MUARO JAMBI - Tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton di Situs Percandian Muarojambi dikejutkan dengan ditemukannya sepasang Makara atau profil bangunan mirip Arca.
Sepasang Arca ini ditemukan saat pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi bersama timnya yang sedang melaksanakan pengupasan struktur bangunan bata yang selama ini telah dipenuhi lumpur dan tanaman liar.
Menurut Kepala BP3 Jambi, Winston “Pengupasan dan pemugaran sangat diperlukan sebagai upaya untuk penyelamatan peninggalan sejarah peradaban Buddha sejak Abad VII-XIV.”
Candi Kedaton berjarak sekitar 2 kilometer dari kompleks utama situs Muaro Jambi,
Pengupasan di kompleks ini merupakan proyek ketiga. Sejak tahun 2009, BP3 dua kali memugar bangunan induk.
Seluruh rangkaian pengerjaan di kompleks Kedaton ditargetkan selesai empat tahun ke depan.
Struktur bangunan yang berada di sisi utara Candi Kedaton itu diduga merupakan gapura bangunan induk. Ketika pengupasan berlangsung, secara tidak sengaja tim menemukan sebuah benda mirip Arca dari batu sungai (andesit) pada sisi kanan gapura. Setelah pengupasan terus dilakukan hingga memakan hampir 2 jam, baru diketahui benda setinggi 1 meter itu adalah Makara yaitu profil mirip Arca yang lazim dibangun pada gapura.
Meski telah tertimbun tanah selama ratusan tahun, kondisi Makara masih utuh, berukuran tinggi satu meter dan dilengkapi dengan berbagai ukiran menyerupai kepala ular Cobra.
Temuan sepasang Makara dari batuan andesit ini semakin membuktikan bahwa Situs Candi Muarojambi masih banyak tersimpan benda purbakala bernilai sejarah tinggi, maka tak heran kawasan Percandian Muarojambi kini masuk dalam nominasi salah satu warisan dunia oleh Unesco. (rom-nug)
BEBERAPA laki-laki terlihat menggali tanah di halaman Candi Kedaton, di Situs Candi Muaro Jambi, Jumat (25/2) siang. Lubang galian berbentuk kotak dengan kedalaman yang berbeda-beda. Bukan sembarang menggali, karena para pekerja tersebut ternyata sedang melakukan penggalian arkeologi.
Selama penggalian, tim menemukan sesuatu yang baru, yaitu motif ikan dan lingkaran pada bata dalam struktur bangunan. Keduanya masih berada dalam satu kotak galian dan hanya berselisih satu buah bata. Kotak tempat penemuan itu berada di sebelah utara Candi Kedaton.
Menurut ketua tim ekskavasi, Retno Purwanti, temuan motif ikan ini merupakan yang pertama di Jambi. Sebelumnya pernah ditemukan goresan pada batu bata, namun yang berbentuk motif ikan baru pertama kali.
Motif ikan ini, kata Retno, pernah juga ditemukan di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan. "Tapi yang di Bumiayu ditemukan pada reruntuhan, jadi penemuan yang masih pada tempatnya ya di Jambi ini," jelasnya.
Retno mengatakan, bahwa goresan pada bata berbentuk ikan dan lingkaran berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Kemungkinan tempat itu untuk meditasi atau tempat persiapan ritual.
Selain bata bermotif, tim juga menemukan fragmen jari arca. Fragmen ini ditemukan di kotak yang berada di sebelah barat candi Kedaton. Potongan jari arca tersebut berbentuk ibu jari, namun memiliki ukuran lebih besar dari ibu jari manusia dewasa. Panjangnya sekitar 10 centimeter.
Jika melihat ukuran potongan jari itu, dapat diperkirakan bahwa arcanya berukuran lebih besar dari ukuran manusia. Namun, sampai sekarang arca yang dimaksud belum berhasil ditemukan. "Bisa jadi stupa, namun untuk mengambil kesimpulan itu butuh penelitian lebih lanjut," kata Retno.
Tempat ditemukannya fragmen itu berada pada struktur bangunan yang diperkirakan adalah Candi Perwara yang mengapit candi utama. Dari penggalian yang dilakukan, Retno menduga bahwa struktur bangunan itu adalah candi apit seperti yang biasa terdapat di candi-candi di Jawa.
"Ada dua bangunan yang letaknya berada di samping candi utama, jadi kemungkinan ini adalah candi apit," katanya.
Penggalian atau dalam istilah arkeologi dikenal dengan ekskavasi merupakan bagian dari penelitian arkeologi. Kegiatan ini, kata Retno, akan berlangsung selama sepuluh hari dan telah dimulai sejak Sabtu (19/2). Sampai saat ini sudah 19 kotak yang dibuka dengan ukuran bervariasi antara 2x2 meter hinga 2x4 meter.
"Penggalian ini adalah program dari Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan BP3 Jambi," ucapnya pada Tribun. Ekskavasi dilakukan untuk meneliti fungsi halaman candi Kedaton. "Candi Kedaton memiliki 11 halaman yang mengelilingi candi utama," katanya.
Dari kesimpulan sementara, ucap Retno, halaman Candi Kedaton digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara. "Halaman candi digunakan untuk ritual keagamaan, baik meditasi maupun upacara," ucapnya. (kurnia prastowo adi)