Tampilkan postingan dengan label Asah Otak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asah Otak. Tampilkan semua postingan

23 Jul 2011

Apa Xiangqi Indonesia Bisa Sama Dengan Luar Negeri.?

JAMBI – Kita tahu bahwa permainan Xiangqi (Catur Gajah) di Tanah Air Indonesia telah sejak puluhan tahun silam, namun permainan itu hanya dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang berusia diatas empat puluhan, mereka bermain disetiap sudut kota dan di warung-warung kopi. Permainan Xiangqi (Catur Gajah) tersebut tidak mereka regenerasikan, seolah-olah permainan hanya untuk diri mereka sendiri.
Maka pada tahun 2001 terbentuklah Perkumpulan Xiangqi Indonesia yang diberi nama PEXI, yang di komandani oleh Brigjen (pur) Tedy Yusuf, dalam kurun waktu beberapa tahun, Pexi telah terbentuk dibeberapa daerah bahkan setiap tahun dilakukan pertandingan-pertandingan antar provinsi sebagai bentuk pemersatukan bangsa tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Pada tahun 2004 atas inisiatif Anton Gozali. S. Kom yang kala itu beliau sebagai anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung dan juga seorang pengusaha yang banyak memberikan kontributor terhadap perkembangan Xiangqi (Catur Gajah) di tanah air Indonesia. Bahwa harapan beliau agar pada Kejurnas tahun 2006 di Pakan Baru (Riau) telah ada peserta Kejurnas tingkat junior. Alhasil pada tahun 2006, kali pertama junior putra dan wanita diikut sertakan dalam Kejurnas, yang diikuti dari Jambi, Babel, Palembang dan tahun 2010 Jabar ikut andil dengan mengirimkan peserta junior putra dan wanita di Jakarta.

Sejak itu setiap tahun pemain Xiangqi (Catur Gajah) kategori junior putra dan wanita selalu hadir dalam Kejurnas Xiangqi, seyogyanya yang memiliki pemain junior putra dan wanita adalah Pengprov Pexi DKI, Sumut dan Jatim, akrena mereka yang pertama berdiri Xiangqi di Indonesia.

Banyak pemain muda yang bertanya, apakah Xiangqi (Catur Gajah) di tanah air Indonesia bisa berkembang seperti negara lain.? karena Xiangqi (Catur Gajah) kalah jauh bila dibanding dengan negara lain, seperti Vietnam yang baru beberapa tahun ini merdeka. Semua ini tergantung dari hati nurani Pengurus Besar Persatuan Xiangqi Indonesia (PB PEXI), namun semua ini menjadi tanda tanya antara sesama pencinta Xiangqi (Catur Gajah) Indonesia.

Pasalnya orang-orang yang duduk di kepengurusan PB Pexi bukan murni dari utusan Pengurus Provinsi (Pengprov), bagaimanapun juga keberadaan PB Pexi berkat adanya Pengprov, apa lagi hasil Munas Pexi tahun 2009 di Hotel Batavia, Jakarta dimana saat itu ketua umum dipilih melalui tim formatur, sedangkan untuk kepengurusan PB Pexi lainnya akan dimusyawarahkan dengan tim formatur yang ditunjuk oleh masing-masing Pengprov, ternyata amanah itu tidak diindahkan oleh ketua umum PB Pexi, sehingga terbentuklah kepengurusan yang tidak melalui tim formatur.

Menurut beberapa Pengprov, bahwa kepengurusan PB Pexi kali ini tidaklah sah, karena tidak adanya serah terima dari pengurus lama (Bunyanto eka Cendana), PB Pexi tidak melibatkan pengurus daerah (Pengprov), dan tidak pernah dilantik oleh pejabat yang berwenang. Hingga menjadi tanda tanya Pengprov Pexi, mau dibawa kemana Xiangqi (Catur Gajah) ini.?

Induk Olahraga Asah Otak Jambi Rayakan Ultahnya Secara Sederhana

JAMBI – Semalam Pengurus Provinsi Jambi Persatuan Xiangqi Indonesia (Pengprov Pexi) Jambi merayakan hari jadinya Pexi Ke-X yang dirayakan secara sederhana di Sekretariat Pengprov Pexi Jambi, Jalan Makalam, Kelurahan Sungai Asam, Kecamatan Pasar, Kota Jambi.

Selain merayakan ulant tahun Pengprov Pexi Jambi yang Ke-X, Pexi Jambi juga adakan syukuran atas keselamatan perjalanan P/P dari Jambi ke Sumut beberapa waktu lalu dan meraih prestasi yang cemerlang dalam pertandingan.
Ulang tahun selain dihadiri para pengurus Pengprov Pexi Jambi, juga dihadiri orangtua para pemain junior putra dan wanita, serta beberapa pihak utusan sekolahan.

Dalam sambutan, Ketua Pengprov Pexi Jambi tadi malam. Sesuatu, tentukan pula oleh nasib dan keberuntungan. Sebab tidak ada yang bisa memastikan, apabila dihadapkan pada kemampuan dan peluang yang sama. Itulah menariknya olahraga Xiangqi. Seorang olahragawan dituntut untuk menang secara jantan dan kalah secara terpuji. Seorang olahragawan disebut pahlawan karena ia berhasil membawa harum nama kelompoknya. Itulah yang dimaksud bahwa olahraga itu bersifat mempersatukan.

Oleh karena itu para pemain harus dapat memanfaatkan peluang waktu dan pandai merubah tantangan menjadi peluang. Sekecil apapun peluang itu, jika kita pandai memanfaatkannya, niscaya akan meningkatkan kualitas kita dari saat ke saat. Seperti orang bijak berkata,” Bukankah ‘seribu pasir’ tak akan pernah dibilang ‘seribu pasir’ tanpa adanya ‘pasir yang sebutir’ ?”

26 Jun 2011

Pemain Xiangqi (Catur Gajah) Jambi Menuju Sumut

JAMBI – Rangka rangka mengikuti event bergengsi tahunan di Sumatera Utara (Medan), Mulyadi selaku Ketua Harian Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) Provinsi Jambi, Minggu siang (26/6-2011) resmi melepaskan atlit/ pemain muda Jambi untuk berlaga di Medan (sumut).
Prosesi pelepasan atlit Kejurnas Xiangqi (Catur Gajah) Ke-XI dilakukan Gedung Sekretariat Pengurus Provinsi Persatuan Xiangqi Indonesia (Pengprov PEXI) Jambi. Dengan memasangkan atribut kepada para atlit junior.

“Pelepasan secara resmi atlit Xiangqi Kejurnas Xiangqi di Medan (Sumut). Nantinya, tim kita akan diberangkatan menggunakan bus antar kota antar provinsi” ujar Mulyadi.

Mulyadi atas nama Darman Wijaya, Ketua Pengprov Pexi Jambi, mengharapkan agar tim Xiangqi Jambi yang di pimpin oleh Cien Han dapat menjaga tata tertib, sopan santun dalam pertandingan, jangan sampai mempermalukan Provinsi Jambi diajang nasional, yang terpenting adalah berjuang untuk mengharumkan nama Provinsi Jambi dikancah Kejurnas Xaingqi (Catur Gajah).

Xiangqi selain seni budaya asal Cina, Xiangqi juga secara resmi telah menjadi salah satu cabang olahraga asah otak (Xiangqi/ Catur Gajah) berdiri di Jambi sejak tahun 2002 ini, telah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak sekolahan untuk membina siswa-siswi yang memiliki hoby olahraga asah otak.

Sedangkan Menurut Sekretaris Pexi jambi, M. Romy, untuk tahun ini Pengprov Pexi Jambi menargetkan minimal masuk peringkat 5 besar, karena pertimbangan beberapa daerah memiliki pemain yang tidak bisa dianggap enteng, apa lagi tuan rumah yang memilik ambisi untuk menjadi juara tingkat junior, maka mereka sengaja datangkan pelatih dari Cina untuk melatih para pemain-pemain muda Medan.

“Khusus junior putra kita harapkan pada Ricky dan Eric, sementara itu junior putri kita adalkan kepada Tri Nurdianti dan Cynthia, mereka telah mendapatkan pembinaan yang intensif selama beberapa bulan dari pemain senior. Tim Xaingqi Jambi diharapkan mampu mempertahankan prestasi di Kejurnas XI kali”. Tambah Romy, kita sangat mengharapkan para juri/ wasit dapat netral dalam memimpin pertandingan, jangan berpihak kepada daerah mereka, karena tahun 2010 waktu di DKI juri/ wasit tidak netral.

25 Jun 2011

Openi : Tantangan Pexi Dalam Pembinaan Generasi

Ternyata masih banyak orang beranggapan bahwa permainan catur Xiangqi hanya dimainkan oleh kalangan masyarakat Tionghoa yang usianya telah zuhur, pada hal dalam beberapa tahun ini, Xiangqi (Catur Gajah) telah berkembang pesat disekolah-sekolahan sebagai salah satu mata pelajaran extra kurikuler, tidak saja digemari dikalangan anak-anak Tionghoa melainkan juga digemari warga non Tionghoa.
Pengertia Xiangqi (Baca : Siang=Gajah dan Ci=Catur), merupakan suatu permainan masyarakat awam yang berkembang menjadi sebuah cabang olahraga, khususnya dikalangan warga Tionghoa Indonesia, karena adanya pembatasan pada zaman era Orde Baru, permainan Xiangqi sempat terhenti.

Permainan ini merupakan hasil kaborasi dari jenis permainan catur yang berasal dari Asia Tengah, yang telah berusia lebih dari dua ribu lima ratus tahun, dan dalam penyebarannya ke barat sampai ke daratan Eropa yang dibawa oleh musafir/ saudagar-saudagar kaya ke utara sampai ke daratan Tiongkok, dikedua wilayah masing-masing mengalami perobahan fundamental dan modifikasi dalam bentuk, di Eropa merupa catur biasa (nasional) sedangkan di Tiongkok berupa Xiangqi.

Ditanah air kita Indonesia, jenis permainan Xiangqi tersebut usianya sama tuanya dengan usianya arus kedatangan (migrasi) keturunan Tionghoa pada Abad ke XIV, kini telah terbentuk PEXI di beberapa provinsi, diantaranya pertama berdiri di DKI, menyusul Jatim, Sumut, Kalbar, Jambi, Sumsel, Riau, Babel, Lampung, Jabar, Jateng, Banten dan Bali.

Sejak tahun 2000 hingga kini Xiangqi dipertandingkan setiap tahun dari satu provinsi ke provinsi lainnya secara bergilir “Ini sebagaimana agenda tahunan Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI).” Selain itu salah satu agenda PEXI adalah Rapat Kerja nasional (Rakernas), tujuan Rakernas berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) adalah menyusun program kerja tahuan PEXI, yang terutama adalah pembinaan dan pengembangan Xiangqi dikalangan generasi muda Indonesia.

Namun sangat disayangi, Xiangqi gagal masuk ke jajaran Koni/ Koi, ada indikasi Pengurus Besar Persatuan Xiangqi Indonesia (PB-PEXI) yang hanya diperan oleh satu pihak, tanpa melibatkan pengurus lama yang telah berjuang selama sepuluh tahun di PB Pexi, seolah-olah mereka dibuang, pada hal dalam tubuh PB Pexi mayolitas adalah orang-orang dari Pengprov, yang lebih banyak mengerti Xaingqi daripada dengan obral janji.

Seperti yang disampaikan salah satu pengurus PB Pexi yang dibuang dalam kepengurusan 2009-2013 di jenjang sosial (facebook group Xiangqi), yang diibaratkan Xiangqiku sayang, Xiangqu yang malang.

Jika kita mau jujur, seyogyanya PB Pexi lebih peran aktif dalam pembinaan generasi muda Indonesia, karena kita telah memiliki segudang generasi muda yang berbakat dan berkwalitas, tidak kalah dengan tetangga kita seperti Singapure, Malaysia dan Vietnam.

Namun ambisi para pemain senior-senior lebih mengutamakan diri mereka daripada pembinaan generasi muda, karena mereka anggap generasi muda tidak bakal menguntungkan diri mereka secara pribadi, yang ada dimata mereka adalah meraih hadiah-hadiah yang dalam pertandingkan Xiangqi.