebagai pantangan. “Hanya saja, pantangan hanya bagi sebagian orang saja. Ada beberapa keluarga yang pernah mengundang kita untuk tampil saat pihak keluarga yang meninggal masih muda. Sebenarnya sangat jarang dilakukan, tetapi jika kita diundang, kita tetap hadir,” ujar Abu, pengurus grup musik dari Perkumpulan Teo Chew Jambi yang sering tampil di suasana duka ini.

Menurut pria yang gemar bermusik sejak berusia muda ini bahwa pihak keluarga biasanya memang merasa lebih terhibur jika ada grup musik yang tampil saat mereka berada dalam suasana duka, bukan sebaliknya. Tentu saja, ini memberikan efek psikologis yang berbeda bagi keluarga yang baru ditinggalkan. Ini karena biasanya grup musik ini tampil selama tiga hari atau selama jenazah belum dikebumikan atau dikremasi.

Tampil di saat suasana duka tentunya harus sedikit berbeda. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu sendu dan lebih klasik. Musik seperti ini dipercaya bisa memberikan pengaruh yang berbeda bagi jiwa yang sedang bersedih. “Ada lagu khusus yang kita bawakan. Berbeda saat kita tampil di beberapa tempat dan suasana yang berbeda. Kadang kita juga menampilkan lagu dan musik atas permintaan keluarga dan tamu yang hadir.”

Grup musik yang berada di bawah naungan Perkumpulan Teo Chew Jambi ini sudah terbentuk sejak 1970-an. Tidak ada nama khusus yang diberikan dalam grup ini. “Ini karena grup musik ini bagian dari bidang seni dan budaya yang ada di Perkumpulan Teo Chew Jambi. “Karena kita merupakan anggota dalam bidang seni dan budaya, maka kita tetap menggunakan nama yayasan,” ujar Abu, yang juga menjadi penanggung jawab dalam grup musik ini.

Menurutnya, walaupun ada remaja yang tertarik, jumlahnya sangat sedikit. “Paling hanya satu atau dua orang saja dan kita pun harus mencari waktu yang pas untuk melatih mereka. Kalau jumlahnya sekalian banyak kan lebih enak. Jadi, hingga sekarang, kita sangat kesulitan untuk mencari regenerasi,” jelasnya.

23 Feb 2011

Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-XXVIII

* Candi Muaro Jambi Sebagai Warisan Budaya
JAMBI - Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-XXVIII yang sedianya akan dilaksanakan tahun 2010 kemarin, akhirnya terlaksana, Selasa (22/02) pagi. Bertempat di Kerinci Room Hotel Grand Abadi, Jambi, para ahli arkeologi se-Indonesia berkumpul untuk membahas agenda tahunan tersebut.
Pada kesempatan tersebut diskusi difokuskan untuk memberdayakan percandian Muaro Jambi sebagai warisan budaya.

Staff Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Multikultur, Hari Untoro Drajat mengatakan, untuk mewujudkan warisan budaya ini ada tiga aspek yang harus dilakukan yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan situs.

Dalam hal ini pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas. Sesuai dengan tema diskusi saat itu "Kawasan Percandian Muara Jambi Menuju Warisan Budaya: Pemberdayaan Masyarakat", maka dalam hal ini peran masyarakat sekitar penting.

Diharapkan masyarakat sekitar candi ikut terlibat dalam perlindungan, pengembangan, dan perawatan situs. Hal ini akan jauh lebih efektif, selain candi dapat terpantau, masyarakat sekitar juga akan mendapat lahan pekerjaan yang menjajikan.

Saat ini pemugaran candi masih terus dilakukan. Bahkan untuk komplek candi Kedaton sedang dilakukan penggalian situs di sekeliling candi utama. Penggalian dimulai Senin lalu (21/02) dan direncanakan selesai Sabtu depan.

Menurut staff BP3 Jambi, Agus, pemugaran akan terus dilakukan secara bertahap. Saat ini penggalian dilakukan disekitar candi Kedaton utama. "Sambil menggali, penelitian akan terus dilakukan," jelasnya.

Diskusi hari ini berlangsung selama lebih kurang lima jam, dimulai pukul 09.00. Setelah diskusi selesai peserta mendatangi kompleks percandian Muaro Jambi untuk menyaksikan langsung proses penggalian.

Acara kali ini dihadiri Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), perwakilan Dinas Pariwisata Jambi, perwakilan Dinas Pemuda dan Olah Raga Jambi, serta Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Aceh, Riau, Medan, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Hadir pula komunitas Budhisme Jambi, Tokoh Pemuda Desa Muara Jambi, tokoh akademisi, serta The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT).